Hari ini adalah hari kepulangan kami. Sedikit sedih mengingatnya, karena sebenarnya gue masih mau berada di sana. Tapi, apa daya, besok gue dan Gevin sudah harus mulai magang.
Karena kapal yang akan membawa kami kembali ke Muara Angke berangkat pukul 07.00 WIB, kami harus bangun pagi. Gue, Gevin, Kak Joni, dan Adit biasa sholat subuh dulu, jadi itu bukan masalah untuk kami. Kami bisa langsung bersiap-siap.
Gevin dan Nilam yang juga bangun lebih awal mandi duluan. Kemudian, Ruth, Nirma, dan gue menyusul. Puas sekali rasanya mandi di saat orang-orang masih tertidur! Tidak ada yang memburu-buru :3 Kemudian, kami mulai membangunkan orang-orang lain.
Cuaca sedikit dingin karena hujan. Jadi, kantuk masih terus menyerang.
Kami duduk di bagian dalam kapal. Gue sedikit kesal karena sebenarnya gue berharap bisa duduk di bagian atas kapal seperti kemarin. Duduk di bagian dalam kapal membuat gue pusing. Ditambah lagi, gue pun bangun dengan kepala yang memang sudah pusing. Tapi, untunglah kami masih bisa melanjutkan tidur di dalam kapal :)
Seperti saat berangkat, kami mampir dulu di Pulau Pari. Kali ini untuk mengangkut beberapa penumpang dari pulau tersebut. Beberapa pendatang baru itu berisik dan ribet sekali mengatur tempat duduk. Mereka juga jorok sekali, menggunakan sendal menginjak tempat kosong yang terciprat air hujan. Padahal mereka melewati kami. Tapi, kantuk yang hinggap membuat gue kembali tertidur. Mungkin kantuk itu juga didukung oleh antimo. Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan rute yang sama seperti yang kami ambil saat berangkat.
Perjalanan ke Pulau Pramuka ini memang melelahkan, tapi semua lelah terbayarkan oleh kebahagiaan yang gue dapat! :)
P.S. Gue benar-benar belang saat pulang. Bahkan tanpa sadar gue pulang dengan wajah berminyak dan gosong. Er... benar-benar mencengangkan deh, pokoknya. Tapi, kalau itu harga yang harus dibayar untuk kesenangan semacam ini, gue rela! ^^ I love you, summer! May you stay like this forever. I love You, God :")
Showing posts with label HHP. Show all posts
Showing posts with label HHP. Show all posts
Sunday, July 7, 2013
Saturday, July 6, 2013
Cerita Musim Panas #2: HURA-HURA PRAMUKA IKMI UI 2013 (part 2)
Day 2.
Yah, eniwei, paginya gue merasa jauh lebih fresh karena tidur tepat waktu. Ditambah lagi, udara dingin yang sangat berbeda dengan malamnya membuat dunia terasa lebih baik. Si biang ribut tidur menggigil di depan wisma, jadi agak kasian juga. Tadinya pengin bales berisik :3 tapi nggak jadi. Gue cuma bangunin dia dan Riki supaya pindah ke dalam. Habisnya, pagi itu memang beda banget suhunya dibanding malamnya.
Gue, Gevin, dan Ruth melihat pantai di depan wisma dari saat matahari belum muncul hingga ujung pantai bisa terlihat. Kami menemukan ranting yang agaknya cukup besar, jadi kami menulis-nulis di atas pantai. Sejujurnya, itu mimpi gue banget dari dulu pengin sok-sok romantis gitu nulis-nulis di atas pasir. :3
Kami berjalan ke arah dermaga lagi karena berharap bisa melihat matahari terbit dengan jelas (soalnya pagi itu agak mendung). Ujung-ujungnya matahari sudah terbit terlalu tinggi, jadi kami kelewatan momen melihatnya terbit. Tapi, kami disambut dengan ketenangan dan keindahan di dermaga :) Pantai dermaga begitu jernih sehingga kami bisa melihat dengan jelas biota bawah laut tanpa perlu snorkeling.
Gue merasa sangat damai karena bisa menjalani pagi dengan tenang, udara bersih, dan pemandangan bawah laut. Melihat air, ikan, dan benda-benda laut lainnya tidak akan pernah membosankan. Mungkin mengantuk sedikit, tapi gue rasa tidurpun gue akan merasa bahagia.
Kami harus pulang karena sudah waktunya sarapan. Yang lain, yang konon berencana juga untuk melihat matahari terbit, sudah menunggu kami untuk sarapan. ;) Gue berencana pamer apa-apa saja yang kami lihat, tapi Rendy yang sudah terbangun kembali mengomentari cara-cara gue bicara. Jadi, esensi pamernya gagal. :"
Lalu, kami snorkeling betulan! Kalau bisa ber"kyaa" dan "aaak" lagi ala ala konser, gue lakukan saat itu juga! Gue excited banget (lagi) sampai rasanya bahagia sampai ubun-ubun X3
Kali ini, kami dibawa sampai ke tengah laut, sampai bertemu spot di mana ikan-ikan cantik berenang. Di spot pertama, ikan-ikan cantik itu benar-benar ada! :D Good God! Gue membatin kepada Tuhan, "Tuhan, saya memang mencintai daratan dan mall-mall, tapi saya juga mencintai lautan dan kalau memang bisa jadi putri duyung, saya mau jadi putri duyung~" :3 Tuhan, saya cinta semua ciptaan-Mu.
Di spot kedua, gue lebih terkagum-kagum lagi karena di sana adalah sarangnya coral yang luar biasa mempesona. Ada coral yang sangat tipis dan melingkar seperti bunga mawar. Coral-coral itu membentuk semacam taman bunga super luas dan super cantik. :)
Ada kejadian yang cukup membuat jantung berhenti berdetak sepersekian detik di spot pertama, yaitu jatuhnya pipa snorkel gue ke dalam laut. Out of all things, why the pipe? :"( Pipa itu tidak bisa mengambang, dan telat sedikit saja Caca mengambilnya, mungkin gue akan harus mengganti satu set peralatan snorkel itu. Gue menyesali pemakaian pelampung, karena itu lagi-lagi membatasi pergerakan gue. Andai gue tidak menggunakan itu, gue bisa mengambil sendiri snorkel gue. Eniwei, terima kasih, Caca :)
Seorang teman, Fajar, awalnya tidak bisa berenang. Begitu juga Nilam dan Acit. Tapi, Fajar akhirnya bisa berenang setelah terbiasa di laut. Senangnyaaa :D
Setelah puas snorkeling (dan juga karena sudah mau hujan dan semakin banyak orang datang ke spot snorkeling kami), kami melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil yang setia menemani ke Pulau Semak Daun.
Pulau Semak Daun berukuran jauh lebih kecil dari Pulau Pramuka ataupun Pulau Tidung, tapi pantai pasirnya juga jauh lebih mengagumkan. Pasirnya bersih dari sampah maupun ranting, sehingga kami bisa menginjakkan kaki dengan bebas. Airnya pun sangat jernih dan berwarna kehijauan yang sangat cantik.
Gerimis kecil saat kami tiba di sana, jadi kami harus menunggu sebentar sebelum bisa main pasir. Gue merasa sedikit aneh, campuran antara senang dan sedih, mungkin terharu... yang jelas gue jadi merasa harus memisahkan diri. Gevin mengajak gue main pasir di bawah rintik hujan, jadi gue mengiyakan.
Karena hujan semakin deras, kami tetap harus berteduh. Namun, sementara yang lain menunggu redanya hujan di warung kecil di tengah pulau, gue dan Gevin menunggu hujan reda di bawah pepohonan di pantai. Ruth datang tidak lama kemudian, diikuti Rizky, kemudian kami membicarakan tentang hal-hal di malam sebelumnya.
Setelah hujan reda, kami menceburkan diri lagi ke pantai :)
Kebahagiaan mengiringi hari kami, karena kami benar-benar bersenang-senang di pantai itu. Gue dan Komuk berenang ke arah kapal. Keinginan gue untuk berenang terpuaskan (bahkan sudah terbayang untuk berenang lagi di kolam renang nanti kembalinya kami ke kota). Ada ikan-ikan kecil berwarna pasir yang kami temui saat sedang mencari kerang-kerang (tapi tidak ada yang bagus). Kami berusaha menangkap mereka, tapi itu tidak semudah yang terlihat.
Sekembalinya kami ke garis pantai, yang lain sedang mengubur Fajar yang berulang tahun pada tiga hari sebelumnya di dalam pasir. Gue tidak pernah mengubur orang dalam pasir, tapi selalu membayangkan bagaimana melakukannya. Ternyata sensasinya tidak seseru yang gue bayangkan, tapi tetap saja seru. Setelah Fajar, Kami mengubur Rizky yang akan berulang tahun keesokan harinya. :D
Kami pulang setelah puas bersenang-senang di Pulau Semak Daun, juga karena semakin banyak orang datang. Pantai itu menjadi semakin mirip Ancol minus air kotornya.
Sebelum benar-benar pulang, kami mampir ke penangkaran hiu. Bagus sekali tempat itu untuk para hiu-hiu. Ikan-ikan yang ada di sana juga begitu besar sehingga membuat gue terkagum-kagum. Saat snorkeling, tidak ada ikan-ikan seukuran segitu. Gue tidak yakin harus bersyukur atau menyayangkan. Kalau ada ikan sebesar itu, mungkin gue akan takut juga terkagum-kagum. Yang jelas, gue penasaran.
Kaki Kak Macel dan Rendy terkena kayu di penangkaran hiu itu, dan mereka sedikit kerepotan mengeluarkannya. Gue, sih, ngilu melihatnya. Kasian tapinyaaaa!
Hal yang aneh adalah karena meskipun di sana adalah tempat penangkaran hiu, kami lebih tertarik pada bulu babi. Yah, gue sih sebenarnya tertarik sama hiu-nya, tapi lebih tertarik lagi melihat teman-teman yang tertarik pada bulu babi.
Cowok-cowok, terutama, sepertinya memiliki ambisi untuk melihat seperti apa bulu babi luar-dalam. Mereka menggunakan tongkat panjang untuk mengambil seekor bulu babi, literally torturing it in front of its friends. Bulu-bulu bulu babi yang satu itu sampai patah-patah karena diangkat oleh para cowok. Kemudian, setelah diangkat, bulu babi itu dipecahkan untuk dimakan dalamnya.
Memang sih, bulu babi bisa dimakan... tapi menurut gue tidak seharusnya bulu babi itu disiksa di depan teman-temannya. Kumpulan bulu babi yang lain segera bersembunyi di bawah jembatan kayu, menjauh dari dua tongkat jahat yang membunuh temannya.
Dari semuanya, kejahatan yang paling tidak bisa gue terima adalah cowok-cowok itu membuang kembali cangkang bulu babi yang telah dipecahkan ke antara kumpulan bulu babi yang masih hidup. :(
Setelah adegan sadis itu, kami benar-benar pulang ke wisma.
Malam harinya, setelah makan malam, kami sedikit bosan karena tidak ada kegiatan apa-apa. Bahkan setelah main ramal-ramalan jodoh dengan Rizky, Ruth, Gevin, dan Acit, malam itu masih terasa panjang. Tapi, kemudian para cowok memutuskan untuk main kuda templok.
Kuda templok adalah semacam olahraga beresiko di mana cowok-cowok itu dibagi menjadi dua tim yang saling melompati satu sama lain. Seringkali disebut sebagai mainan SMA karena sebagian besar dari kami memainkannya saat SMA. Gue pun sebenarnya menikmati menonton permainan itu dari awal sampai akhir.
Gue pengin mendeskripsikan permainan malam itu, tapi akan butuh satu cerita terpisah saking serunya. Hahaha. Poin-poin menarik dari permainan malam itu adalah
1) Teriakan self-hypnosis Kak Macel: "Gue kuaaat!"
2) Seruan tidak bertenaga tapi efektif Komuk: "Mati lu, Cel~"
3) Lompatan-lompatan Rendy yang ala ala akrobatik
4) Ekspresi Fajar yang juara banget kayak udah lemes banget
5) Ucapan Dimas "Gue... Gue siap, gue." yang entah kenapa rasanya epik banget
Kemudian, setelah capek main kuda templok, kami keluar dan menyalakan kembang api. Sebenarnya kembang api itu (setahu gue) ditujukan untuk merayakan ulang tahun Rizky, tengah malam, saat pergantian ke hari terakhir. Hari itulah Rizky berulang tahun. Tapi entah bagaimana, jadinya kembang api dinyalakan sekitar pukul 21.00 WIB.
Kembang api juga salah satu hal yang gue kagumi. Jadi, selain McFlurry Caramel Crunch, semua kebahagiaan gue dapat ditemukan di HHP ini hahahaha :)
Sebuah berita yang mengkhawatirkan tentang gempa di Aceh datang dari Bonci yang bokapnya sedang bekerja di sana. Jadi, suasana agak sedikit kelam saat itu. Tapi, syukurlah bokap Bonci baik-baik saja :) Semoga situasi yang ada di Aceh akan segera membaik.
Semua tampaknya lelah malam itu, jadi tidurpun dilaksanakan lebih cepat. Paling tidak, gue, Gevin, dan Ruth memutuskan untuk mengabaikan semua bising di sekitar dan tidur duluan. Saat tengah malam gue terbangun, semua orang sudah terlelap dan lampu sudah dimatikan.
Sungguh hari yang sibuk dan malam yang menyenangkan!
[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]
Yah, eniwei, paginya gue merasa jauh lebih fresh karena tidur tepat waktu. Ditambah lagi, udara dingin yang sangat berbeda dengan malamnya membuat dunia terasa lebih baik. Si biang ribut tidur menggigil di depan wisma, jadi agak kasian juga. Tadinya pengin bales berisik :3 tapi nggak jadi. Gue cuma bangunin dia dan Riki supaya pindah ke dalam. Habisnya, pagi itu memang beda banget suhunya dibanding malamnya.
Gue, Gevin, dan Ruth melihat pantai di depan wisma dari saat matahari belum muncul hingga ujung pantai bisa terlihat. Kami menemukan ranting yang agaknya cukup besar, jadi kami menulis-nulis di atas pantai. Sejujurnya, itu mimpi gue banget dari dulu pengin sok-sok romantis gitu nulis-nulis di atas pasir. :3
| itu gue |
Kami berjalan ke arah dermaga lagi karena berharap bisa melihat matahari terbit dengan jelas (soalnya pagi itu agak mendung). Ujung-ujungnya matahari sudah terbit terlalu tinggi, jadi kami kelewatan momen melihatnya terbit. Tapi, kami disambut dengan ketenangan dan keindahan di dermaga :) Pantai dermaga begitu jernih sehingga kami bisa melihat dengan jelas biota bawah laut tanpa perlu snorkeling.
Gue merasa sangat damai karena bisa menjalani pagi dengan tenang, udara bersih, dan pemandangan bawah laut. Melihat air, ikan, dan benda-benda laut lainnya tidak akan pernah membosankan. Mungkin mengantuk sedikit, tapi gue rasa tidurpun gue akan merasa bahagia.
| bersama Ruth |
| bersama Gevin |
Kami harus pulang karena sudah waktunya sarapan. Yang lain, yang konon berencana juga untuk melihat matahari terbit, sudah menunggu kami untuk sarapan. ;) Gue berencana pamer apa-apa saja yang kami lihat, tapi Rendy yang sudah terbangun kembali mengomentari cara-cara gue bicara. Jadi, esensi pamernya gagal. :"
Lalu, kami snorkeling betulan! Kalau bisa ber"kyaa" dan "aaak" lagi ala ala konser, gue lakukan saat itu juga! Gue excited banget (lagi) sampai rasanya bahagia sampai ubun-ubun X3
Kali ini, kami dibawa sampai ke tengah laut, sampai bertemu spot di mana ikan-ikan cantik berenang. Di spot pertama, ikan-ikan cantik itu benar-benar ada! :D Good God! Gue membatin kepada Tuhan, "Tuhan, saya memang mencintai daratan dan mall-mall, tapi saya juga mencintai lautan dan kalau memang bisa jadi putri duyung, saya mau jadi putri duyung~" :3 Tuhan, saya cinta semua ciptaan-Mu.
Di spot kedua, gue lebih terkagum-kagum lagi karena di sana adalah sarangnya coral yang luar biasa mempesona. Ada coral yang sangat tipis dan melingkar seperti bunga mawar. Coral-coral itu membentuk semacam taman bunga super luas dan super cantik. :)
Ada kejadian yang cukup membuat jantung berhenti berdetak sepersekian detik di spot pertama, yaitu jatuhnya pipa snorkel gue ke dalam laut. Out of all things, why the pipe? :"( Pipa itu tidak bisa mengambang, dan telat sedikit saja Caca mengambilnya, mungkin gue akan harus mengganti satu set peralatan snorkel itu. Gue menyesali pemakaian pelampung, karena itu lagi-lagi membatasi pergerakan gue. Andai gue tidak menggunakan itu, gue bisa mengambil sendiri snorkel gue. Eniwei, terima kasih, Caca :)
Seorang teman, Fajar, awalnya tidak bisa berenang. Begitu juga Nilam dan Acit. Tapi, Fajar akhirnya bisa berenang setelah terbiasa di laut. Senangnyaaa :D
Setelah puas snorkeling (dan juga karena sudah mau hujan dan semakin banyak orang datang ke spot snorkeling kami), kami melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil yang setia menemani ke Pulau Semak Daun.
Pulau Semak Daun berukuran jauh lebih kecil dari Pulau Pramuka ataupun Pulau Tidung, tapi pantai pasirnya juga jauh lebih mengagumkan. Pasirnya bersih dari sampah maupun ranting, sehingga kami bisa menginjakkan kaki dengan bebas. Airnya pun sangat jernih dan berwarna kehijauan yang sangat cantik.
Gerimis kecil saat kami tiba di sana, jadi kami harus menunggu sebentar sebelum bisa main pasir. Gue merasa sedikit aneh, campuran antara senang dan sedih, mungkin terharu... yang jelas gue jadi merasa harus memisahkan diri. Gevin mengajak gue main pasir di bawah rintik hujan, jadi gue mengiyakan.
Karena hujan semakin deras, kami tetap harus berteduh. Namun, sementara yang lain menunggu redanya hujan di warung kecil di tengah pulau, gue dan Gevin menunggu hujan reda di bawah pepohonan di pantai. Ruth datang tidak lama kemudian, diikuti Rizky, kemudian kami membicarakan tentang hal-hal di malam sebelumnya.
Setelah hujan reda, kami menceburkan diri lagi ke pantai :)
| ciwi-ciwi plus Komuk |
| itu gue lagi |
Sekembalinya kami ke garis pantai, yang lain sedang mengubur Fajar yang berulang tahun pada tiga hari sebelumnya di dalam pasir. Gue tidak pernah mengubur orang dalam pasir, tapi selalu membayangkan bagaimana melakukannya. Ternyata sensasinya tidak seseru yang gue bayangkan, tapi tetap saja seru. Setelah Fajar, Kami mengubur Rizky yang akan berulang tahun keesokan harinya. :D
| supposedly mermaid |
| supposedly teddy bear |
Kami pulang setelah puas bersenang-senang di Pulau Semak Daun, juga karena semakin banyak orang datang. Pantai itu menjadi semakin mirip Ancol minus air kotornya.
Sebelum benar-benar pulang, kami mampir ke penangkaran hiu. Bagus sekali tempat itu untuk para hiu-hiu. Ikan-ikan yang ada di sana juga begitu besar sehingga membuat gue terkagum-kagum. Saat snorkeling, tidak ada ikan-ikan seukuran segitu. Gue tidak yakin harus bersyukur atau menyayangkan. Kalau ada ikan sebesar itu, mungkin gue akan takut juga terkagum-kagum. Yang jelas, gue penasaran.
| hiu kecil |
| Kak Macel dan Rendy |
| kasihan si Bulu Babi |
Memang sih, bulu babi bisa dimakan... tapi menurut gue tidak seharusnya bulu babi itu disiksa di depan teman-temannya. Kumpulan bulu babi yang lain segera bersembunyi di bawah jembatan kayu, menjauh dari dua tongkat jahat yang membunuh temannya.
Dari semuanya, kejahatan yang paling tidak bisa gue terima adalah cowok-cowok itu membuang kembali cangkang bulu babi yang telah dipecahkan ke antara kumpulan bulu babi yang masih hidup. :(
Setelah adegan sadis itu, kami benar-benar pulang ke wisma.
Malam harinya, setelah makan malam, kami sedikit bosan karena tidak ada kegiatan apa-apa. Bahkan setelah main ramal-ramalan jodoh dengan Rizky, Ruth, Gevin, dan Acit, malam itu masih terasa panjang. Tapi, kemudian para cowok memutuskan untuk main kuda templok.
Kuda templok adalah semacam olahraga beresiko di mana cowok-cowok itu dibagi menjadi dua tim yang saling melompati satu sama lain. Seringkali disebut sebagai mainan SMA karena sebagian besar dari kami memainkannya saat SMA. Gue pun sebenarnya menikmati menonton permainan itu dari awal sampai akhir.
| menonton kuda templok, berasa SMA |
1) Teriakan self-hypnosis Kak Macel: "Gue kuaaat!"
2) Seruan tidak bertenaga tapi efektif Komuk: "Mati lu, Cel~"
3) Lompatan-lompatan Rendy yang ala ala akrobatik
4) Ekspresi Fajar yang juara banget kayak udah lemes banget
5) Ucapan Dimas "Gue... Gue siap, gue." yang entah kenapa rasanya epik banget
Kemudian, setelah capek main kuda templok, kami keluar dan menyalakan kembang api. Sebenarnya kembang api itu (setahu gue) ditujukan untuk merayakan ulang tahun Rizky, tengah malam, saat pergantian ke hari terakhir. Hari itulah Rizky berulang tahun. Tapi entah bagaimana, jadinya kembang api dinyalakan sekitar pukul 21.00 WIB.
| kembang api yang kami nyalakan sendiri! |
Sebuah berita yang mengkhawatirkan tentang gempa di Aceh datang dari Bonci yang bokapnya sedang bekerja di sana. Jadi, suasana agak sedikit kelam saat itu. Tapi, syukurlah bokap Bonci baik-baik saja :) Semoga situasi yang ada di Aceh akan segera membaik.
Semua tampaknya lelah malam itu, jadi tidurpun dilaksanakan lebih cepat. Paling tidak, gue, Gevin, dan Ruth memutuskan untuk mengabaikan semua bising di sekitar dan tidur duluan. Saat tengah malam gue terbangun, semua orang sudah terlelap dan lampu sudah dimatikan.
Sungguh hari yang sibuk dan malam yang menyenangkan!
[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]
Labels:
HHP,
IKMI,
musim panas,
Pulau Pramuka
Location:
Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu
Cerita Musim Panas #2: HURA-HURA PRAMUKA IKMI UI 2013 (part 1)
Nah, setelah cerita tentang G-Dragon 1st Solo World Tour yang penuh kejutan, sekarang waktunya untuk cerita musim panas berikutnya! Tentunya bukan musim panas dong, kalau belum gosong karena senang-senang di pantai berpasir putih yang airnya jernih :) Akhirnya, setelah dua puluh tahun menjalani hidup, seorang Sekar Ayu Melati mengalami musim panas yang sebenarnya di Pulau Pramuka!
Hura-Hura Pramuka (HHP) sudah direncanakan dari berminggu-minggu sebelum fixed. Dari 30 orang pendaftar, di hari-H tinggal 19 orang yang ikut. Banyak alasan yang membatalkan, dari kerja sampe nggak punya duit. :( Sayang sekali, padahal kalau banyak yang ikut bakal seru banget.
Eniwei, keberangkatan untuk HHP akhirnya dilaksanakan pada tanggal 1 Juli. Kami menyambut Juli di Pulau Pramuka! :)
Day 1.
Janjian jam 04.30 WIB, tapi seperti biasa itu hanya wacana. Hahaha. Habisnyaaa, jam 04.30 kan belum subuh. Jadi, gue sholat dulu baru jalan ke Stasiun UI. Ternyata, yang lain kurang-lebih dateng barengan. Cuma Caca yang on time (maaf ya, Caca~).
Setelah semua berkumpul, kami naik kereta tercepat menuju Stasiun Kota Tua (seriously, my summer is filled with trips to Stasiun Kota Tua). Perjalanan memakan waktu kira-kira 3 jam. Di sana, kami bertemu dengan Dani yang sudah menunggu lama.
Dari Kota Tua, kami menyewa angkot ke Pelabuhan Muara Angke. Kapal yang akan membawa kami ke Pulau Pramuka menunggu di sana. Masing-masing orang hanya perlu membayar Rp35.000. Total ongkos adalah Rp70.000 per orang dari Stasiun UI. Semua ongkos kami serahkan ke Gevin yang berperan sebagai bendahara. Dia agaknya 'terkutuk' menjadi bendahara sebagaimana gue 'terkutuk' menjadi sekretaris.
Di kapal, kami duduk di dek belakang, yang artinya kami bisa melihat langsung laut tanpa harus melihat dari jendela. Begitu sampai tengah laut, cukup jauh dari Muara Angke, gue kembali merasakan kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan benar-benar sesederhana melihat birunya lautan.
Gue mencintai laut dengan sepenuh jiwa raga, kalau bisa dibilang begitu. ^_^ Melihat laut, rasanya pengin langsung menceburkan diri. Sumpah deh, andai ada stiker macem stiker line dan facebook, gue pasang sekarang jugak. I had been smiling from ear to ear right from the start to the end.
I envy mermaids. Be them a myth or fantasy, they live under the sea.
Perjalanan menuju Pulau Pramuka memakan waktu kurang lebih tiga jam. Kami mampir dulu di Pulau Pari untuk menurunkan sebagian penumpang. Kemudian, setelah sampai di Pulau Pramuka, kami diantar ke wisma di samping penangkaran penyu.
Wisma itu sendiri berukuran cukup besar. Kami disewakan sebagian wisma yang berupa sebuah ruangan besar dengan dua ruangan kecil di dalamnya. Ruangan besar itu berperan sebagai kamar tidur, sedangkan dua ruangan kecil menjadi kamar tas dan kamar ganti. Di bagian belakang kamar, ada empat kamar mandi kecil. Yang satu tidak bisa terpakai, jadi kami bergantian menggunakan yang tiga. Ada juga jemuran besar, jadi kami tidak perlu pusing mencari tempat menjemur pakaian. Kemudian, di dekat wisma ada mushola kecil yang nyaman karena bersih :)
Karena wisma itu sepertinya jarang dipakai, lantainya sangat kotor dan lengket. Ruangan itu juga berdebu dan menjadi sarang nyamuk. Tidak ada udara karena semua jendela tertutup. Jadi, yang pertama kami, para cewek, lakukan adalah membuka semua jendela dan tirai serta menyapu ruangan.
Setelah loading barang, kami makan siang. Gue, Ruth, Rizky, Nilam, dan Caca menemukan tempat makan bakso ikan yang unik. Berbeda dengan bakso ikan yang biasa ditemukan di kota, bakso ikan di sana bertekstur seperti bakso urat. Bakso itu dipadukan dengan bihun dan sambal hijau. Daripada disebut bakso, mungkin makanan itu lebih mirip tekwan.
Menjelang sore, kami latihan snorkeling! Gue kembali pengin jingkrak-jingkrak karena itu akan jadi kali pertama gue snorkeling :3 Gue juga sedikit khawatir akan reaksi temen-temen pertama kali melihat gue memakai baju renang, karena kerudung di set baju renang itu akan membuat gue terlihat aneh.
Yah, tapi bagaimanapun juga gue harus menggunakan kerudung itu. Jadi, biarpun dibilang seperti ubur-ubur dan dibilang bulet banget, gue tetap berenang-renang dengan senang.
Awalnya, gue panik karena tidak biasa menggunakan pipa snorkel-nya. Gue tidak biasa bernapas dengan mulut. Kemudian, gue juga panik karena tidak bisa menguasai pergerakan akibat menggunakan pelampung yang membuat tubuh gue mengambang di permukaan. Akhirnya, gue lepas pelampung itu dan merasa lebih baik setelahnya.
Bersama Bonci, Ruth, dan Gevin, gue berenang agak ke tengah laut dan bergosip di sana. Level gosip kami meningkat, kekeke... tapi tidak lama kemudian kami harus pulang.
Badan gue agak capek karena tidak pemanasan sebelum terjun dan juga karena sudah lama tidak berenang. Tapi gue merasa lebih baik setelah pemanasan di wisma.
Malamnya, gue, Rizky, Ruth, Komuk, Adit, dan Gevin pergi ke sisi pantai yang satu lagi. Bukan di dermaganya. Di sana, pantainya dibatasi dengan pagar. Kami bisa duduk di pagar batunya, kemudian bengong-bengong menikmati suasana.
Bintang-bintang terlihat dengan sangat jelas. Banyak sekali dan cantik-cantik sekali, gue sampai mau menangis melihatnya. Kemudian, kami membeli kembang api dan petasan dari toko setempat. Di sana, harganya sangat terjangkau.
Saat waktu tidur tiba, gue berencana tidur tepat waktu agar paginya bisa melihat matahari terbit. Kami sudah melihat matahari terbenam di dermaga dan itu luar biasa cantik, jadi besok adalah waktunya bagi matahari terbit. Tapi, sepertinya yang lain tidak sepikiran. Paling tidak, Rendy tidak sepikiran.
Memang banyak yang berisik, tapi yang luar biasa berisik adalah Rendy dengan nyanyian-nyanyian dan keisengannya. Dia entah kenapa suka banget ganggu Acit, yang berakibat cewek itu juga jadi luar biasa berisik. Ugh. Nyebelin banget pokoknya. Klimaksnya adalah gue menyebut Rendy bacot dan berkata keras padanya. Seriously, that night was upsetting enough with the humid temperature and wild mosquitos. His behavior only made things gone from bad to worse.
[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]
Hura-Hura Pramuka (HHP) sudah direncanakan dari berminggu-minggu sebelum fixed. Dari 30 orang pendaftar, di hari-H tinggal 19 orang yang ikut. Banyak alasan yang membatalkan, dari kerja sampe nggak punya duit. :( Sayang sekali, padahal kalau banyak yang ikut bakal seru banget.
Eniwei, keberangkatan untuk HHP akhirnya dilaksanakan pada tanggal 1 Juli. Kami menyambut Juli di Pulau Pramuka! :)
Day 1.
Janjian jam 04.30 WIB, tapi seperti biasa itu hanya wacana. Hahaha. Habisnyaaa, jam 04.30 kan belum subuh. Jadi, gue sholat dulu baru jalan ke Stasiun UI. Ternyata, yang lain kurang-lebih dateng barengan. Cuma Caca yang on time (maaf ya, Caca~).
Setelah semua berkumpul, kami naik kereta tercepat menuju Stasiun Kota Tua (seriously, my summer is filled with trips to Stasiun Kota Tua). Perjalanan memakan waktu kira-kira 3 jam. Di sana, kami bertemu dengan Dani yang sudah menunggu lama.
Dari Kota Tua, kami menyewa angkot ke Pelabuhan Muara Angke. Kapal yang akan membawa kami ke Pulau Pramuka menunggu di sana. Masing-masing orang hanya perlu membayar Rp35.000. Total ongkos adalah Rp70.000 per orang dari Stasiun UI. Semua ongkos kami serahkan ke Gevin yang berperan sebagai bendahara. Dia agaknya 'terkutuk' menjadi bendahara sebagaimana gue 'terkutuk' menjadi sekretaris.
Di kapal, kami duduk di dek belakang, yang artinya kami bisa melihat langsung laut tanpa harus melihat dari jendela. Begitu sampai tengah laut, cukup jauh dari Muara Angke, gue kembali merasakan kebahagiaan yang sederhana. Kebahagiaan benar-benar sesederhana melihat birunya lautan.
| di kapal saat berangkat |
I envy mermaids. Be them a myth or fantasy, they live under the sea.
Perjalanan menuju Pulau Pramuka memakan waktu kurang lebih tiga jam. Kami mampir dulu di Pulau Pari untuk menurunkan sebagian penumpang. Kemudian, setelah sampai di Pulau Pramuka, kami diantar ke wisma di samping penangkaran penyu.
Wisma itu sendiri berukuran cukup besar. Kami disewakan sebagian wisma yang berupa sebuah ruangan besar dengan dua ruangan kecil di dalamnya. Ruangan besar itu berperan sebagai kamar tidur, sedangkan dua ruangan kecil menjadi kamar tas dan kamar ganti. Di bagian belakang kamar, ada empat kamar mandi kecil. Yang satu tidak bisa terpakai, jadi kami bergantian menggunakan yang tiga. Ada juga jemuran besar, jadi kami tidak perlu pusing mencari tempat menjemur pakaian. Kemudian, di dekat wisma ada mushola kecil yang nyaman karena bersih :)
Karena wisma itu sepertinya jarang dipakai, lantainya sangat kotor dan lengket. Ruangan itu juga berdebu dan menjadi sarang nyamuk. Tidak ada udara karena semua jendela tertutup. Jadi, yang pertama kami, para cewek, lakukan adalah membuka semua jendela dan tirai serta menyapu ruangan.
![]() |
| pas baru sampe [foto: Kak Angga] |
Menjelang sore, kami latihan snorkeling! Gue kembali pengin jingkrak-jingkrak karena itu akan jadi kali pertama gue snorkeling :3 Gue juga sedikit khawatir akan reaksi temen-temen pertama kali melihat gue memakai baju renang, karena kerudung di set baju renang itu akan membuat gue terlihat aneh.
Yah, tapi bagaimanapun juga gue harus menggunakan kerudung itu. Jadi, biarpun dibilang seperti ubur-ubur dan dibilang bulet banget, gue tetap berenang-renang dengan senang.
Awalnya, gue panik karena tidak biasa menggunakan pipa snorkel-nya. Gue tidak biasa bernapas dengan mulut. Kemudian, gue juga panik karena tidak bisa menguasai pergerakan akibat menggunakan pelampung yang membuat tubuh gue mengambang di permukaan. Akhirnya, gue lepas pelampung itu dan merasa lebih baik setelahnya.
![]() |
| itu gue lagi pusing sama perlengkapan snorkeling [Foto: Kak Angga] |
| Bersama Bonci, Riki, Caca, Rizky, Komuk, Fajar, Nilam, Ruth, Acit, Gevin, Rendy, Nirma |
| Bersama Nirma |
Badan gue agak capek karena tidak pemanasan sebelum terjun dan juga karena sudah lama tidak berenang. Tapi gue merasa lebih baik setelah pemanasan di wisma.
Malamnya, gue, Rizky, Ruth, Komuk, Adit, dan Gevin pergi ke sisi pantai yang satu lagi. Bukan di dermaganya. Di sana, pantainya dibatasi dengan pagar. Kami bisa duduk di pagar batunya, kemudian bengong-bengong menikmati suasana.
Bintang-bintang terlihat dengan sangat jelas. Banyak sekali dan cantik-cantik sekali, gue sampai mau menangis melihatnya. Kemudian, kami membeli kembang api dan petasan dari toko setempat. Di sana, harganya sangat terjangkau.
Saat waktu tidur tiba, gue berencana tidur tepat waktu agar paginya bisa melihat matahari terbit. Kami sudah melihat matahari terbenam di dermaga dan itu luar biasa cantik, jadi besok adalah waktunya bagi matahari terbit. Tapi, sepertinya yang lain tidak sepikiran. Paling tidak, Rendy tidak sepikiran.
Memang banyak yang berisik, tapi yang luar biasa berisik adalah Rendy dengan nyanyian-nyanyian dan keisengannya. Dia entah kenapa suka banget ganggu Acit, yang berakibat cewek itu juga jadi luar biasa berisik. Ugh. Nyebelin banget pokoknya. Klimaksnya adalah gue menyebut Rendy bacot dan berkata keras padanya. Seriously, that night was upsetting enough with the humid temperature and wild mosquitos. His behavior only made things gone from bad to worse.
[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]
Subscribe to:
Posts (Atom)

