Saturday, July 6, 2013

Cerita Musim Panas #1: G-DRAGON 1st WORLD TOUR "ONE OF A KIND" 2013 (part 1)

Musim panas bagi gue diawali dengan kejayaan. Deadline terakhir tugas jatuh pada tanggal 14 Juni, sedangkan tanggal 15-nya gue datang ke konser G-Dragon. Bagi jiwa fangirl gue yang sudah merongrong dari kali pertama G-Dragon mengumumkan akan solo tour, kesempatan ini adalah pemuas dahaga batin!

Kesempatan itu datang hanya h-2 sebelum konser yang bertajuk G-DRAGON 2013 WORLD TOUR [ONE OF A KIND] diadakan. Tepatnya, saat gue sedang berkutat dengan tugas akhir kelas Penulisan Kreatif Jurnalistik di kosan, sore hari bersama Ruth. Awalnya, gue sudah tidak berani berharap bisa datang karena sebenarnya uang gue juga sudah banyak terpakai untuk kegiatan-kegiatan di semester enam yang luar biasa menguras mental, fisik, dan finansial. Apalagi, gue tidak mengikuti perkembangan persiapan konser karena takut sakit hati.

Sore itu, mendadak gue iseng bertanya pada Iche (teman sesama HOTTEST yang belum pernah gue temui sampai saat itu) apa dia jadi datang ke konser GD. Kami sempat berencana membeli tiket dari calo kalau memang tidak punya uang untuk membeli tiket online.

Iche    : Aku nggak jadi nonton, Sekar, tapi aku ada tiketnya. Mau beli?

Gue    : Wah, mau dong!

Iche    : Tapi aku adanya tiket blue, aku jual Rp500.000 mau nggak?


Mendengar itu, gue langsung meng-google di mana sebenarnya letak seat Blue. Ternyata, itu di tribun. Cukup jauh dari stage. Setelah ditimbang untung dan ruginya dengan Ruth, gue putuskan untuk nekat membeli tiket itu setelah minta pengurangan harga jadi Rp450.000. Paling tidak, gue ada kesempatan melihat GD live! Urusan posisinya dimana, belakangan.

Dua hari kemudian, gue sudah siap dengan uang tunai dan merasa sangat bersemangat. Saat itu ada berita bahwa ada banjir rob di daerah Ancol, padahal konsernya diadakan di Mata Elang International Stadium, Ancol. Bokap sudah menelepon dan menyuruh gue membatalkan rencana yang sudah gue susun dengan baik-baik itu, bahkan sampai mengirimkan berita-berita buruk via BBM tentang bagaimana tidak ada jalan ke arah Ancol.

Jadilah gue sangat grumpy! Karena sifat yang suka ngotot, gue memutuskan kalau tidak ada berita pembatalan konser, gue akan tetap berangkat.

Akhirnya, gue benar-benar tetap berangkat. Benar-benar sendirian untuk pertama kalinya tanpa ada janji untuk bertemu di venue konser. Benar-benar sendirian juga berangkat ke MEIS. Selama perjalanan, gue memutuskan untuk tidak memikirkan hambatan-hambatan yang mungkin muncul. Pokoknya, pikiran gue difokuskan pada konser dan segala kesenangan yang akan diberikannya.

Gue bertemu Yoha di Stasiun UI, sama-sama akan naik kereta yang menuju Kota Tua. Jadi, gue dapat teman bicara selama di kereta. Kami berpisah di Stasiun Sawah Besar. Yoha turun, sementara gue lanjut terus ke Kota Tua.

Dari Kota Tua, gue naik M15 menuju Pintu Ancol. Setibanya di Pintu Ancol, gue sudah merasa aman. Memang sih, ini masih Jakarta, jadi seharusnya gue merasa aman-aman saja. Tapi, tetap saja perasaan lega yang datang setelah menginjakkan kaki di Ancol nggak ada yang ngalahin!

Menurut petugas di Ancol, untuk mencapai MEIS, gue bisa naik Bus Wara-Wiri. Jadi, gue menunggu di halte bersama tiga orang cewek lain. "Nonton konser GD juga ya?" tanya gue setelah menelan semua gengsi. "Iya, kamu sendirian?" adalah balasan dari mereka. Kemudian, gue merasa excited sendiri.

Nonton sendirian memang seru, tapi tetap saja, nothing feels like finding someone to share your happiness! :) Mereka adalah Eta, Wika, dan Ade. Semua sama-sama sedang semester enam, hanya beda-beda kampus.

With Eta
Setelah sampai di MEIS, gue mencari Iche untuk membeli tiketnya. Kami sempat berusaha untuk tukar-tambah 'tiket Blue' itu dengan tiket Festival, karena tiket Festival berarti bisa berdiri dekat dengan stage GD. Tapi, harga yang ditawarkan calo terlalu tinggi sementara kondisi keuangan gue tidak memadai.

Iche pulang tidak lama kemudian, jadi gue kembali mencari Eta, Wika, dan Ade. Setelah menemukan mereka, gue memperlihatkan tiket yang gue dapat dari Iche. Tiket itu bertuliskan FESTIVAL-B.



"Itu tiket Festival!" kata Wika.

Mereka kemudian menunjukkan tiket seat Red mereka. RED-(nomor seat). Terpikir oleh gue bahwa kalau tiket itu memang tiket Blue, pastilah tulisannya BLUE-(nomor seat). Gue senang mendadak, tapi masih belum berani berharap.


Jadi, gue datangi booth tiket dan menunjukkan tiket gue.

"Iya! Itu tiket Festival!" teriak salah satu petugasnya di antara hiruk-pikuk penggembira konser.

Kemudian....

Gue merasa seperti Tuhan sedang membanjiri gue dengan hadiah.

And nothing else seemed matter. :)

Dapat tiket Festival hanya dengan mengeluarkan uang Rp450.000? Good God! Gue pengin jingkrak-jingkrak rasanya. ^_^

Selama menunggu hingga Open Gate, gue berkenalan dengan satu orang lagi. Kalau tidak salah, namanya Astrid. Alumni FE 2004. Teman kakaknya Nirma. Dunia sungguh sempit, hahaha. Gue juga membeli bando dengan hiasan berbentuk siluet apel, lambang G-Dragon pada masa album "Heartbreaker" (2009), dan satu lagi berhiasan mahkota yang dibuat dari kain flanel, lambang VIP, bertuliskan GD.

Open Gate dilakukan sekitar pukul 18.30 WIB. Rombongan fast track masuk duluan (sebuah privilege dari keluarnya uang lebih banyak--andai gue punya duit lebih mungkin gue juga akan beli fast track itu). Kemudian, rombongan lain menyusul.

Kami bisa masuk ke stadium kira-kira pukul 19.30. Entah bagaimana, stadium masih sepi sehingga gue bisa berada benar-benar di pagar samping stage. Bahagia. Bahkan dengan bolehnya kaum fast track masuk duluan, gue masih bisa sedekat itu. Nyahaha~

Kami dihibur dengan tayangan MV single-single G-Dragon. Kemudian, sekitar pukul setengah sembilan...

Friday, July 5, 2013

Just Saying

I keep telling myself not to be carried away by my thoughts and assumptions, but it's still hard not to be.

Words I Cannot Take Back

Perasaan itu datang.

Sudah lama ia mengintip dari balik sudut-sudut tempatmu berada, hanya untuk menyergap secara tiba-tiba. Kemudian, saat ia hinggap, kamu kehilangan kuasa atas dirimu.

* * *

Dalam jangka waktu kurang dari seminggu, sudah dua kali saya mengucapkan hal-hal berpotensi disesali yang tidak bisa ditarik kembali.

Yang pertama, perasaan itu terlalu jauh mendahului otak dan logika saya. Ia berhasil menemukan bentuk dalam sebaris kalimat. Ditujukan kepada sesosok manusia yang menjadi penyebab semua ini. Didengar olehnya dan manusia-manusia lain yang tidak ada hubungannya. Beruntunglah konteks situasi tidak sedang serius.

Yang kedua, perasaan itu telah bernegosiasi dengan pihak otak. Setelah proses negosiasi yang mengambil waktu hampir tujuh belas jam, saya mengiyakan perasaan itu dibagi kepada seorang perempuan. Seorang perempuan yang sebenarnya saya curigai menyimpan hati terhadap sesosok manusia yang sama. Lalu... ibarat Amerika, saya menjatuhkan nuklir terlebih dahulu.

* * *

Dan saya bisa saja menyesalkan kata-kata yang tidak bisa saya tarik kembali, saya hapus, dan lupakan.

Tapi saya tidak hidup untuk itu.

Thursday, June 27, 2013

A Uniquely Entertaining Dream

I have always been strongly influenced by the dreams I had. There were dreams of happiness (usually when I finally establish a loving relationship with my crushes), dreams of sadness (of a death of a family member, more often than not), dreams of adventure (yep, I still have them), and so on and so forth. Lately I have waken up not remembering any of the dreams I had for I have been having this habit of sleeping too lately and too long, thanks to holiday. But this morning, I forced myself to wake up and found myself feeling weirdly entertained by a dream I had last night.

It was about my high school lover. And just like any other high school lover, he's hardly forgotten. He left a very strong impression, equally bad and good. Recalling the memory from our days is aggravating. I had been freed from the pain since I very rarely dream about him (unlike my latest crush who seems to have a habit of visiting me in my sleep).

Well, this dream I had last night pictured us not in a loving and caring mode. The time frame must be of today, because my feelings were portrayed exactly the same as they would be today. You see... we were supposed to be attending this event, this campus seminar. Not together, but our campus joined the seminar separately.

I had known he would be there; he was supposed to be there. Had there been someone to fear our meeting, that had usually been me. Since I didn't feel any kind of fear, I assumed we would meet up there casually. You know, accidentally meet up when we were with our friends...

...but something like that did not happen.

What happens were odd. But it was, in a way, nice.

So, imagine how would you feel if you received a text, angry-toned, telling you that s/he would not come if you came. If you favor the person, surely you would feel awful. If you don't, well, that's their problem. In this dream, I feel like laughing my life out. It was so funny and pitiful (of him). I wondered what happened to him.

Then I heard whispers.

His friends whispered ugly things about me; saying it was because of me that he was sent to the institution where disturbed people take shelter. Out of curiosity, I asked them. And they told me the whole story: that he could not bear being left and alone... and that he hated me with hatred that turned his life to gall (yeah, I quoted the Wuthering Heights), and that had turned him into a disturbed man.

When I woke up, it was hilarious and stupid at the same time. You see, a part of me might have wanted this to happen: to be the one responsible for his happiness and sorrow. So strong does this feeling set in me that I dreamed of it. It must be exactly what happens because I don't believe in dreams as sign.

Well, be it true or not, one thing for sure: I had fun. ;)

Sunday, June 16, 2013

Dreams do come true


So...
This is how it feels to watch something you like at the time you like it the most, eh? :3

God was with me all the time yesterday~! With the turned-out-to-be Festival ticket, I could stand right next to the stage and be THIS close to G-Dragon! <3

Saturday, June 8, 2013

(REVIEW) "Reluctant Fundamentalist": Facts Flooring



Terrorism has been very closely related to Muslim, at least in the United States post-9/11 living hell. Books, articles, songs, and even movies have taken their part in recording and repackaging the tragedy... with one of the most well-known: "My Name Is Khan", starring Shahrukh Khan. Some still think terrorism is Islam, while others start to reconsider their thought.

"Reluctant Fundamentalist" (2013) is another movie bringing up the issue of terrorism. However, instead of focusing on who's to blame, this extraordinary movie flashes the spotlight on both sides of coin. Adapted from Mohsin Hamid's novel under the same title, the story revolves around a man named Changez Khan, pre- and post-9/11.

As the movie's played, you will find your thoughts swayed between blaming the Pakistanis or judging the Americans. Changez was a rising star in his American company before the WTC bombing occurred. Following the event are drastic changes in Changez' life. There are scenes where Changez seems so unfairly judged just because he looks like a part of the supposedly terrorist's racial clan. Other scenes, however, show how rough the Pakistanis can be for receiving poor treatment from their fellow Americans. This, especially, is shown by Changez' change of behavior.

Overall, this movie talks about how an event which, at first, believed irrelevant can really turn one's life upside down. Then, there is also a talk about identity. Indeed, Changez has his life turned upside down just because he comes from the same race with the terrorists. Too bad, no matter how hard he tries to show his colleagues that not all of them Arabs are ruthless, people already distant themselves from Changez.

"Reluctant Fundamentalist" is one of the successful movie to be wishy-washily neutral. It can be confusing more often than not, but it surely is great. This movie surely deserves to be glorified. Be them facts or fiction, this movie has shown the 'truth' of the 9/11 effect without preferring any sides. So, folks, stop whatever it is you're doing right now and go grab your copy to see how Changez deals with things!

(Courtesy of image: Google)

Thursday, June 6, 2013

:)

Love... can be beautiful.

It can be harsh, sometimes. Especially if all you can do is yelling at each other.

It can be bitter when you argue all the time.

It can be difficult, knowing what you think is best turns out to tear you apart.

But love can be beautiful.

When the memories you recall make you smile, it's sweet.

When you catch me staring at you, it's bubbly.

And when both of you lie at night, thinking about each other even though you're apart...

it's beautiful.