Feminisme. Sebuah kata yang umum sekarang ini.
Feminisme erat kaitannya dengan pembedaan
gender secara sosial (Budianta, 1998).
Artinya pembedaan
gender tersebut
terkait erat dengan stereotipe masyarakat terhadap kedua jenis
gender. Bukan hanya terhadap perempuan.
“Pendekatan
feminis adalah suatu kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan
permasalahan ketimpangan dan ketidakadlian dalam pemberian nperan dan identitas
sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin”—Melani Budianta.
Artinya, feminisme membahas pula
tentang kecenderungan patriarki dan falogosentrisme (kecenderungan memakai
perspektif laki-laki sebagai acuan untuk memandang kehidupan dan mendefinisikan
segala sesuatu). Feminisme juga identik dengan “
movement which advocates gender equality and justice”.
*
* *
Feminisme bertindak sebagai ‘payung’ dalam diskusi kecil
saya kali ini. Setelah saya mempelajari semua yang tertulis dalam deskripsi
singkat di atas tentang feminisme, tidak terlihat kesan harsh dan arogan perempuan, karena feminisme adalah semata
perjuangan untuk mencapai hak-hak yang sama dengan laki-laki. Melihat sejarah
feminisme, yang mana pada awalnya adalah di dalam bidang politik (to vote, to own property, to get education),
tidak ada yang salah dengan feminisme. Saya belajar semua itu tentang feminisme, tapi pendapat saya
tentangnya sedikit rumit. Setelah mempelajari feminisme, khususnya feminisme dalam
ranah literatur, saya menyadari bagaimana seringkali perempuan tergambarkan
inferior terhadap laki-laki. Saya paham betul bagaimana perempuan seringkali dianggap
sebagai objek; sebagai benda, dan bukan sebagai sosok manusia yang setara.
Saya sadar dan mengerti itu.
FEMINISME DAN AGAMA
Tapi, adalah salah jika feminisme—yang seperti saya tulis,
berawal dari konteks politik—memukul rata semua konteks, termasuk konteks
agama. Saya beragama Islam, jadi bisa dibilang saya cukup memahami posisi saya
sebagai muslimah: jika nanti saya berumah tangga, suami saya nanti adalah imam saya, pemimpin saya. Saya dan teman saya suka berdiskusi mengenai ini.
Menurutnya, feminisme dan agama seharusnya dipisah. Apa yang di agama dianggap
benar, jika dianalisis menggunakan feminisme tetap saja salah. Namun, menurut
saya feminisme dan agama justru seharusnya dilihat secara menyeluruh. Agama
adalah satu lingkup yang harus ditoleransi feminisme. Mana yang benar, saya
tidak tahu. Mungkin pendapat kami sama-sama benar. Meskipun saya berpendapat begitu, menurut saya adalah salah
juga untuk mengambil titik ekstrim dalam lingkup agama.
FEMINISME DAN EMANSIPASI WANITA
Feminisme erat kaitannya juga dengan ‘emansipasi wanita’. Awalnya,
frase itu identik dengan perjuangan R. A. Kartini, yang juga melakukan bentuk
perjuangan feminisme dengan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan
pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki.
Tapi, saat feminisme itu begini
menurut saya, penulis comment ini telah mengambil titik ekstrim dalam lingkup agama. Penulis comment terakhir ini pernah bertanya kepada saya, "Apa arti emansipasi wanita?" Sebuah pertanyaan yang ditanyakan dengan nada angkuh, seolah saya telah membodohi diri saya sendiri dengan menggunakan kata emansipasi wanita. Tapi, sepertinya sekarang ini dia yang perlu ditanyai balik, apa dia tahu apa arti emansipasi wanita?
Mungkin saja kata "emansipasi wanita" sekarang ini telah mengalami pergeseran konteks. Mungkin kita dari kaum perempuan juga salah mengartikan frase itu untuk 'tameng', pembenaran atas segala tindakan yang kita lakukan. Tapi, apa tidak lebih baik jika penulis comment mempertimbangkan untuk melihat frase tersebut dari segala sisi? Terlebih lagi, dia bersikap judgmental dengan mengecap perempuan yang ingin emansipasi sama dengan tidak ingin dimuliakan.
Seperti yang sudah saya katakan, pendapat saya tentang feminisme rumit. Tapi, bukan berarti saya bisa melewatkan komentar seperti ini begitu saja. Jika memang bisa, saya ingin bertanya langsung, sudahkah dia memahami "emansipasi wanita" yang sebenarnya?
Penulis comment yang sama kembali berkomentar
Pemilihan kata adalah hal yang sangat penting. Itu menggambarkan pemikiran penulis. Bukan hanya dalam kasus ini, tapi juga dalam kasus-kasus lainnya. Memang selalu begitu.
Pemilihan kata penulis comment "apalagi kecurangan itu dilakukan oleh para wanita" perlu digarisbawahi. Saya tidak pandai menjelaskan, tapi izinkan saya bertanya "Memangnya kenapa kalau itu dilakukan wanita? Berbeda-kah kadar keburukannya jika itu dilakukan pria? Apa suatu kecurangan boleh-boleh saja dilakukan pria?"
Yah....
Saya memiliki pandangan yang rumit terhadap feminisme. Feminisme bukanlah ilmu yang mutlak dan sempurna kebenarannya. Tapi, menurut saya, tidak tepat jika komentar-komentar judgmental di atas sampai terlontar dari pikiran seorang laki-laki.