Sunday, May 27, 2012

Di Ujung Pelangi

Kumeniti jalan di atas pelangi
sungguh indah rupanya,
warna-warni terbiaskan cahaya mentari
gumalan awan nan putih cerah adalah tepiannya

Aku bisa melihat tetesan hujan
berkilau bagai berlian
menghiasi hamparan hijau di bawah kakiku
dan aku pun maju tanpa ragu

Dalam anganku, sebuah kastil berdiri di ujung pelangi
gerbang keemasan akan terbuka lebar
penduduk kastil akan menyambut
dan sebuah singgasana akan tersedia

Kumeniti dan kumeniti hingga warnanya memudar
tetesan hujan telah mengering
awan putih telah menggelap
dan kakiku mati rasa

Hampir aku terjatuh
tapi entah untuk alasan apa aku teruskan berjalan
lalu aku tiba
sebuah kastil megah berdiri di ujung pelangi

Tapi,
kastil itu sudah tua
gerbangnya berkarat
penduduknya hanya tersenyum dipaksakan
singgasananya pun terbuat dari plastik

Saat itu aku sadar
Tuhan memberiku pelajaran
untuk bersabar dan berusaha
untuk teguh dan terus berjalan
bukan untuk mendapatkan apa yang aku mau
tapi untuk memperluas kebijaksanaanku

(originally written in May, 2011)

Busy Weekend

This weekend I had to stay at my boarding house to finish the final project for my Literary Criticism class. Duh.. . It's upsetting, really. Thank God, I have a lot of new videos! I can watch them and watch them and watch them once all this over. Yeah!

Another thing to be grateful is that my group members (yeah, the exhausting final project is a group project) are the kind of very-diligent-human-beings. :) It's a relief I don't have to chase after them everytime we are about to discuss the final project. Sigh. . .there are a lot of unfortunate groups like that.

So, even though this weekend is a busy one, let's be thankful! :)

Monday, May 21, 2012

Regrets

Bagaimana kalau ternyata selama ini kalian mendapati diri kalian hidup dalam fantasi?

Saya baru menyadari bahwa tiga tahun saya sia-siakan dalam pengejaran atas seseorang yang bahkan tidak nyata. Mutlak sebuah kebodohan. Bahkan lembaran kertas yang dulu menjadi pengingat manis kenangan di antara kami tidak sanggup mengembalikan "manis"-nya. Yang saya lihat hanya kosong. Bodoh.

Adalah sangat drama queen kalau saya sampai menangisi dan menyesali semuanya hingga berlarut-larut. Sebenarnya mengingat ini lagi setelah lewat berbulan-bulan pun sudah berlebihan. Therefore, I will give myself this one and last chance to relieve myself from everything. After this, no more remembrance of him.

Bohong kalau saya bilang saya tidak menyesali semua yang terjadi di antara kami.
Saya tahu banyak yang bilang mereka tidak menyesali hubungannya di masa lalu. Tapi jelas bukan saya. Klise. Entah memang mereka begitu positif sehingga bisa mengambil pelajaran tanpa membenci, yang jelas saya tidak bisa. Saya sangat menyesali kebodohan yang telah saya lakukan di masa lalu. Bahkan saya tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan cowok itu terhadap saya.

Banyak yang bilang, masa lalu adalah pelajaran.
Untuk saya, masa lalu adalah penyesalan.

Friday, May 18, 2012

5 Jam Bersama Sosiolinguistik!

Yak, jadi ceritanya saya baru saja menghabiskan waktu terlama di depan komputer (dalam rangka tugas). Biasanya sih lima jam hajar aja kalo buat yang lain-lain, hahaha.

Jadi, kenapa saya tumben-tumbenan sekali menghabiskan waktu sampai punggung pegal hanya untuk tugas?

Ceritanya berawal dari adik saya yang alkisah sedang jenuh berat sambil menunggu pengumuman hasil ujiannya (si adik sudah mau kuliah, lho! saya sebagai kakak turut berbahagia :3 ). Sang ayah pun tegang karena si adik ini belum diterima di universitas manapun, ditambah dengan si adik yang begitu misterius sehingga bisa ber-poker face sepanjang waktu. Akhirnya, ketegangan sang ayah dan kejenuhan si adik memuncak sehingga saya dan sang ibu diajak pergi ke Bogor akhir minggu ini.

Karena sialnya saya sedang "bulan UAS" (kenapa bulan UAS? karena memang UAS di semester 4 itu ternyata bukan lagi dilakukan seminggu, tapi sebulan --> final project), sebenarnya saya jadi kebanjiran tugas. Nah, karena si adik dengan penuh cinta tidak mau pergi kalau tidak bersama saya si kakak yang dicintai, terpaksalah saya menyelesaikan makalah sosiolinguistik sebagai final project pertama yang dapat terselesaikan. Padahal, tadinya saya berniat mau malas-malasan di akhir minggu ini.

Yah, begitu saja karena saya sudah harus pergi. Mungkin saya bisa bersantai sejenak di Bogor. :3


Thursday, May 17, 2012

Sebuah Komentar dan Feminisme


Feminisme. Sebuah kata yang umum sekarang ini.
Feminisme erat kaitannya dengan pembedaan gender secara sosial (Budianta, 1998). Artinya pembedaan gender tersebut terkait erat dengan stereotipe masyarakat terhadap kedua jenis gender. Bukan hanya terhadap perempuan.
 “Pendekatan feminis adalah suatu kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadlian dalam pemberian nperan dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin”—Melani  Budianta.
Artinya, feminisme membahas pula tentang kecenderungan patriarki dan falogosentrisme (kecenderungan memakai perspektif laki-laki sebagai acuan untuk memandang kehidupan dan mendefinisikan segala sesuatu). Feminisme juga identik dengan “movement which advocates gender equality and justice”.
*      *     *
Feminisme bertindak sebagai ‘payung’ dalam diskusi kecil saya kali ini. Setelah saya mempelajari semua yang tertulis dalam deskripsi singkat di atas tentang feminisme, tidak terlihat kesan harsh dan arogan perempuan, karena feminisme adalah semata perjuangan untuk mencapai hak-hak yang sama dengan laki-laki. Melihat sejarah feminisme, yang mana pada awalnya adalah di dalam bidang politik (to vote, to own property, to get education), tidak ada yang salah dengan feminisme. Saya belajar semua itu tentang feminisme, tapi pendapat saya tentangnya sedikit rumit. Setelah mempelajari feminisme, khususnya feminisme dalam ranah literatur, saya menyadari bagaimana seringkali perempuan tergambarkan inferior terhadap laki-laki. Saya paham betul bagaimana perempuan seringkali dianggap sebagai objek; sebagai benda, dan bukan sebagai sosok manusia yang setara. 

Saya sadar dan mengerti itu.

FEMINISME DAN AGAMA
Tapi, adalah salah jika feminisme—yang seperti saya tulis, berawal dari konteks politik—memukul rata semua konteks, termasuk konteks agama. Saya beragama Islam, jadi bisa dibilang saya cukup memahami posisi saya sebagai muslimah: jika nanti saya berumah tangga, suami saya nanti adalah imam saya, pemimpin saya. Saya dan teman saya suka berdiskusi mengenai ini. Menurutnya, feminisme dan agama seharusnya dipisah. Apa yang di agama dianggap benar, jika dianalisis menggunakan feminisme tetap saja salah. Namun, menurut saya feminisme dan agama justru seharusnya dilihat secara menyeluruh. Agama adalah satu lingkup yang harus ditoleransi feminisme. Mana yang benar, saya tidak tahu. Mungkin pendapat kami sama-sama benar. Meskipun saya berpendapat begitu, menurut saya adalah salah juga untuk mengambil titik ekstrim dalam lingkup agama.

FEMINISME DAN EMANSIPASI WANITA
Feminisme erat kaitannya juga dengan ‘emansipasi wanita’. Awalnya, frase itu identik dengan perjuangan R. A. Kartini, yang juga melakukan bentuk perjuangan feminisme dengan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki.

Tapi, saat feminisme itu begini


menurut saya, penulis comment ini telah mengambil titik ekstrim dalam lingkup agama. Penulis comment terakhir ini pernah bertanya kepada saya, "Apa arti emansipasi wanita?" Sebuah pertanyaan yang ditanyakan dengan nada angkuh, seolah saya telah membodohi diri saya sendiri dengan menggunakan kata emansipasi wanita. Tapi, sepertinya sekarang ini dia yang perlu ditanyai balik, apa dia tahu apa arti emansipasi wanita? 

Mungkin saja kata "emansipasi wanita" sekarang ini telah mengalami pergeseran konteks. Mungkin kita dari kaum perempuan juga salah mengartikan frase itu untuk 'tameng', pembenaran atas segala tindakan yang kita lakukan. Tapi, apa tidak lebih baik jika penulis comment mempertimbangkan untuk melihat frase tersebut dari segala sisi? Terlebih lagi, dia bersikap judgmental dengan mengecap perempuan yang ingin emansipasi sama dengan tidak ingin dimuliakan.

Seperti yang sudah saya katakan, pendapat saya tentang feminisme rumit. Tapi, bukan berarti saya bisa melewatkan komentar seperti ini begitu saja. Jika memang bisa, saya ingin bertanya langsung, sudahkah dia memahami "emansipasi wanita" yang sebenarnya?

Penulis comment yang sama kembali berkomentar

Pemilihan kata adalah hal yang sangat penting. Itu menggambarkan pemikiran penulis. Bukan hanya dalam kasus ini, tapi juga dalam kasus-kasus lainnya. Memang selalu begitu. 

Pemilihan kata penulis comment "apalagi kecurangan itu dilakukan oleh para wanita" perlu digarisbawahi. Saya tidak pandai menjelaskan, tapi izinkan saya bertanya "Memangnya kenapa kalau itu dilakukan wanita? Berbeda-kah kadar keburukannya jika itu dilakukan pria? Apa suatu kecurangan boleh-boleh saja dilakukan pria?" 

Yah....
Saya memiliki pandangan yang rumit terhadap feminisme. Feminisme bukanlah ilmu yang mutlak dan sempurna kebenarannya. Tapi, menurut saya, tidak tepat jika komentar-komentar judgmental di atas sampai terlontar dari pikiran seorang laki-laki.

Mia

Mia...
Kutulis ini dengan bayangan tentangmu di pikiranku
Berkali-kali aku berpikir ulang, perlukah aku menuliskannya?
Tapi, iya, aku perlu.
Mia... 
Yang akan kau baca mungkin tidak akan menyenangkan untukmu
Aku tetap perlu menuliskan ini
Karena itu, Mia, bacalah, dan dengarlah dengan hatimu:

Mia... 
Dulu aku membencimu
Dengan kebencian yang bisa membuat bahkan setan tertunduk malu
Dulu aku cemburu
Dan kuanggap kamu sebagai pengganggu

Kamu dulu adalah serat-serat kuning di atas pagar tanaman
Kamu tidak seharusnya ada di sana, tapi kamu ada

Dengan sepenuh hatiku, Mia, aku tahu kamu tidak bermaksud

Tapi tetap aku dulu cemburu
Padamu yang malam itu menemaninya ke Kota Tua
yang dia percayakan cerita-ceritanya
yang selalu dia cari
yang karenamu dia datang tak peduli jarak dan waktu
Aku dulu cemburu
Padamu yang bisa terus berada di sisinya

Itu, Mia, adalah hal yang sangat sepele
Seperti udara yang setiap harinya kita hirup
Biasa, tapi nyata
Dan kenyataan itu dulu aku tidak suka

Mia...
Aku minta maaf
Karena berpikir sejahat itu tentangmu
Karena tidak seharusnya aku membenci matahari
Tidak seharusnya aku membenci hujan

Mia...
Sekarang lega sudah perasaanku
Terbebas sudah aku dari kebencian terhadapmu
Karena, Mia, sekarang terbebas sudah aku dari dia
Dia dan persahabatannya yang tidak kumengerti

An Awkward Introduction, I Guess...

Well, ini bukan blog pertama yang saya buat. Sepertinya dulu saya pernah membuat sebuah blog di blogspot juga, tapi saya lupa apa account-nya dan apa passwordnya. Kebiasaan yang jelek? Hehehe, biarlah.

Yah, sebagai sebuah perkenalan yang canggung, mungkin sebaiknya saya jelaskan kenapa "Cerita-cerita" saya pilih menjadi judul blog saya ini. Pertama-tama, saya sangat suka menulis--tipikal, tentunya--dan lebih dari itu, saya suka bercerita. Tentang apa saja. Tentang imajinasi saya, tentang bacaan-bacaan saya, tentang pengalaman-pengalaman saya, tentang pelajaran yang saya dapat dan ingin saya bagi dengan pembaca sekalian... Dengan "bercerita"-lah saya berharap dapat berbagi.

As a starter, I guess I can't let my expectations fly too high, can I?
I don't know if anyone will care to read it, but I'd be really grateful if there's somebody who does. :)

I think this will suffice for an introduction.


Stay with me!



Melati.