Showing posts with label musim panas. Show all posts
Showing posts with label musim panas. Show all posts

Thursday, August 13, 2015

Cerita Musim Panas #4: Singapura! DAY ONE

"The world is a book, and those who do not travel read only one page." (Augustine of Hippo)
Sebagai pecinta buku dan pecinta kutipan-kutipan mengenai buku, gue pernah merasa kesal membaca kutipan di atas karena belum pernah traveling. Saat itu gue berpikir tidak akan bisa traveling. Gue selalu sulit mendapat izin orang tua. Namun, seiring pertambahan usia, gue akhirnya mendapat izin untuk bepergian dan berangkatlah gue ke Singapura.

Gue tahu, Singapura bukan lagi tujuan asing bagi sebagian besar orang Indonesia (dan mungkin juga sebagian besar masyarakat dunia). Siapa yang tidak kenal Orchard Road dan Little India? Siapa tidak pernah mendengar tentang Patung Merlion? Sedikitnya, orang pasti pernah ke Singapura minimal satu kali. Bahkan bagi gue, perjalanan kemarin ini bukan yang pertama kalinya. Dulu, meski hanya setengah hari, gue sudah pernah merasakan makan di Little India dan mengunjungi Jurong Bird Park.

Meski begitu, perjalanan kemarin adalah kali pertama gue benar-benar berkeliling Singapura.

Hari 1: 2 Agustus 2015
Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 11.20. Karena Singapura tidak terlalu jauh, perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Di pesawat, tempat duduk kami terpisah. Dua teman gue duduk bersama, sedangkan gue duduk di sebelah seorang nenek yang berasal dari Cibinong.

Seperti biasa kalau suasana hati gue sedang baik, gue bersedia bercakap-cakap (bahkan memulai percakapan) dengan orang asing. Begitu juga yang terjadi dengan si nenek ini. Beliau bercerita tentang tujuannya pergi ke Singapura, yaitu untuk mengunjungi besannya. Katanya, karena disibukkan dengan toko di Cibinong, mereka baru sempat pergi ke Singapura hari itu untuk halal bi halal. Awalnya gue pikir, langka sekali ada keluarga Muslim di Sngapura. Namun, ternyata memang begitu adanya (yang berarti pemikiran gue didasari oleh prasangka semata), dan justru (ini yang menarik) keluarga si nenek sebenarnya Katolik. Anak perempuannya menjadi mualaf setelah bertemu dengan suaminya. Kenapa menarik? Karena setahu gue, pemeluk agama Katolik sama taatnya dengan pemeluk agama Islam sehingga sulit dibayangkan bisa ada yang pindah agama. Tapi, begitulah adanya, dan itu membuktikan kepada saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. 

Sang nenek sangatlah baik. Beliau menawarkan gue makanan, yang jelas gue terima dengan senang hati karena gue memang lapar pada saat itu. Kemudian, saat gue kebingungan mengisi formulir imigrasi (karena itu adalah saat pertama bagi gue), beliau bahkan menawarkan formulir imigrasi anaknya untuk gue lihat sebagai contoh. Beliau bercerita bahwa dulu beliau pun sering bepergian bersama teman-teman ke luar negeri, tapi itu sudah lama sekali ketika masih muda. Sekarang, beliau sudah lupa cara mengisi formulir imigrasi. Gue menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan beliau.

Sesampainya di Singapura, gue dan kedua teman langsung menuju tempat pembelian tourist pass agar kami bisa menggunakan transportasi umum Singapura seperti MRT. Kami membaca di blog seorang traveler bahwa tourist pass cukup memudahkan (dan memurahkan) turis untuk berkeliling Singapura. Untuk tiga hari, harganya dua puluh dolar Singapura. Untuk tiketnya sendiri seharga sepuluh dolar Singapura, menjadikannya total 30 SGD, tapi tiket itu bisa diuangkan kembali setelah tiga hari. Hal itu bagus karena bisa dijadikan uang pegangan. Kita akan masih punya 10 SGD saat pulang nanti.

Setelah membeli tourist pass, kami segera bergerak menuju halte MRT Lavender, karena penginapan kami berada di sekitar situ. Kami berencana untuk menaruh barang, lalu segera pergi. Karena kami hanya punya waktu tiga hari di Singapura, kami harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

Nama penginapan kami adalah Gusti Bed and Breakfast. Pemiliknya bisa berbahasa Indonesia (dan menurut salah satu teman, di daerah itu memang ada banyak orang Indonesia), dan konon suaminya orang Bali. Namun, gue tidak bertanya-tanya lebih lanjut mengenai ini.

Satu hal yang menarik dari penginapan itu adalah dia berfungsi sebagai shared room. Artinya, nanti kami akan berbagi kamar dengan turis-turis lain, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Laki-laki ataupun perempuan akan ditempatkan seadanya kamar kosong, yang berarti kami tidak bisa terlalu pilih-pilih. Awalnya, gue khawatir dengan keamanannya. Tapi, prospek bertemu traveler lain terlalu menyenangkan untuk diabaikan.

Saat kami tiba di sana, kamar kami kosong. Hanya ada sebuah koper dengan name tag yang menunjukkan nama yang sangat Indonesia. Kebetulan juga, kata si pemilik, hanya ada perempuan di kamar kami. Kami meletakkan barang-barang, kemudian segera pergi untuk petualangan pertama kami.

Makan di Little India
Menurut Google, ada Festival Makanan Singapura hari itu. Karena kami bingung mau makan apa dan festival makanan terdengar menarik, kami memutuskan akan mengunjungi festival itu terlebih dulu. Namun, di Google, tidak ada lokasi jelas mengenai keberadaan si festival. Kami bertanya pada pemilik penginapan, katanya terletak di seberang Bugis Junction. Itulah alasan Bugis Street jadi tempat pertama yang kami kunjungi.

Namun, saat kami tiba di Bugis Street, tidak terlihat adanya festival makanan. Kami memutuskan untuk bertanya pada salesperson yang sedang membagi-bagikan pamflet di depan Bugis Junction. Dia sangat baik; dia tidak tahu juga tentang lokasinya, tapi dia berusaha mencarikan di internet. Sayangnya, tidak ada petunjuk jelas mengenai si festival. Hingga hari ini, kami masih bingung festival itu ada di mana.

Karena lapar, kami akhirnya memutuskan makan yang paling aman kehalalannya, yaitu restoran vegetarian di Little India. Kami dipandu ke sana oleh seorang guru seni yang kami temui di jalan. Fara yang bertanya padanya. Dia merekomendasikan restoran Komala Villas. Jadilah, makanan pertama kami di Singapura adalah makanan India.

Chappati plate dan set nasi biryani



Meski kurang cocok di lidah gue, sehingga gue tidak bisa makan terlalu banyak, gue mau makan makanan India lagi dan lagi. Ini kedua kalinya gue makan set nasi biryani; yang pertama di restoran India vegetarian yang terletak tidak jauh dari Komala Villas, yaitu Ananda Bhavan. Rasanya kurang lebih sama.

Kesan gue saat berada di Little India adalah bahwa tempat itu sangat ramai. Gue tidak tahu seperti apa aslinya rupa kota di India, tapi Little India sendiri jelas berbeda dari tempat-tempat lain di Singapura yang nanti satu per satu akan gue ceritakan. Di Little India, pasar segar - atau kios-kios yang menjual buah, paling tidak - cukup banyak terlihat. Kemudian, banyak penjual gelang-gelang manik-manik. Lalu, ada wangi dupa atau semacamnya (?) yang cukup kentara di tiap toko yang kami kunjungi.

Laser Show @ Marina Bay Sands
Kami tidak menghabiskan banyak waktu di Little India karena konon ada pertunjukkan laser di Marina Bay Sands. Jadi, kami naik MRT ke sana. Kendaraan umum di Singapura, jika dibandingkan dengan di Indonesia, jauh sekali bedanya. Di sana, kendaraan umum memfasilitasi warga lokal maupun turis dengan  sangat baik. Petunjuknya jelas dan mudah dimengerti. Kita hanya perlu membaca. Ditambah lagi, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa dominan di sana sehingga untuk menanyakan arah bisa lebih mudah. Warga Singapura pun, mungkin karena Singapura adalah negara yang banyak dikunjungi, terbuka terhadap turis dan sangat membantu.

Pokoknya, malam itu, dengan mudah kami mencapai Marina Bay Sands. Dari stasiun MRT ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki. Menurut gue, jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan di sana rapi dan lebih kosong daripada jalanan Jakarta, jadi kondisi untuk jalan kaki pun lebih nyaman.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh gemerlap lampu hias tersebar di seluruh area. Ada patung-patung angka yang menunjukkan pertumbuhan negara Singapura. Ada musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional China. Ada bangku-bangku santai tempat berbaring menikmati sungai (atau laut?) di malam hari yang dikelilingi lampu-lampu bangunan pencakar langit Singapura.






Suasana seperti itu saja sudah indah buat gue, meski terlalu romantis untuk dinikmati bersama teman-teman sesama jomblo, tapi pertunjukkan lasernya jauh lebih indah. Luar biasa!

Anyway, kami harus segera pulang karena takut ketinggalan MRT terakhir. Jadilah kami tidak menonton pertunjukkan lasernya hingga akhir. Sebelum pulang, kami sempatkan mengejar foto dengan bianglala dan Esplanade yang terlihat seperti durian raksasa dari kejauhan. Mungkin karena capek setelah seharian bergerak nonstop, gue sedikit sebal karena sedikit-sedikit harus foto. Gue yang tidak suka durian jadi semakin sebal dengan durian karena seseorang memastikan dirinya foto dengan Esplanade sebagai latar dari berbagai sisi. Tapi, ini baru setengah hari pertama. Buat apa bersungut-sungut karena itu?

Teman-teman seperjalanan gue mengeluh kaki mereka sakit karena alas kaki yang mereka gunakan kurang memadai dari segi kenyamanan. Tapi, apa daya, kami harus berjalan agar sampai ke penginapan. Meski pelan-pelan, akhirnya kami tiba di stasiun MRT dan kemudian naik MRT sampai di Stasiun Lavender yang berada di dekat penginapan. Dari sana, kami jalan lagi ke penginapan.

First Roommates
Kami bertanya-tanya siapa yang akan jadi teman sekamar kami. Jelas sekali orang Indonesia, tapi orang yang seperti apa? Saat kami tiba di kamar, ternyata mereka adalah cewek-cewek seusia kami. Awalnya, kami merasa senang karena teman seusia berarti teman. Namun, setelah mengamati, mereka ini ternyata semacam snob. Tanpa maksud mendiskreditkan anak-anak gaul, karena gaul itu boleh saja dan malah keren di saat-saat tertentu, di mata gue saat itu, mereka ini cuma tahu gaul. Sedikit bodoh dan jelas ignorant meski katanya mereka lulusan universitas ternama.

Bagi gue, shared room berarti kita harus berinteraksi dengan penghuni kamar selain kita. Buat apa pilih shared room kalau kita mau memperlakukan kamar seolah itu hanya dihuni oleh kita dan teman-teman kita? Shared room tidak seperti kendaraan umum di mana kita bisa duduk tanpa menyapa kanan-kiri. Kalau mau begitu, ada baiknya silakan saja menyewa kamar pribadi.

Tapi, karena memiliki pendapat berbeda itu sah-sah saja, jadi gue harus memaklumi mereka yang kelihatannya memiliki pendapat berbeda ini. Sebelumnya, dari mana gue tahu mereka punya pendapat berbeda? Alkisah, di kamar itu ada penghuni lain seperti mereka, yaitu seorang bapak yang tidak kelihatan rupanya karena konon pergi dari pagi hingga larut malam.  Sepertinya ada kesalahpahaman antara pemilik penginapan dengan si bapak, karena pemilik penginapan memberikan tempat tidur si bapak untuk gue. Jadilah gue bertanya-tanya pada cewek-cewek ini tentang teman sekamar mereka. Ternyata, cewek-cewek ini tidak tahu-menahu tentang si bapak.

Ada hal yang lucu tentang ini. Cewek-cewek itu bilang mereka suka menggosipkan si bapak yang konon mengorok dengan keras. Gue diam saja karena gue saat itu sedang dalam mode pengamatan; gue belum tahu kisah mereka. Lalu, karena gue perlu berinteraksi dengan si bapak mengenai masalah tempat tidur itu, gue mengajaknya ngobrol. Awalnya, dalam bahasa Inggris. Kemudian, dalam bahasa Indonesia. Ternyata si bapak adalah orang Indonesia! Gue berpikir, bagaimana perasaan cewek-cewek itu begitu tahu si bapak orang Indonesia.

Hal lucu kedua tentang gosip cewek-cewek itu adalah karena ternyata dua dari mereka mengorok dengan jauh lebih keras daripada si bapak. Mereka itu sekumpulan lelucon.

Kekesalan gue terhadap cewek-cewek itu didasari oleh kesan tidak sopan yang mereka tampilkan. Tanpa izin, mereka memakai extension colokan yang ada di kamar. Kami pikir itu punya mereka, mereka pikir itu punya kami. Ternyata itu punya si bapak. Kalau mereka sopan, tentu mereka akan meminta izin dulu kepada kami kalau mereka benar berpikir itu punya kami. Sekarang, itu ternyata punya si bapak, dan bahkan setelah mereka tahu, mereka bersikap seolah mereka tidak mendengar. Bicaranya, sih, mau belanja di Sephora, mau naik taksi ke sana dan ke sini, pamer ini-itu ke sosial media... tapi dengan sopan-santun minus seperti itu, kalau gue jadi mereka, gue akan malu.

Ditambah lagi, mereka sangat menyebalkan soal miskomunikasi tempat tidur itu. Tipikal orang yang hanya banyak bicara tanpa memberikan solusi. Tapi, sungguh, kekesalan gue menguap begitu gue mendengar cewek-cewek itu mengorok dengan keras. Bukan karena mengoroknya, karena semua orang bisa mengorok, gue pun begitu - tapi lebih karena mereka SANGAT termakan omongan sendiri. Sungguh, lain kali gue mungkin lebih baik ikut bergosip dengan mereka tentang mereka sendiri. Betapa lucunya.

Thursday, August 6, 2015

Cerita Musim Panas #3: Kedua Kalinya di Yogyakarta Tahun Ini!

Melanjutkan koleksi cerita musim panas yang sudah gue mulai dari musim panas dua tahun lalu, pada artikel ini gue akan menggunakan Bahasa Indonesia. Lagipula, gue memang agak merindukan bahasa negeri Ibu Pertiwi ini semenjak perjalanan yang akan gue ceritakan nanti pada bagian selanjutnya ;)

Musim panas sepertinya selalu tersenyum pada gue. Tidak hanya dua tahun lalu, pun 2014 musim panas gue dihiasi dengan kegembiraan. Jika pada tahun 2013 musim panas gue dihiasi dengan konser G-Dragon dan perjalanan bersama teman-teman Sastra Inggris ke Pulau Pramuka, pada tahun 2014 musim panas gue diisi oleh kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya - kelulusan yang diperindah juga karena terlaksana bersama sebagian teman-teman terdekat. Kemudian, tentu saja, ada ulang tahun yang selalu menjadi hari bahagia bagi gue. Mungkin bisa dibilang, bagi gue, ulang tahun tidak hanya di tanggal 22, melainkan satu bulan itu.

Tahun 2015 ini, musim panas kembali mengajak gue tersenyum dengan dua perjalanan besar. Yang pertama adalah perjalanan ke Yogya.

Yogyakarta, hingga perjalanan itu dilangsungkan, belum pernah memberikan kenangan yang begitu indah. Bukan karena tempat dan pemandangan yang tidak indah, melainkan karena dengan siapa gue pergi seringkali sangat mempengaruhi suasana hati gue. Sejujurnya, gue sedikit murung karena Yogya seharusnya adalah kota yang menenangkan. Jadi, meski sempat sedikit trauma dan tidak mau kembali ke Yogya untuk waktu lama, gue bertekad akan kembali ke Yogya untuk 'memperbaiki nama Yogya' di hati gue.

Jadilah tawaran Naya untuk menemaninya menemani Bela berlibur gue iyakan.

Kami menghabiskan waktu empat hari di sana, mulai tanggal 27 hingga 30 Juli. Hari pertama, begitu sampai, kami pergi ke hotel dan meletakkan barang. Salah satu dari keuntungan bepergian bersama Naya adalah karena fasilitasnya terjamin. Dulu ketika kami ke Bandung pun begitu.

Setelah bersih-bersih dan sholat, kami melanjutkan perjalanan ke luar. Kami tiba saat hari sudah menjelang malam, jadi waktu kami tidak banyak. Namun, kami memaksimalkan penggunaan waktu itu. Kami coba Gudeg Yu Djum cabang Malioboro yang ternyata kurang begitu terasa bumbunya. Lalu, kami pergi ke Alun-alun Kidul untuk naik becak hias/mobil hias yang terkenal itu.

Becak Hias

Dan yang di bawah ini kami di depan becak hias yang kami kendarai.


Seperti biasa, gue dengan kenafsuan gue segera berhasrat untuk mengitari Alkid sebanyak dua kali, tapi mas penjaga becak langsung menyarankan coba dulu saja sekali, baru nanti putuskan mau lanjut atau tidak. Ternyata gue memang perlu di-rem, karena setelah coba sekali, gue cepat capek.

Malam itu, kami juga ke Pasar Beringharjo karena Fajar titip beli apa saja yang aneh-aneh. Namun, memang, ya, ke Pasar Beringharjo di malam hari perlu pendamping laki-laki. Di sana, penjualnya mayoritas laki-laki, pembelinya juga mayoritas laki-laki. Gue memang jarang digodai karena mungkin mereka tidak berpikir gue terlihat cukup menarik, tapi Naya dan Bela rupanya lumayan dianggap menarik sehingga mereka sering dipanggil-panggil dan digoda-godai. Karena kasihan, akhirnya kami tidak menghabiskan waktu lama di sana.

*

Keesokan harinya, Bela jalan bersama pacarnya, sementara gue dan Naya memutuskan mencoba menaiki TransJogja yang meski menurut beberapa sumber jeleknya minta ampun, ternyata toh baik-baik saja dan enak digunakan. Cukup membantu bagi turis lokal seperti gue dan Naya.

Tujuan pertama kami dengan TransJogja itu adalah Kebon Binatang Gembira Loka. Gue dan Naya yang sebenarnya tidak punya tujuan konkrit akhirnya memutuskan melihat-lihat binatang. Untungnya, setiba kami di sana, Kebon Binatang Gembira Loka lebih memuaskan daripada ekspektasi gue.

Di sana, pengunjung bisa memberi makan burung dan berinteraksi langsung dengan merak yang dilepas begitu saja di taman burung.

Kemudian, mungkin karena kecil dan tidak terlalu banyak pengunjung (yang mungkin juga disebabkan itu hari sekolah), interaksi dengan binatag lebih mudah.


Begitulah hari kami di Gembira Loka. Tempatnya sendiri luas, tetapi masih bisa dikitari dengan jalan kaki saja. Tentu bila dibandingkan dengan Taman Safari, kebon binatang ini jauh lebih kecil ukurannya. Namun, menurut gue, tidak masalah selama pengunjung bisa melihat semuanya.

Keesokan harinya, kami pergi ke Candi Prambanan.


Tidak banyak yang bisa dilihat karena hampir setengah bagian area Candi Prambanan sedang direnovasi. Lalu, karena yang menemani bukanlah seseorang dengan ketertarikan pada situs-situs bersejarah, jadilah gue lebih banyak bengong mencoba menghayati syahdunya Prambanan. Salah juga, sih, karena saat itu di sana ramai dengan turis-turis yang hanya mencari spot-spot foto keren. Gue jadi inget saat-saat ke sana bareng murid-murid SMA yang tertarik dengan sejarah dan menceritakan pada gue sejarah masing-masing candi bak pemandu wisata handal.

Terkadang kangen murid juga ya, ternyata.

Selama di Yogya, kami pergi juga ke Taman Sari dan Kraton, tapi tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan. Meski Yogya masih belum memberikan kenangan yang luar biasa mengesankan, liburan kali ini sudah merupakan kemajuan besar dari kenangan buruk yang diberikan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Memang, dengan siapa kita pergi sangat berpengaruh pada kesan yang kita dapat.

Saat-saat paling membahagiakan bagi gue saat di Yogya adalah di malam terakhir ketika gue berkeliling Malioboro sendirian dan menemukan kedamaian dalam keramaian, kemudian menemukan kegembiraan dalam pertunjukkan seni angklung dan tari di jalanan Malioboro. Rasanya memang seperti itulah Yogyakarta yang seharusnya.

Semoga pada perjalanan ke Yogya selanjutnya, bisa lebih mengesankan!

Sunday, July 7, 2013

Cerita Musim Panas #2: HURA-HURA PRAMUKA IKMI UI 2013 (part 3)

Hari ini adalah hari kepulangan kami. Sedikit sedih mengingatnya, karena sebenarnya gue masih mau berada di sana. Tapi, apa daya, besok gue dan Gevin sudah harus mulai magang.

Karena kapal yang akan membawa kami kembali ke Muara Angke berangkat pukul 07.00 WIB, kami harus bangun pagi. Gue, Gevin, Kak Joni, dan Adit biasa sholat subuh dulu, jadi itu bukan masalah untuk kami. Kami bisa langsung bersiap-siap.

Gevin dan Nilam yang juga bangun lebih awal mandi duluan. Kemudian, Ruth, Nirma, dan gue menyusul. Puas sekali rasanya mandi di saat orang-orang masih tertidur! Tidak ada yang memburu-buru :3 Kemudian, kami mulai membangunkan orang-orang lain.

Cuaca sedikit dingin karena hujan. Jadi, kantuk masih terus menyerang.

Kami duduk di bagian dalam kapal. Gue sedikit kesal karena sebenarnya gue berharap bisa duduk di bagian atas kapal seperti kemarin. Duduk di bagian dalam kapal membuat gue pusing. Ditambah lagi, gue pun bangun dengan kepala yang memang sudah pusing. Tapi, untunglah kami masih bisa melanjutkan tidur di dalam kapal :)

Seperti saat berangkat, kami mampir dulu di Pulau Pari. Kali ini untuk mengangkut beberapa penumpang dari pulau tersebut. Beberapa pendatang baru itu berisik dan ribet sekali mengatur tempat duduk. Mereka juga jorok sekali, menggunakan sendal menginjak tempat kosong yang terciprat air hujan. Padahal mereka melewati kami. Tapi, kantuk yang hinggap membuat gue kembali tertidur. Mungkin kantuk itu juga didukung oleh antimo. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan rute yang sama seperti yang kami ambil saat berangkat.

Perjalanan ke Pulau Pramuka ini memang melelahkan, tapi semua lelah terbayarkan oleh kebahagiaan yang gue dapat! :)

P.S. Gue benar-benar belang saat pulang. Bahkan tanpa sadar gue pulang dengan wajah berminyak dan gosong. Er... benar-benar mencengangkan deh, pokoknya. Tapi, kalau itu harga yang harus dibayar untuk kesenangan semacam ini, gue rela! ^^ I love you, summer! May you stay like this forever. I love You, God :")

Saturday, July 6, 2013

Cerita Musim Panas #2: HURA-HURA PRAMUKA IKMI UI 2013 (part 2)

Day 2.
Yah, eniwei, paginya gue merasa jauh lebih fresh karena tidur tepat waktu. Ditambah lagi, udara dingin yang sangat berbeda dengan malamnya membuat dunia terasa lebih baik. Si biang ribut tidur menggigil di depan wisma, jadi agak kasian juga. Tadinya pengin bales berisik :3 tapi nggak jadi. Gue cuma bangunin dia dan Riki supaya pindah ke dalam. Habisnya, pagi itu memang beda banget suhunya dibanding malamnya. 

Gue, Gevin, dan Ruth melihat pantai di depan wisma dari saat matahari belum muncul hingga ujung pantai bisa terlihat. Kami menemukan ranting yang agaknya cukup besar, jadi kami menulis-nulis di atas pantai. Sejujurnya, itu mimpi gue banget dari dulu pengin sok-sok romantis gitu nulis-nulis di atas pasir. :3
itu gue


Kami berjalan ke arah dermaga lagi karena berharap bisa melihat matahari terbit dengan jelas (soalnya pagi itu agak mendung). Ujung-ujungnya matahari sudah terbit terlalu tinggi, jadi kami kelewatan momen melihatnya terbit. Tapi, kami disambut dengan ketenangan dan keindahan di dermaga :) Pantai dermaga begitu jernih sehingga kami bisa melihat dengan jelas biota bawah laut tanpa perlu snorkeling.

Gue merasa sangat damai karena bisa menjalani pagi dengan tenang, udara bersih, dan pemandangan bawah laut. Melihat air, ikan, dan benda-benda laut lainnya tidak akan pernah membosankan. Mungkin mengantuk sedikit, tapi gue rasa tidurpun gue akan merasa bahagia.
bersama Ruth

bersama Gevin


Kami harus pulang karena sudah waktunya sarapan. Yang lain, yang konon berencana juga untuk melihat matahari terbit, sudah menunggu kami untuk sarapan. ;) Gue berencana pamer apa-apa saja yang kami lihat, tapi Rendy yang sudah terbangun kembali mengomentari cara-cara gue bicara. Jadi, esensi pamernya gagal. :"

Lalu, kami snorkeling betulan! Kalau bisa ber"kyaa" dan "aaak" lagi ala ala konser, gue lakukan saat itu juga! Gue excited banget (lagi) sampai rasanya bahagia sampai ubun-ubun X3

Kali ini, kami dibawa sampai ke tengah laut, sampai bertemu spot di mana ikan-ikan cantik berenang. Di spot pertama, ikan-ikan cantik itu benar-benar ada! :D Good God! Gue membatin kepada Tuhan, "Tuhan, saya memang mencintai daratan dan mall-mall, tapi saya juga mencintai lautan dan kalau memang bisa jadi putri duyung, saya mau jadi putri duyung~" :3 Tuhan, saya cinta semua ciptaan-Mu.

Di spot kedua, gue lebih terkagum-kagum lagi karena di sana adalah sarangnya coral yang luar biasa mempesona. Ada coral yang sangat tipis dan melingkar seperti bunga mawar. Coral-coral itu membentuk semacam taman bunga super luas dan super cantik. :)

Ada kejadian yang cukup membuat jantung berhenti berdetak sepersekian detik di spot pertama, yaitu jatuhnya pipa snorkel gue ke dalam laut. Out of all things, why the pipe? :"( Pipa itu tidak bisa mengambang, dan telat sedikit saja Caca mengambilnya, mungkin gue akan harus mengganti satu set peralatan snorkel itu. Gue menyesali pemakaian pelampung, karena itu lagi-lagi membatasi pergerakan gue. Andai gue tidak menggunakan itu, gue bisa mengambil sendiri snorkel gue. Eniwei, terima kasih, Caca :)

Seorang teman, Fajar, awalnya tidak bisa berenang. Begitu juga Nilam dan Acit. Tapi, Fajar akhirnya bisa berenang setelah terbiasa di laut. Senangnyaaa :D

Setelah puas snorkeling (dan juga karena sudah mau hujan dan semakin banyak orang datang ke spot snorkeling kami), kami melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil yang setia menemani ke Pulau Semak Daun.

Pulau Semak Daun berukuran jauh lebih kecil dari Pulau Pramuka ataupun Pulau Tidung, tapi pantai pasirnya juga jauh lebih mengagumkan. Pasirnya bersih dari sampah maupun ranting, sehingga kami bisa menginjakkan kaki dengan bebas. Airnya pun sangat jernih dan berwarna kehijauan yang sangat cantik.

Gerimis kecil saat kami tiba di sana, jadi kami harus menunggu sebentar sebelum bisa main pasir. Gue merasa sedikit aneh, campuran antara senang dan sedih, mungkin terharu... yang jelas gue jadi merasa harus memisahkan diri. Gevin mengajak gue main pasir di bawah rintik hujan, jadi gue mengiyakan.

Karena hujan semakin deras, kami tetap harus berteduh. Namun, sementara yang lain menunggu redanya hujan di warung kecil di tengah pulau, gue dan Gevin menunggu hujan reda di bawah pepohonan di pantai. Ruth datang tidak lama kemudian, diikuti Rizky, kemudian kami membicarakan tentang hal-hal di malam sebelumnya.

Setelah hujan reda, kami menceburkan diri lagi ke pantai :)

ciwi-ciwi plus Komuk

itu gue lagi
Kebahagiaan mengiringi hari kami, karena kami benar-benar bersenang-senang di pantai itu. Gue dan Komuk berenang ke arah kapal. Keinginan gue untuk berenang terpuaskan (bahkan sudah terbayang untuk berenang lagi di kolam renang nanti kembalinya kami ke kota). Ada ikan-ikan kecil berwarna pasir yang kami temui saat sedang mencari kerang-kerang (tapi tidak ada yang bagus). Kami berusaha menangkap mereka, tapi itu tidak semudah yang terlihat.

Sekembalinya kami ke garis pantai, yang lain sedang mengubur Fajar yang berulang tahun pada tiga hari sebelumnya di dalam pasir. Gue tidak pernah mengubur orang dalam pasir, tapi selalu membayangkan bagaimana melakukannya. Ternyata sensasinya tidak seseru yang gue bayangkan, tapi tetap saja seru. Setelah Fajar, Kami mengubur Rizky yang akan berulang tahun keesokan harinya. :D
supposedly mermaid
supposedly teddy bear

Kami pulang setelah puas bersenang-senang di Pulau Semak Daun, juga karena semakin banyak orang datang. Pantai itu menjadi semakin mirip Ancol minus air kotornya.

Sebelum benar-benar pulang, kami mampir ke penangkaran hiu. Bagus sekali tempat itu untuk para hiu-hiu. Ikan-ikan yang ada di sana juga begitu besar sehingga membuat gue terkagum-kagum. Saat snorkeling, tidak ada ikan-ikan seukuran segitu. Gue tidak yakin harus bersyukur atau menyayangkan. Kalau ada ikan sebesar itu, mungkin gue akan takut juga terkagum-kagum. Yang jelas, gue penasaran.
hiu kecil
Kaki Kak Macel dan Rendy terkena kayu di penangkaran hiu itu, dan mereka sedikit kerepotan mengeluarkannya. Gue, sih, ngilu melihatnya. Kasian tapinyaaaa!
Kak Macel dan Rendy
Hal yang aneh adalah karena meskipun di sana adalah tempat penangkaran hiu, kami lebih tertarik pada bulu babi. Yah, gue sih sebenarnya tertarik sama hiu-nya, tapi lebih tertarik lagi melihat teman-teman yang tertarik pada bulu babi.
kasihan si Bulu Babi
Cowok-cowok, terutama, sepertinya memiliki ambisi untuk melihat seperti apa bulu babi luar-dalam. Mereka menggunakan tongkat panjang untuk mengambil seekor bulu babi, literally torturing it in front of its friends. Bulu-bulu bulu babi yang satu itu sampai patah-patah karena diangkat oleh para cowok. Kemudian, setelah diangkat, bulu babi itu dipecahkan untuk dimakan dalamnya.

Memang sih, bulu babi bisa dimakan... tapi menurut gue tidak seharusnya bulu babi itu disiksa di depan teman-temannya. Kumpulan bulu babi yang lain segera bersembunyi di bawah jembatan kayu, menjauh dari dua tongkat jahat yang membunuh temannya.

Dari semuanya, kejahatan yang paling tidak bisa gue terima adalah cowok-cowok itu membuang kembali cangkang bulu babi yang telah dipecahkan ke antara kumpulan bulu babi yang masih hidup. :(
Setelah adegan sadis itu, kami benar-benar pulang ke wisma.

Malam harinya, setelah makan malam, kami sedikit bosan karena tidak ada kegiatan apa-apa. Bahkan setelah main ramal-ramalan jodoh dengan Rizky, Ruth, Gevin, dan Acit, malam itu masih terasa panjang. Tapi, kemudian para cowok memutuskan untuk main kuda templok.

Kuda templok adalah semacam olahraga beresiko di mana cowok-cowok itu dibagi menjadi dua tim yang saling melompati satu sama lain. Seringkali disebut sebagai mainan SMA karena sebagian besar dari kami memainkannya saat SMA. Gue pun sebenarnya menikmati menonton permainan itu dari awal sampai akhir.
menonton kuda templok, berasa SMA
Gue pengin mendeskripsikan permainan malam itu, tapi akan butuh satu cerita terpisah saking serunya. Hahaha. Poin-poin menarik dari permainan malam itu adalah

1) Teriakan self-hypnosis Kak Macel: "Gue kuaaat!"
2) Seruan tidak bertenaga tapi efektif Komuk: "Mati lu, Cel~"
3) Lompatan-lompatan Rendy yang ala ala akrobatik
4) Ekspresi Fajar yang juara banget kayak udah lemes banget
5) Ucapan Dimas "Gue... Gue siap, gue." yang entah kenapa rasanya epik banget

Kemudian, setelah capek main kuda templok, kami keluar dan menyalakan kembang api. Sebenarnya kembang api itu (setahu gue) ditujukan untuk merayakan ulang tahun Rizky, tengah malam, saat pergantian ke hari terakhir. Hari itulah Rizky berulang tahun. Tapi entah bagaimana, jadinya kembang api dinyalakan sekitar pukul 21.00 WIB.
kembang api yang kami nyalakan sendiri!
Kembang api juga salah satu hal yang gue kagumi. Jadi, selain McFlurry Caramel Crunch, semua kebahagiaan gue dapat ditemukan di HHP ini hahahaha :)

Sebuah berita yang mengkhawatirkan tentang gempa di Aceh datang dari Bonci yang bokapnya sedang bekerja di sana. Jadi, suasana agak sedikit kelam saat itu. Tapi, syukurlah bokap Bonci baik-baik saja :) Semoga situasi yang ada di Aceh akan segera membaik.

Semua tampaknya lelah malam itu, jadi tidurpun dilaksanakan lebih cepat. Paling tidak, gue, Gevin, dan Ruth memutuskan untuk mengabaikan semua bising di sekitar dan tidur duluan. Saat tengah malam gue terbangun, semua orang sudah terlelap dan lampu sudah dimatikan.

Sungguh hari yang sibuk dan malam yang menyenangkan!

[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]

Cerita Musim Panas #2: HURA-HURA PRAMUKA IKMI UI 2013 (part 1)

Nah, setelah cerita tentang G-Dragon 1st Solo World Tour yang penuh kejutan, sekarang waktunya untuk cerita musim panas berikutnya! Tentunya bukan musim panas dong, kalau belum gosong karena senang-senang di pantai berpasir putih yang airnya jernih :) Akhirnya, setelah dua puluh tahun menjalani hidup, seorang Sekar Ayu Melati mengalami musim panas yang sebenarnya di Pulau Pramuka!

Hura-Hura Pramuka (HHP) sudah direncanakan dari berminggu-minggu sebelum fixed. Dari 30 orang pendaftar, di hari-H tinggal 19 orang yang ikut. Banyak alasan yang membatalkan, dari kerja sampe nggak punya duit. :( Sayang sekali, padahal kalau banyak yang ikut bakal seru banget.

Eniwei, keberangkatan untuk HHP akhirnya dilaksanakan pada tanggal 1 Juli. Kami menyambut Juli di Pulau Pramuka! :)

Day 1.
Janjian jam 04.30 WIB, tapi seperti biasa itu hanya wacana. Hahaha. Habisnyaaa, jam 04.30 kan belum subuh. Jadi, gue sholat dulu baru jalan ke Stasiun UI. Ternyata, yang lain kurang-lebih dateng barengan. Cuma Caca yang on time (maaf ya, Caca~).

Setelah semua berkumpul, kami naik kereta tercepat menuju Stasiun Kota Tua (seriously, my summer is filled with trips to Stasiun Kota Tua). Perjalanan memakan waktu kira-kira 3 jam. Di sana, kami bertemu dengan Dani yang sudah menunggu lama.

Dari Kota Tua, kami menyewa angkot ke Pelabuhan Muara Angke. Kapal yang akan membawa kami ke Pulau Pramuka menunggu di sana. Masing-masing orang hanya perlu membayar Rp35.000. Total ongkos adalah Rp70.000 per orang dari Stasiun UI. Semua ongkos kami serahkan ke Gevin yang berperan sebagai bendahara. Dia agaknya 'terkutuk' menjadi bendahara sebagaimana gue 'terkutuk' menjadi sekretaris.

Di kapal, kami duduk di dek belakang, yang artinya kami bisa melihat langsung laut tanpa harus melihat dari jendela. Begitu sampai tengah laut, cukup jauh dari Muara Angke, gue kembali merasakan kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan benar-benar sesederhana melihat birunya lautan.
di kapal saat berangkat
Gue mencintai laut dengan sepenuh jiwa raga, kalau bisa dibilang begitu. ^_^ Melihat laut, rasanya pengin langsung menceburkan diri. Sumpah deh, andai ada stiker macem stiker line dan facebook, gue pasang sekarang jugak. I had been smiling from ear to ear right from the start to the end.

I envy mermaids. Be them a myth or fantasy, they live under the sea.

Perjalanan menuju Pulau Pramuka memakan waktu kurang lebih tiga jam. Kami mampir dulu di Pulau Pari untuk menurunkan sebagian penumpang. Kemudian, setelah sampai di Pulau Pramuka, kami diantar ke wisma di samping penangkaran penyu.

Wisma itu sendiri berukuran cukup besar. Kami disewakan sebagian wisma yang berupa sebuah ruangan besar dengan dua ruangan kecil di dalamnya. Ruangan besar itu berperan sebagai kamar tidur, sedangkan dua ruangan kecil menjadi kamar tas dan kamar ganti. Di bagian belakang kamar, ada empat kamar mandi kecil. Yang satu tidak bisa terpakai, jadi kami bergantian menggunakan yang tiga. Ada juga jemuran besar, jadi kami tidak perlu pusing mencari tempat menjemur pakaian. Kemudian, di dekat wisma ada mushola kecil yang nyaman karena bersih :)

Karena wisma itu sepertinya jarang dipakai, lantainya sangat kotor dan lengket. Ruangan itu juga berdebu dan menjadi sarang nyamuk. Tidak ada udara karena semua jendela tertutup. Jadi, yang pertama kami, para cewek, lakukan adalah membuka semua jendela dan tirai serta menyapu ruangan.
pas baru sampe [foto: Kak Angga]
Setelah loading barang, kami makan siang. Gue, Ruth, Rizky, Nilam, dan Caca menemukan tempat makan bakso ikan yang unik. Berbeda dengan bakso ikan yang biasa ditemukan di kota, bakso ikan di sana bertekstur seperti bakso urat. Bakso itu dipadukan dengan bihun dan sambal hijau. Daripada disebut bakso, mungkin makanan itu lebih mirip tekwan.

Menjelang sore, kami latihan snorkeling! Gue kembali pengin jingkrak-jingkrak karena itu akan jadi kali pertama gue snorkeling :3 Gue juga sedikit khawatir akan reaksi temen-temen pertama kali melihat gue memakai baju renang, karena kerudung di set baju renang itu akan membuat gue terlihat aneh.

Yah, tapi bagaimanapun juga gue harus menggunakan kerudung itu. Jadi, biarpun dibilang seperti ubur-ubur dan dibilang bulet banget, gue tetap berenang-renang dengan senang.

Awalnya, gue panik karena tidak biasa menggunakan pipa snorkel-nya. Gue tidak biasa bernapas dengan mulut. Kemudian, gue juga panik karena tidak bisa menguasai pergerakan akibat menggunakan pelampung yang membuat tubuh gue mengambang di permukaan. Akhirnya, gue lepas pelampung itu dan merasa lebih baik setelahnya.
itu gue lagi pusing sama perlengkapan snorkeling [Foto: Kak Angga]

Bersama Bonci, Riki, Caca, Rizky, Komuk, Fajar, Nilam, Ruth, Acit, Gevin, Rendy, Nirma

Bersama Nirma
Bersama Bonci, Ruth, dan Gevin, gue berenang agak ke tengah laut dan bergosip di sana. Level gosip kami meningkat, kekeke... tapi tidak lama kemudian kami harus pulang.

Badan gue agak capek karena tidak pemanasan sebelum terjun dan juga karena sudah lama tidak berenang. Tapi gue merasa lebih baik setelah pemanasan di wisma.

Malamnya, gue, Rizky, Ruth, Komuk, Adit, dan Gevin pergi ke sisi pantai yang satu lagi. Bukan di dermaganya. Di sana, pantainya dibatasi dengan pagar. Kami bisa duduk di pagar batunya, kemudian bengong-bengong menikmati suasana.

Bintang-bintang terlihat dengan sangat jelas. Banyak sekali dan cantik-cantik sekali, gue sampai mau menangis melihatnya. Kemudian, kami membeli kembang api dan petasan dari toko setempat. Di sana, harganya sangat terjangkau.

Saat waktu tidur tiba, gue berencana tidur tepat waktu agar paginya bisa melihat matahari terbit. Kami sudah melihat matahari terbenam di dermaga dan itu luar biasa cantik, jadi besok adalah waktunya bagi matahari terbit. Tapi, sepertinya yang lain tidak sepikiran. Paling tidak, Rendy tidak sepikiran.

Memang banyak yang berisik, tapi yang luar biasa berisik adalah Rendy dengan nyanyian-nyanyian dan keisengannya. Dia entah kenapa suka banget ganggu Acit, yang berakibat cewek itu juga jadi luar biasa berisik. Ugh. Nyebelin banget pokoknya. Klimaksnya adalah gue menyebut Rendy bacot dan berkata keras padanya. Seriously, that night was upsetting enough with the humid temperature and wild mosquitos. His behavior only made things gone from bad to worse.

[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]

Cerita Musim Panas #1: G-DRAGON 1st WORLD TOUR "ONE OF A KIND" 2013 (part 2)

Pukul setengah sembilan! Waktu yang dijanjikan untuk mulai konser akhirnya tiba! Semua mata sudah tertuju pada kain besar yang menutupi stage. Kemudian... dalam hitungan detik, kain itu terjatuh.

Sebuah mobil putih dengan desain futuristik tampak megah, terutama ditambah dengan efek lighting yang nyaris membutakan mata. Mobil itu sendiri terlihat seperti terdiri dari  potongan es pipih raksasa yang disusun secara acak.

Disanalah bintang malam ini berada.

G-Dragon keluar dari mobil itu dengan luaran panjang berwarna merah menyala, kontras dari mobilnya yang sangat putih. Seiring dengan kemunculannya, tidak, bahkan dari saat kain itu terjatuh, suara VIP Indonesia sudah membahana memekikkan G-Dragon.

Konser dibuka dengan penampilan MichiGO, single terbaru dari GD. Selanjutnya, seperti biasanya pada konser-konser biasanya. Hal heboh lain yang terjadi pada gue malam itu adalah datangnya GD menyanyikan lagu "Missing You" persis di depan stage bagian gue. Dia DUDUK BERSILA, kemudian pindah DUDUK DI TANGGA DI DEPAN PAGAR FESTIVAL-B, dimana gue dengan sangat bahagia bisa mengambil fotonya dengan jelas sejelas yang biasa gue liat di Tumblr atau dimanapun di internet.

"Missing You"
BEST. THING. EVER. <3

Gue ber"Kyaaa!!" dan "Aaakkkk!" dan "GD~!!" dan "KWON JIYONG!" sepanjang konser. Apalagi saat dia duduk di tangga itu. If I were to die that night, I would've been dead happily.

T.O.P datang malam itu sebagai tamu, jadi, seperti yang sudah bisa ditebak mereka menyanyika single-single GD&TOP: "High High" dan "Knock Out". Selain itu, T.O.P juga menyanyikan "Turn It Up". Sumpah, gue mau gila rasanya karena senang sampe ubun-ubun!
GD&TOP
Gue, tentunya, berbahagia dengan orang-orang yang baru saja berkenalan sebelum konser dimulai. Rasanya seperti sudah kenal lama. Gue kayak ketemu komunitas baru. <3

With Mbak Ve, Kak Mel, dan Kak Ajeng
Begitu konser usai, gue tidak langsung kabur dan pulang. Gue sempatkan membeli tas murah merchandise asli dari YG Entertainment bertuliskan "One Of A Kind". Andai gue punya uang banyak~ TT^TT yah, sudahlah.

Things I learned from this concert are: 1. Knowing new people means happiness and 2. Being by yourself create a chance to refresh your life and 3. If you stay focus on your goal, you'll end up reaching it, and last but not least 4. GOD IS GOOD. 

Cerita Musim Panas #1: G-DRAGON 1st WORLD TOUR "ONE OF A KIND" 2013 (part 1)

Musim panas bagi gue diawali dengan kejayaan. Deadline terakhir tugas jatuh pada tanggal 14 Juni, sedangkan tanggal 15-nya gue datang ke konser G-Dragon. Bagi jiwa fangirl gue yang sudah merongrong dari kali pertama G-Dragon mengumumkan akan solo tour, kesempatan ini adalah pemuas dahaga batin!

Kesempatan itu datang hanya h-2 sebelum konser yang bertajuk G-DRAGON 2013 WORLD TOUR [ONE OF A KIND] diadakan. Tepatnya, saat gue sedang berkutat dengan tugas akhir kelas Penulisan Kreatif Jurnalistik di kosan, sore hari bersama Ruth. Awalnya, gue sudah tidak berani berharap bisa datang karena sebenarnya uang gue juga sudah banyak terpakai untuk kegiatan-kegiatan di semester enam yang luar biasa menguras mental, fisik, dan finansial. Apalagi, gue tidak mengikuti perkembangan persiapan konser karena takut sakit hati.

Sore itu, mendadak gue iseng bertanya pada Iche (teman sesama HOTTEST yang belum pernah gue temui sampai saat itu) apa dia jadi datang ke konser GD. Kami sempat berencana membeli tiket dari calo kalau memang tidak punya uang untuk membeli tiket online.

Iche    : Aku nggak jadi nonton, Sekar, tapi aku ada tiketnya. Mau beli?

Gue    : Wah, mau dong!

Iche    : Tapi aku adanya tiket blue, aku jual Rp500.000 mau nggak?


Mendengar itu, gue langsung meng-google di mana sebenarnya letak seat Blue. Ternyata, itu di tribun. Cukup jauh dari stage. Setelah ditimbang untung dan ruginya dengan Ruth, gue putuskan untuk nekat membeli tiket itu setelah minta pengurangan harga jadi Rp450.000. Paling tidak, gue ada kesempatan melihat GD live! Urusan posisinya dimana, belakangan.

Dua hari kemudian, gue sudah siap dengan uang tunai dan merasa sangat bersemangat. Saat itu ada berita bahwa ada banjir rob di daerah Ancol, padahal konsernya diadakan di Mata Elang International Stadium, Ancol. Bokap sudah menelepon dan menyuruh gue membatalkan rencana yang sudah gue susun dengan baik-baik itu, bahkan sampai mengirimkan berita-berita buruk via BBM tentang bagaimana tidak ada jalan ke arah Ancol.

Jadilah gue sangat grumpy! Karena sifat yang suka ngotot, gue memutuskan kalau tidak ada berita pembatalan konser, gue akan tetap berangkat.

Akhirnya, gue benar-benar tetap berangkat. Benar-benar sendirian untuk pertama kalinya tanpa ada janji untuk bertemu di venue konser. Benar-benar sendirian juga berangkat ke MEIS. Selama perjalanan, gue memutuskan untuk tidak memikirkan hambatan-hambatan yang mungkin muncul. Pokoknya, pikiran gue difokuskan pada konser dan segala kesenangan yang akan diberikannya.

Gue bertemu Yoha di Stasiun UI, sama-sama akan naik kereta yang menuju Kota Tua. Jadi, gue dapat teman bicara selama di kereta. Kami berpisah di Stasiun Sawah Besar. Yoha turun, sementara gue lanjut terus ke Kota Tua.

Dari Kota Tua, gue naik M15 menuju Pintu Ancol. Setibanya di Pintu Ancol, gue sudah merasa aman. Memang sih, ini masih Jakarta, jadi seharusnya gue merasa aman-aman saja. Tapi, tetap saja perasaan lega yang datang setelah menginjakkan kaki di Ancol nggak ada yang ngalahin!

Menurut petugas di Ancol, untuk mencapai MEIS, gue bisa naik Bus Wara-Wiri. Jadi, gue menunggu di halte bersama tiga orang cewek lain. "Nonton konser GD juga ya?" tanya gue setelah menelan semua gengsi. "Iya, kamu sendirian?" adalah balasan dari mereka. Kemudian, gue merasa excited sendiri.

Nonton sendirian memang seru, tapi tetap saja, nothing feels like finding someone to share your happiness! :) Mereka adalah Eta, Wika, dan Ade. Semua sama-sama sedang semester enam, hanya beda-beda kampus.

With Eta
Setelah sampai di MEIS, gue mencari Iche untuk membeli tiketnya. Kami sempat berusaha untuk tukar-tambah 'tiket Blue' itu dengan tiket Festival, karena tiket Festival berarti bisa berdiri dekat dengan stage GD. Tapi, harga yang ditawarkan calo terlalu tinggi sementara kondisi keuangan gue tidak memadai.

Iche pulang tidak lama kemudian, jadi gue kembali mencari Eta, Wika, dan Ade. Setelah menemukan mereka, gue memperlihatkan tiket yang gue dapat dari Iche. Tiket itu bertuliskan FESTIVAL-B.



"Itu tiket Festival!" kata Wika.

Mereka kemudian menunjukkan tiket seat Red mereka. RED-(nomor seat). Terpikir oleh gue bahwa kalau tiket itu memang tiket Blue, pastilah tulisannya BLUE-(nomor seat). Gue senang mendadak, tapi masih belum berani berharap.


Jadi, gue datangi booth tiket dan menunjukkan tiket gue.

"Iya! Itu tiket Festival!" teriak salah satu petugasnya di antara hiruk-pikuk penggembira konser.

Kemudian....

Gue merasa seperti Tuhan sedang membanjiri gue dengan hadiah.

And nothing else seemed matter. :)

Dapat tiket Festival hanya dengan mengeluarkan uang Rp450.000? Good God! Gue pengin jingkrak-jingkrak rasanya. ^_^

Selama menunggu hingga Open Gate, gue berkenalan dengan satu orang lagi. Kalau tidak salah, namanya Astrid. Alumni FE 2004. Teman kakaknya Nirma. Dunia sungguh sempit, hahaha. Gue juga membeli bando dengan hiasan berbentuk siluet apel, lambang G-Dragon pada masa album "Heartbreaker" (2009), dan satu lagi berhiasan mahkota yang dibuat dari kain flanel, lambang VIP, bertuliskan GD.

Open Gate dilakukan sekitar pukul 18.30 WIB. Rombongan fast track masuk duluan (sebuah privilege dari keluarnya uang lebih banyak--andai gue punya duit lebih mungkin gue juga akan beli fast track itu). Kemudian, rombongan lain menyusul.

Kami bisa masuk ke stadium kira-kira pukul 19.30. Entah bagaimana, stadium masih sepi sehingga gue bisa berada benar-benar di pagar samping stage. Bahagia. Bahkan dengan bolehnya kaum fast track masuk duluan, gue masih bisa sedekat itu. Nyahaha~

Kami dihibur dengan tayangan MV single-single G-Dragon. Kemudian, sekitar pukul setengah sembilan...