Wednesday, January 27, 2016

"Words are powerful," he said. "Enough. But if the right person say them..."

The saying is embedded in her thoughts. She doesn't remember who said it; in what occasion. She doesn't know why she can remember it was a 'he'. She is now a grown sorceress--a powerful one. From the farthest Northern icy landscape to the deepest Southern wilderness know who she is. Smiles greet her whenever she encounters strangers. Thank goodness, smile is a universal courtesy. She smiles back, not having to mention any name. It's not that she doesn't want to; it's that she doesn't know the names. 

"Good day, My Lady. Do you remember my son, Tareq?" asked some guy in bar.

"Good day, My Lady. How was the pineapple buttercake I gave you?" asked some woman in some street.

Truth is, she didn't even know how she got to the places. She lost her memory.

Saturday, January 23, 2016

Menanggapi LGBT

Boleh, ya, saya sekali-sekali sok-sok cerdas bicara tentang isu yang sedang marak di dunia ini. Tentu saja, ini sebenarnya masalah dunia pertama. Dunia yang isunya berupa isu kemanusiaan. Dunia yang tidak lagi dipermasalahkan lapar dan kemiskinan dan perang dengan negara tetangga... atau bahkan dengan sesama saudara. Ah, tetapi tidak apa. Toh isu ini sekarang sudah menjadi masalah pula bagi masyarakat Indonesia. Khususnya, dengan semakin vokalnya kaum-kaum terpelajar menyuarakan soal toleransi terhadap kaum LGBT. Apalagi, ada SGRC UI.

Saya pertama kali mendengar tentang SGRC UI dari teman saya di grup. "Di UI lagi rame bahas support buat LGBT, tuh," katanya. Lalu, teman-teman lain turut berpartisipasi dalam percakapan itu dengan memberikan gambar-gambar pamflet dan bukan pamflet yang kurang-lebih menggambarkan apa itu SGRC. Intinya, itu adalah kelompok yang mempelajari seksualitas dan membuka konsultasi/dukungan bagi yang membutuhkan. Beberapa orang di pamflet itu digambarkan sebagai bagian dari kelompok LGBT. Ada yang gay, panseksual... pokoknya segala kelompok LGBT. Oh, iya, bagi yang tidak tahu, LGBT bukan serta-merta gay saja. Banyak kelompok seksualitas lainnya.

SGRC UI kontroversial karena dua hal:
  1. Mengangkat isu yang sensitif bagi masyarakat Indonesia.
  2. Mencatut nama UI.
Untuk masalah kedua, UI segera mengeluarkan press release yang menyatakan bahwa SGRC tidak meminta izin aktivitas pada UI, dan karenanya tidak berhak mencatut nama UI. Dengan adanya press release itu, orang tahu bahwa SGRC bukan bagian dari UI.

Bagi saya dan teman teman, yang sudah belajar ilmu kemanusiaan dan cenderung terbuka/toleran terhadap LGBT, masalah sudah selesai. Kami tahu Indonesia belum siap, atau mungkin tidak akan siap, menerima LGBT sebagai hal lumrah. Tentu saja, penerimaan dan kesiapan toleransi terhadap LGBT bukan berarti lebih bagus atau lebih baik. Hanya memang karakter Indonesia yang erat dengan agama (apalagi sila pertamanya menganut Ketuhanan yang Maha Esa), tidak memungkinkannya menerima LGBT. Kami sebagai warga Indonesia yang beragama, tentu punya larangan tersendiri mengenai cinta sesama jenis (dan cinta sesama jenis adalah bentuk LGBT yang paling marak terdengar).

Namun, penerimaan dan kesiapan toleransi terhadap LGBT juga bukan berarti lebih buruk. Saya belajar tentang rasisme dan feminisme. Keduanya dimulai dari kecenderungan menuju homogenitas (saya pernah membahas ini dalam post tahun lalu). Kulit putih tidak menyukai kulit hitam karena mereka berbeda; dianggap lebih barbar, dianggap bukan manusia yang setara. Begitu pula dengan perempuan. Laki-laki beranggapan perempuan bukan manusia yang punya hak suara sebesar mereka. Karena alasan itulah, kulit hitam dan perempuan sempat dilarang memiliki hak yang sama dengan kaum satunya.

Bagi saya, kaum LGBT sekarang juga menerima perlakuan yang sama dengan perempuan dan kulit hitam. Mereka minoritas, maka diperlakukan berbeda. Kadang, saya melihat ini tidak ada bedanya dengan masalah kaum-kaum minoritas sebelumnya. Oleh karena itu, saya mengerti pentingnya toleransi dalam hal ini.

Toleransi saya, sejauh ini, berupa pengabaian. Jika saya tahu ada orang yang gay, atau ada orang transgender, saya tidak terlalu ambil pusing. Itu hidup mereka, bukan hidup saya. Siapa saya untuk menghakimi mereka? Bukan saya yang nanti akan menghisab amal mereka. Saya bukan Tuhan. Pemikiran saya ini akhirnya menunjukkan pola pikir saya yang beragama lebih ke sifat spiritualnya--hubungannya dengan Tuhan. Dalam sebagian dunia saya, orang-orang seumuran saya (20-an tahun) yang saya kenal, saya rasa kurang-lebih sama. Agama menjadi urusan pribadi yang tidak bisa dihakimi, tidak juga bisa menghakimi. Masing-masing saja.

Namun, ada juga sebagian dunia saya yang lain, dunia dengan orang tua saya dan sebagian orang-orang lain, yang tidak bisa saya abaikan. Pada bagian ini, aspek ritual agama-lah yang ditonjolkan. Katanya, jika saya biarkan LGBT, yang menurut agama merupakan penyimpangan sesat, artinya saya sama saja dengan kaum LGBT. Sama berdosanya, sama sesatnya, sama menyimpangnya. Semasa saya belajar ilmu kemanusiaan, saya sering berdebat soal ini pada ayah saya. Jadilah saya anak durhaka. Anak menyimpang. Dulu saya merasa ayah saya bodoh karena tidak mengerti. Melihat dunia terlalu hitam-putih. Apalagi jika bicara soal kebenaran.

Seiring pertambahan usia, saya mulai melihat dari kacamata ayah saya. Bahwa agama bukan sesuatu yang bisa dilepas begitu saja dari kehidupan. Saat kemarin teman saya cerita bahwa dia bertuhan, bukan beragama... saya membatin, saya pernah seperti itu. KTP saya bilang saya Islam, tapi sesungguhnya saya bertuhan. Bukan beragama. Hubungan saya dengan Tuhan adalah hubungan spiritual, bukan ritual. Tapi saya kemudian berkaca: jika saya Muslimah, saya tidak bisa hanya bertuhan. Saya harus beragama, dan beragama berarti mengadopsi juga aturan-aturannya.

Kembali ke soal LGBT. Jika begini jadinya, habislah saya dalam dilema saat menanggapi LGBT. Saya yang satu bisa menanggapinya dari sisi kemanusiaan (di mana saya melihat ketiadaan toleransi terhadap kaum LGBT adalah bentuk masalah kecenderungan homogenitas umat manusia), saya yang satu bisa pula menanggapinya dari sisi agama (paling tidak, sebaiknya mengingatkan bahwa itu dianggap menyimpang).

Belum ada solusi mengenai bagaimana menjembatani isu LGBT dengan eratnya agama di Indonesia. Mungkin akan ada, tapi saya tidak mau terlalu optimis. Saya yakin, bukan hanya saya yang menemukan masalah ini menimbulkan dilema. Kami warga Indonesia sedang belajar menemukan jalan--kami sedang bertanya-tanya tentang kemanusiaan dan tentang agama. Semoga tidak perlu ada pertentangan ekstrem jika kedua sisi itu tidak lagi bisa berkompromi.

Sunday, January 10, 2016

Menjadi Perempuan (1): Sopir

Saya mau curhat sedikit.

Saya ini perempuan single (oke, jomblo) berusia awal 20-an tahun, berasal dari keluarga Islam (terlepas dari itu, berjilbab), dan bekerja di sebuah kantor media yang memberlakukan pergantian shift (yang artinya, saya kadang harus bekerja dari pukul 6 sore hingga pukul 2 pagi). Keadaan saya yang seperti ini membuat perasaan saya sering tidak menentu, baik soal omongan orang maupun hal-hal yang terjadi.

Permasalahan diawali dengan shift malam (tentu saja, mungkin sebagian dari kalian akan bisa langsung menebak itu masalahnya). Ayah saya tidak pernah setuju pekerjaan saya ada shift malam. Dulu, beliau pernah setuju karena ada sopir yang mengantar ke rumah. Lalu, dengan segera beliau mengubah pikirannya. Katanya, saya perempuan. Tidak baik pulang malam. Beliau tidak menjelaskan apa kekhawatirannya, tapi kurang-lebih saya bisa paham. Bukan karena apa-apa melainkan karena "tidak baik perempuan pulang larut malam" adalah omongan biasa di antara orang Indonesia. Banyak hal bisa terjadi. Saya bisa mendadak diserang orang lalu diperkosa. Pemerkosaan bukan hal asing di belahan dunia mana pun. Termasuk Indonesia. Saat larut malam, jalanan tidak ramai. Tidak ada yang bisa menolong. Saya paham.

Tapi saya sudah kepalang tanda tangan kontrak, dengan didukung oleh persetujuan beliau. Awalnya, saya pun tidak melihat adanya bahaya. Banyak perempuan yang juga pulang malam bersama saya. Ke daerah rumah sejauh saya. Para sopir baik-baik saja, malah bersahabat. Saya lihat, teman searah saya sering mengobrol dengan mereka, maka saya juga ikut begitu. Dalam pikiran saya, toh saya yang butuh jasa mereka. Saya tidak boleh memperlakukan mereka dengan bossy. Lagi pula, saya diantar pulang larut malam. Kalau sikap saya ada yang salah, pastilah bisa mendorong terjadinya hal-hal yang berbahaya (pemerkosaan, pelecehan seksual, penculikan--dunia ini adalah tempat berbahaya). Karena obrolan ringan di antara kami, saya mulai merasa aman. Sopir-sopir itu seusia dengan kami. 20-30-an tahun. Candaan mereka hampir sama dengan kami.

Saya tidak akan berlagak jadi perempuan polos yang tidak awas terhadap kondisi sekitar. Saya tahu saat mulai ada omongan-omongan di antara para sopir. Saya sadar sejak mereka mulai memperlakukan saya sebagai perempuan cantik yang jadi idaman laki-laki. Saya sadar sejak mereka menyukai saya. Saya jelaskan seperti ini, bukan karena saya merasa saya perempuan idaman laki-laki, melainkan karena saya tahu gelagat mereka menunjukkan anggapan mereka yang seperti itu. Saya tidak memaksudkan ini (dan tidak merasa ini) flattering. Jauh. Justru saya merasa terganggu. Jangankan saya; perempuan-perempuan yang benar-benar cantik saja mungkin akan terganggu.

Pada awalnya, saya tidak merasa ada masalah saat ucapan-ucapan itu hanya berupa ucapan kolektif. Saya pikir mereka begitu pada setiap penumpang baru, atau mereka hanya iseng. Tapi kemudian, salah satu dari mereka mulai menunjukkan gelagat yang berbeda. Sebutlah Sopir A. Saya perhatikan, memang Sopir A agak berbeda dari yang lain. Lebih vokal. Lebih seradak-seruduk. Lebih berani. Saya tahu dia bekerja sambil kuliah.

Sejak sebulan yang lalu, Sopir A mulai sering mengantar saya pulang. Jika bukan gilirannya, dia akan ikut menemani si sopir yang bertugas. Sikapnya semakin kentara. Bicaranya manis kepada saya, tidak kepada teman saya. Dia juga sering menyebut-nyebut soal saya ke sopir lain. "Tolong jaga Melati," konon katanya, karena ada sopir yang akhirnya bilang "Oh, ini Melati yang itu?". Lalu, seorang teman berkata, "Nggak apa-apa, Mel. Bagus jadi ada yang jagain." Seolah 'dijaga' adalah hal bagus (itu, omong-omong, bertentangan dengan pikiran saya yang cenderung ingin bertanya balik, "Memangnya perempuan harus dijaga? Hidupnya bergantung pada dijaga?"). 

'Dijaga'.

Sesuatu yang dijaga, konotasinya adalah benda rapuh. Benda berharga, tapi rapuh. Dijaga, konotasinya adalah properti. Saya bukan properti dia, saya juga tidak rapuh. Tapi saya perempuan. Bagaimanapun saya merasa tidak rapuh, ada dinding bernama 'kekuatan fisik' yang tidak bisa saya panjat. Di sebelahnya, ada dinding bernama 'masyarakat' dan 'paradigma' yang juga tidak bisa saya panjat. Sudah dari segi fisik saya jelas tidak akan sekuat laki-laki, masyarakat dan paradigma akan menyalahkan saya jika terjadi apa-apa. Salah saya karena mau ambil shift malam. Salah saya karena menanggapi si sopir mengobrol. Lalu, jika saya abaikan dia dan membuatnya (amit-amit) marah serta nekat, salah saya karena tidak ramah. Meskipun begitu, saya tetap bukan properti dia. Dia tidak perlu menjaga saya. Mungkin saya justru harus dijaga dari dia. Ah, saya melantur. Intinya, saya tidak suka dia bilang pada orang untuk menjaga saya seolah saya adalah properti dia yang rapuh. Ada batas privasi dan kebebasan yang, bagi saya, terlanggar begitu dia mengatakan begitu.

Anyway.

Keadaan mulai memuncak saat dia sendirian mengantar saya ke rumah. Dia bercerita tentang hidupnya. Saya dengarkan dan tanggapi karena pada dasarnya saya suka mengobrol. Mungkin saya yang salah. Saya selalu yang terakhir diantar karena rumah saya jauh. Dari rumah sebelum saya hingga ke rumah saya, dia mengemudi dengan sangat pelan. Saya tahu sangat pelan dan tidak wajar, karena dia biasa mengebut dari Kelapa Gading ke penumpang sebelum saya. Saya diamkan. Mungkin saya yang salah. Saya tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Itu yang pertama kalinya. Dia cerita, saya dengarkan. Saat saya mulai merasa sangat tidak nyaman, jarak ke rumah saya sudah dekat. Saya merasa tidak perlu memburu-buru. Saya takut dianggap berlebihan. Mungkin saya yang salah.

Saat itu, dia bilang mau mampir ke rumah saya hari Minggu lalu. Untuk meminta tanda tangan saya di surat lembur, karena dia lupa membawanya minggu lalu. Kalau saya tidak tanda tangan, dia tidak dapat lembur. Saya bilang saya tidak pernah ada di rumah saat hari Minggu. 

Dia pernah meminta nomor telepon saya untuk keperluan surat lembur itu. Saya berikan karena awalnya, hanya untuk janjian di kantor. Tidak apa-apa. Tapi, soal ke rumah di luar jam kerja adalah langkah yang terlalu jauh. Saya tidak suka. 

Puncaknya, minggu lalu. Hampir setiap hari selama seminggu, dia ikut mengantar saya pulang bersama dua orang temannya. Itu saja sudah membuat saya merasa tidak nyaman. Buat apa ada sopir sampai tiga orang? Dan malam itu, saya ketiduran di mobil. Tentu saya tidur hanya saat masih ada teman sebelum saya. Begitu dia pulang, saya terus terjaga.

Sopir B bertanya, "Mel, kok diem aja?" Saya jawab, "Ngantuk." Sopir A mulai bertanya kapan biasanya saya terbangun. Kapan saya tidur. Apakah saya langsung tidur sesampainya di rumah. (Saya lupa bilang, sopir A suka banyak bertanya tentang transportasi yang saya naiki sebelum berangkat, pukul berapa saya berangkat). Saya bilang "Saya tidak suka shift malam." Maksudnya, karena saya tidak suka diantar malam-malam oleh sopir. 

Siang harinya di rumah, saya terbangun mendapati SMS darinya yang bilang "Happy weekend ya Mel. Maaf aku nggak enak tadi kamu sampai ketiduran gitu. Semoga kamu cepat dapat kerjaan yang lebih baik." 

Bagi saya itu pelanggaran batas yang sudah kelewatan. 

Terlepas dari urusan profesi dan jabatan (mengingat dia adalah sopir sementara saya penerjemah, dia kerja lapangan sementara saya kerja di kantor), saya tidak suka dia mencampuradukkan pekerjaan dan urusan pribadi. Apalagi, pekerjaan kami mengharuskan kami ada di mobil saat larut malam (dengan saya satu-satunya perempuan, atau dengan kami hanya berdua). Saya balas SMS-nya, "Santai, Mas. Namanya kerja ada capeknya." Mungkin salah saya. Merasa mendapat angin, dia membalas dengan SMS yang bersifat menggodai. Jelas-jelas flirting, meski diucapkan dengan jenaka. 

Pada dasarnya, saya orang yang defensif terhadap laki-laki yang mendekati saya. Bukan karena saya cantik, karena orang tidak perlu jadi cantik untuk bisa pilih-pilih. Hanya saja, tidak pernah mudah bagi saya untuk membuka diri terhadap orang baru. Saya tidak percaya ada yang benar-benar menyukai saya tanpa maksud macam-macam. Mungkin di antara semuanya, sayalah yang paling tidak menyukai diri saya sendiri. Atau mungkin itu karena setiap saya merasa mulai bisa dekat dengan orang, mereka pergi. Mungkin itu karena ruang privasi saya yang terlalu besar. Didekati, malah menganggap orang melanggar privasi.

Saya yang seperti ini, dihadapkan pada situasi di mana ada orang yang mendekati dengan terang-terangan, dalam posisi ada banyak waktu berdua, dan waktu itu ada di antara pukul 2 - 4 pagi di mana jalanan sudah sepi dan langit gelap dan di dalam mobil. Bukankah sangat wajar jika saya menjadi sangat sensitif? Sebut saya paranoid. Tidak masalah. 

* * *

Hal lain yang menyebalkan (ya, ini memang menyebalkan) adalah begitu saya cerita pada teman saya di kantor (sesama perempuan!) mereka justru menanggapinya sebagai candaan. Saat Sopir A mengindikasikan ada perasaan pada saya, teman saya bilang: "Tuh, Mel. Gimana tuh, ditanya." Saat saya cerita padanya, betapa saya merasa risih, dia bilang "Abis lo jomblo sih, Mel." Seolah jomblo adalah pangkal masalah. Seolah jomblo adalah kesalahan. Seolah jomblo adalah kekurangan. Tapi sejak kapan sih, kehidupan didefinisikan dengan status hubungan asmara? Tidakkah jadi cetek sekali tolak ukurnya? Lalu, kalau jomblo, saya harus permisif dengan ini? Okelah, jika tidak seperti itu. Katakanlah kalau jomblo, saya jadi ada yang melindungi. Ada yang memagari. Lalu, eksistensi saya kembali jadi properti seseorang. Karena bukankah paradigmanya, perempuan memang pada akhirnya jadi properti laki-laki?

Kemudian saya mengadu pada seorang teman di kantor yang selalu berurusan dengan para sopir. Dia punya pacar yang juga sopir dulunya. Dia bilang sebelum ada apa-apa, jangan langsung bilang pada Kepala Bagian. Selama belum ada kontak fisik, belum ada apa-apa namanya. Argumen bodoh. Tentunya dia tidak familiar dengan peribahasa "Sedia payung sebelum hujan". Bagus kalau kontak fisiknya hanya sebatas dicolek (meski membayangkan itu terjadi saja sudah membuat saya mual). Bagaimana jika kontak fisiknya kembali ke yang tadi: perkosaan, penculikan, pelecehan seksual? Apa dia bisa bantu jika itu terjadi? Dia bilang, banyak yang sudah mengeluh. Tolong saya jangan mengeluh lagi. Bisa-bisa para sopir itu kena dimarahi, akhirnya kita juga yang kena imbasnya jika mereka menyetir ugal-ugalan untuk balas dendam. Lagi pula, ini masalah perasaan. Bukan masalah kantor.

* * *

Batin saya berkonflik. Di satu sisi, saya merasa perempuan bisa berdiri sendiri. Saya tahu sekarang feminisme banyak yang menentang catcalling laki-laki, saya tahu feminisme banyak bicara tentang kemandirian perempuan. Tapi saya tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa dalam situasi seperti ini (pulang larut malam, sendirian di mobil), tidak banyak pilihan bagi perempuan.

Saya ingin bilang bahwa paradigma perempuan yang pulang larut malam itu bukan perempuan baik-baik, perempuan yang pulang larut malam itu mengundang bahaya pada dirinya sendiri, sebagai paradigma yang salah. Saya ingin bilang perempuan berhak merasa aman. Tapi saya harus mengakui itu semua teori. Itu semua bentuk utopia. Sayangnya, manusia tidak terbentuk dari teori. Laki-laki akan tetap memiliki lebih banyak keuntungan jika berada dalam situasi ini, karena fisik yang lebih kuat dan jaminan dari paradigma sosial bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi, itu semua salah perempuan. 

Dari kacamata paradigma ini, jika ada sesuatu yang buruk terjadi, mungkin salah saya karena saya mau shift malam. Dari awal, saya yang salah.

Tuesday, October 20, 2015

Thoughts in this particular hour before midnight

I cannot put my thoughts into proper sentences, and I had to rewrite this over and over again in my head. It's just... considering my background as a born Muslim and a humanities studies undergrad, I'm sometimes torn apart between looking at matters through Muslim's eyes or humanities'.

For example, about LGBT... I know how important it is to be free to make your own choices. I know how the coming out of the LGBT community marks an important era of the rise of a minority group. As a woman who studied American history, I see this as a good-meaningful moment because I know how women were considered the second sex once; we were seen as the lower class. We were the minority. And the moment women were started to be treated almost equally, and we got to demand our rights... it changed everything for us. Now, women are more respected. I see the same thing with racism. When black people are finally considered as human beings, as the same with the whites, it was a great thing. As a human, I can't help but see this coming out of LGBT community as the same great thing.

However, as a born Muslim, I am afraid even thinking this way means glorifying sins. 

That's why I'm torn. 

Thursday, August 13, 2015

Cerita Musim Panas #4: Singapura! DAY ONE

"The world is a book, and those who do not travel read only one page." (Augustine of Hippo)
Sebagai pecinta buku dan pecinta kutipan-kutipan mengenai buku, gue pernah merasa kesal membaca kutipan di atas karena belum pernah traveling. Saat itu gue berpikir tidak akan bisa traveling. Gue selalu sulit mendapat izin orang tua. Namun, seiring pertambahan usia, gue akhirnya mendapat izin untuk bepergian dan berangkatlah gue ke Singapura.

Gue tahu, Singapura bukan lagi tujuan asing bagi sebagian besar orang Indonesia (dan mungkin juga sebagian besar masyarakat dunia). Siapa yang tidak kenal Orchard Road dan Little India? Siapa tidak pernah mendengar tentang Patung Merlion? Sedikitnya, orang pasti pernah ke Singapura minimal satu kali. Bahkan bagi gue, perjalanan kemarin ini bukan yang pertama kalinya. Dulu, meski hanya setengah hari, gue sudah pernah merasakan makan di Little India dan mengunjungi Jurong Bird Park.

Meski begitu, perjalanan kemarin adalah kali pertama gue benar-benar berkeliling Singapura.

Hari 1: 2 Agustus 2015
Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 11.20. Karena Singapura tidak terlalu jauh, perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Di pesawat, tempat duduk kami terpisah. Dua teman gue duduk bersama, sedangkan gue duduk di sebelah seorang nenek yang berasal dari Cibinong.

Seperti biasa kalau suasana hati gue sedang baik, gue bersedia bercakap-cakap (bahkan memulai percakapan) dengan orang asing. Begitu juga yang terjadi dengan si nenek ini. Beliau bercerita tentang tujuannya pergi ke Singapura, yaitu untuk mengunjungi besannya. Katanya, karena disibukkan dengan toko di Cibinong, mereka baru sempat pergi ke Singapura hari itu untuk halal bi halal. Awalnya gue pikir, langka sekali ada keluarga Muslim di Sngapura. Namun, ternyata memang begitu adanya (yang berarti pemikiran gue didasari oleh prasangka semata), dan justru (ini yang menarik) keluarga si nenek sebenarnya Katolik. Anak perempuannya menjadi mualaf setelah bertemu dengan suaminya. Kenapa menarik? Karena setahu gue, pemeluk agama Katolik sama taatnya dengan pemeluk agama Islam sehingga sulit dibayangkan bisa ada yang pindah agama. Tapi, begitulah adanya, dan itu membuktikan kepada saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. 

Sang nenek sangatlah baik. Beliau menawarkan gue makanan, yang jelas gue terima dengan senang hati karena gue memang lapar pada saat itu. Kemudian, saat gue kebingungan mengisi formulir imigrasi (karena itu adalah saat pertama bagi gue), beliau bahkan menawarkan formulir imigrasi anaknya untuk gue lihat sebagai contoh. Beliau bercerita bahwa dulu beliau pun sering bepergian bersama teman-teman ke luar negeri, tapi itu sudah lama sekali ketika masih muda. Sekarang, beliau sudah lupa cara mengisi formulir imigrasi. Gue menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan beliau.

Sesampainya di Singapura, gue dan kedua teman langsung menuju tempat pembelian tourist pass agar kami bisa menggunakan transportasi umum Singapura seperti MRT. Kami membaca di blog seorang traveler bahwa tourist pass cukup memudahkan (dan memurahkan) turis untuk berkeliling Singapura. Untuk tiga hari, harganya dua puluh dolar Singapura. Untuk tiketnya sendiri seharga sepuluh dolar Singapura, menjadikannya total 30 SGD, tapi tiket itu bisa diuangkan kembali setelah tiga hari. Hal itu bagus karena bisa dijadikan uang pegangan. Kita akan masih punya 10 SGD saat pulang nanti.

Setelah membeli tourist pass, kami segera bergerak menuju halte MRT Lavender, karena penginapan kami berada di sekitar situ. Kami berencana untuk menaruh barang, lalu segera pergi. Karena kami hanya punya waktu tiga hari di Singapura, kami harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

Nama penginapan kami adalah Gusti Bed and Breakfast. Pemiliknya bisa berbahasa Indonesia (dan menurut salah satu teman, di daerah itu memang ada banyak orang Indonesia), dan konon suaminya orang Bali. Namun, gue tidak bertanya-tanya lebih lanjut mengenai ini.

Satu hal yang menarik dari penginapan itu adalah dia berfungsi sebagai shared room. Artinya, nanti kami akan berbagi kamar dengan turis-turis lain, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Laki-laki ataupun perempuan akan ditempatkan seadanya kamar kosong, yang berarti kami tidak bisa terlalu pilih-pilih. Awalnya, gue khawatir dengan keamanannya. Tapi, prospek bertemu traveler lain terlalu menyenangkan untuk diabaikan.

Saat kami tiba di sana, kamar kami kosong. Hanya ada sebuah koper dengan name tag yang menunjukkan nama yang sangat Indonesia. Kebetulan juga, kata si pemilik, hanya ada perempuan di kamar kami. Kami meletakkan barang-barang, kemudian segera pergi untuk petualangan pertama kami.

Makan di Little India
Menurut Google, ada Festival Makanan Singapura hari itu. Karena kami bingung mau makan apa dan festival makanan terdengar menarik, kami memutuskan akan mengunjungi festival itu terlebih dulu. Namun, di Google, tidak ada lokasi jelas mengenai keberadaan si festival. Kami bertanya pada pemilik penginapan, katanya terletak di seberang Bugis Junction. Itulah alasan Bugis Street jadi tempat pertama yang kami kunjungi.

Namun, saat kami tiba di Bugis Street, tidak terlihat adanya festival makanan. Kami memutuskan untuk bertanya pada salesperson yang sedang membagi-bagikan pamflet di depan Bugis Junction. Dia sangat baik; dia tidak tahu juga tentang lokasinya, tapi dia berusaha mencarikan di internet. Sayangnya, tidak ada petunjuk jelas mengenai si festival. Hingga hari ini, kami masih bingung festival itu ada di mana.

Karena lapar, kami akhirnya memutuskan makan yang paling aman kehalalannya, yaitu restoran vegetarian di Little India. Kami dipandu ke sana oleh seorang guru seni yang kami temui di jalan. Fara yang bertanya padanya. Dia merekomendasikan restoran Komala Villas. Jadilah, makanan pertama kami di Singapura adalah makanan India.

Chappati plate dan set nasi biryani



Meski kurang cocok di lidah gue, sehingga gue tidak bisa makan terlalu banyak, gue mau makan makanan India lagi dan lagi. Ini kedua kalinya gue makan set nasi biryani; yang pertama di restoran India vegetarian yang terletak tidak jauh dari Komala Villas, yaitu Ananda Bhavan. Rasanya kurang lebih sama.

Kesan gue saat berada di Little India adalah bahwa tempat itu sangat ramai. Gue tidak tahu seperti apa aslinya rupa kota di India, tapi Little India sendiri jelas berbeda dari tempat-tempat lain di Singapura yang nanti satu per satu akan gue ceritakan. Di Little India, pasar segar - atau kios-kios yang menjual buah, paling tidak - cukup banyak terlihat. Kemudian, banyak penjual gelang-gelang manik-manik. Lalu, ada wangi dupa atau semacamnya (?) yang cukup kentara di tiap toko yang kami kunjungi.

Laser Show @ Marina Bay Sands
Kami tidak menghabiskan banyak waktu di Little India karena konon ada pertunjukkan laser di Marina Bay Sands. Jadi, kami naik MRT ke sana. Kendaraan umum di Singapura, jika dibandingkan dengan di Indonesia, jauh sekali bedanya. Di sana, kendaraan umum memfasilitasi warga lokal maupun turis dengan  sangat baik. Petunjuknya jelas dan mudah dimengerti. Kita hanya perlu membaca. Ditambah lagi, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa dominan di sana sehingga untuk menanyakan arah bisa lebih mudah. Warga Singapura pun, mungkin karena Singapura adalah negara yang banyak dikunjungi, terbuka terhadap turis dan sangat membantu.

Pokoknya, malam itu, dengan mudah kami mencapai Marina Bay Sands. Dari stasiun MRT ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki. Menurut gue, jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan di sana rapi dan lebih kosong daripada jalanan Jakarta, jadi kondisi untuk jalan kaki pun lebih nyaman.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh gemerlap lampu hias tersebar di seluruh area. Ada patung-patung angka yang menunjukkan pertumbuhan negara Singapura. Ada musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional China. Ada bangku-bangku santai tempat berbaring menikmati sungai (atau laut?) di malam hari yang dikelilingi lampu-lampu bangunan pencakar langit Singapura.






Suasana seperti itu saja sudah indah buat gue, meski terlalu romantis untuk dinikmati bersama teman-teman sesama jomblo, tapi pertunjukkan lasernya jauh lebih indah. Luar biasa!

Anyway, kami harus segera pulang karena takut ketinggalan MRT terakhir. Jadilah kami tidak menonton pertunjukkan lasernya hingga akhir. Sebelum pulang, kami sempatkan mengejar foto dengan bianglala dan Esplanade yang terlihat seperti durian raksasa dari kejauhan. Mungkin karena capek setelah seharian bergerak nonstop, gue sedikit sebal karena sedikit-sedikit harus foto. Gue yang tidak suka durian jadi semakin sebal dengan durian karena seseorang memastikan dirinya foto dengan Esplanade sebagai latar dari berbagai sisi. Tapi, ini baru setengah hari pertama. Buat apa bersungut-sungut karena itu?

Teman-teman seperjalanan gue mengeluh kaki mereka sakit karena alas kaki yang mereka gunakan kurang memadai dari segi kenyamanan. Tapi, apa daya, kami harus berjalan agar sampai ke penginapan. Meski pelan-pelan, akhirnya kami tiba di stasiun MRT dan kemudian naik MRT sampai di Stasiun Lavender yang berada di dekat penginapan. Dari sana, kami jalan lagi ke penginapan.

First Roommates
Kami bertanya-tanya siapa yang akan jadi teman sekamar kami. Jelas sekali orang Indonesia, tapi orang yang seperti apa? Saat kami tiba di kamar, ternyata mereka adalah cewek-cewek seusia kami. Awalnya, kami merasa senang karena teman seusia berarti teman. Namun, setelah mengamati, mereka ini ternyata semacam snob. Tanpa maksud mendiskreditkan anak-anak gaul, karena gaul itu boleh saja dan malah keren di saat-saat tertentu, di mata gue saat itu, mereka ini cuma tahu gaul. Sedikit bodoh dan jelas ignorant meski katanya mereka lulusan universitas ternama.

Bagi gue, shared room berarti kita harus berinteraksi dengan penghuni kamar selain kita. Buat apa pilih shared room kalau kita mau memperlakukan kamar seolah itu hanya dihuni oleh kita dan teman-teman kita? Shared room tidak seperti kendaraan umum di mana kita bisa duduk tanpa menyapa kanan-kiri. Kalau mau begitu, ada baiknya silakan saja menyewa kamar pribadi.

Tapi, karena memiliki pendapat berbeda itu sah-sah saja, jadi gue harus memaklumi mereka yang kelihatannya memiliki pendapat berbeda ini. Sebelumnya, dari mana gue tahu mereka punya pendapat berbeda? Alkisah, di kamar itu ada penghuni lain seperti mereka, yaitu seorang bapak yang tidak kelihatan rupanya karena konon pergi dari pagi hingga larut malam.  Sepertinya ada kesalahpahaman antara pemilik penginapan dengan si bapak, karena pemilik penginapan memberikan tempat tidur si bapak untuk gue. Jadilah gue bertanya-tanya pada cewek-cewek ini tentang teman sekamar mereka. Ternyata, cewek-cewek ini tidak tahu-menahu tentang si bapak.

Ada hal yang lucu tentang ini. Cewek-cewek itu bilang mereka suka menggosipkan si bapak yang konon mengorok dengan keras. Gue diam saja karena gue saat itu sedang dalam mode pengamatan; gue belum tahu kisah mereka. Lalu, karena gue perlu berinteraksi dengan si bapak mengenai masalah tempat tidur itu, gue mengajaknya ngobrol. Awalnya, dalam bahasa Inggris. Kemudian, dalam bahasa Indonesia. Ternyata si bapak adalah orang Indonesia! Gue berpikir, bagaimana perasaan cewek-cewek itu begitu tahu si bapak orang Indonesia.

Hal lucu kedua tentang gosip cewek-cewek itu adalah karena ternyata dua dari mereka mengorok dengan jauh lebih keras daripada si bapak. Mereka itu sekumpulan lelucon.

Kekesalan gue terhadap cewek-cewek itu didasari oleh kesan tidak sopan yang mereka tampilkan. Tanpa izin, mereka memakai extension colokan yang ada di kamar. Kami pikir itu punya mereka, mereka pikir itu punya kami. Ternyata itu punya si bapak. Kalau mereka sopan, tentu mereka akan meminta izin dulu kepada kami kalau mereka benar berpikir itu punya kami. Sekarang, itu ternyata punya si bapak, dan bahkan setelah mereka tahu, mereka bersikap seolah mereka tidak mendengar. Bicaranya, sih, mau belanja di Sephora, mau naik taksi ke sana dan ke sini, pamer ini-itu ke sosial media... tapi dengan sopan-santun minus seperti itu, kalau gue jadi mereka, gue akan malu.

Ditambah lagi, mereka sangat menyebalkan soal miskomunikasi tempat tidur itu. Tipikal orang yang hanya banyak bicara tanpa memberikan solusi. Tapi, sungguh, kekesalan gue menguap begitu gue mendengar cewek-cewek itu mengorok dengan keras. Bukan karena mengoroknya, karena semua orang bisa mengorok, gue pun begitu - tapi lebih karena mereka SANGAT termakan omongan sendiri. Sungguh, lain kali gue mungkin lebih baik ikut bergosip dengan mereka tentang mereka sendiri. Betapa lucunya.

Thursday, August 6, 2015

Cerita Musim Panas #3: Kedua Kalinya di Yogyakarta Tahun Ini!

Melanjutkan koleksi cerita musim panas yang sudah gue mulai dari musim panas dua tahun lalu, pada artikel ini gue akan menggunakan Bahasa Indonesia. Lagipula, gue memang agak merindukan bahasa negeri Ibu Pertiwi ini semenjak perjalanan yang akan gue ceritakan nanti pada bagian selanjutnya ;)

Musim panas sepertinya selalu tersenyum pada gue. Tidak hanya dua tahun lalu, pun 2014 musim panas gue dihiasi dengan kegembiraan. Jika pada tahun 2013 musim panas gue dihiasi dengan konser G-Dragon dan perjalanan bersama teman-teman Sastra Inggris ke Pulau Pramuka, pada tahun 2014 musim panas gue diisi oleh kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya - kelulusan yang diperindah juga karena terlaksana bersama sebagian teman-teman terdekat. Kemudian, tentu saja, ada ulang tahun yang selalu menjadi hari bahagia bagi gue. Mungkin bisa dibilang, bagi gue, ulang tahun tidak hanya di tanggal 22, melainkan satu bulan itu.

Tahun 2015 ini, musim panas kembali mengajak gue tersenyum dengan dua perjalanan besar. Yang pertama adalah perjalanan ke Yogya.

Yogyakarta, hingga perjalanan itu dilangsungkan, belum pernah memberikan kenangan yang begitu indah. Bukan karena tempat dan pemandangan yang tidak indah, melainkan karena dengan siapa gue pergi seringkali sangat mempengaruhi suasana hati gue. Sejujurnya, gue sedikit murung karena Yogya seharusnya adalah kota yang menenangkan. Jadi, meski sempat sedikit trauma dan tidak mau kembali ke Yogya untuk waktu lama, gue bertekad akan kembali ke Yogya untuk 'memperbaiki nama Yogya' di hati gue.

Jadilah tawaran Naya untuk menemaninya menemani Bela berlibur gue iyakan.

Kami menghabiskan waktu empat hari di sana, mulai tanggal 27 hingga 30 Juli. Hari pertama, begitu sampai, kami pergi ke hotel dan meletakkan barang. Salah satu dari keuntungan bepergian bersama Naya adalah karena fasilitasnya terjamin. Dulu ketika kami ke Bandung pun begitu.

Setelah bersih-bersih dan sholat, kami melanjutkan perjalanan ke luar. Kami tiba saat hari sudah menjelang malam, jadi waktu kami tidak banyak. Namun, kami memaksimalkan penggunaan waktu itu. Kami coba Gudeg Yu Djum cabang Malioboro yang ternyata kurang begitu terasa bumbunya. Lalu, kami pergi ke Alun-alun Kidul untuk naik becak hias/mobil hias yang terkenal itu.

Becak Hias

Dan yang di bawah ini kami di depan becak hias yang kami kendarai.


Seperti biasa, gue dengan kenafsuan gue segera berhasrat untuk mengitari Alkid sebanyak dua kali, tapi mas penjaga becak langsung menyarankan coba dulu saja sekali, baru nanti putuskan mau lanjut atau tidak. Ternyata gue memang perlu di-rem, karena setelah coba sekali, gue cepat capek.

Malam itu, kami juga ke Pasar Beringharjo karena Fajar titip beli apa saja yang aneh-aneh. Namun, memang, ya, ke Pasar Beringharjo di malam hari perlu pendamping laki-laki. Di sana, penjualnya mayoritas laki-laki, pembelinya juga mayoritas laki-laki. Gue memang jarang digodai karena mungkin mereka tidak berpikir gue terlihat cukup menarik, tapi Naya dan Bela rupanya lumayan dianggap menarik sehingga mereka sering dipanggil-panggil dan digoda-godai. Karena kasihan, akhirnya kami tidak menghabiskan waktu lama di sana.

*

Keesokan harinya, Bela jalan bersama pacarnya, sementara gue dan Naya memutuskan mencoba menaiki TransJogja yang meski menurut beberapa sumber jeleknya minta ampun, ternyata toh baik-baik saja dan enak digunakan. Cukup membantu bagi turis lokal seperti gue dan Naya.

Tujuan pertama kami dengan TransJogja itu adalah Kebon Binatang Gembira Loka. Gue dan Naya yang sebenarnya tidak punya tujuan konkrit akhirnya memutuskan melihat-lihat binatang. Untungnya, setiba kami di sana, Kebon Binatang Gembira Loka lebih memuaskan daripada ekspektasi gue.

Di sana, pengunjung bisa memberi makan burung dan berinteraksi langsung dengan merak yang dilepas begitu saja di taman burung.

Kemudian, mungkin karena kecil dan tidak terlalu banyak pengunjung (yang mungkin juga disebabkan itu hari sekolah), interaksi dengan binatag lebih mudah.


Begitulah hari kami di Gembira Loka. Tempatnya sendiri luas, tetapi masih bisa dikitari dengan jalan kaki saja. Tentu bila dibandingkan dengan Taman Safari, kebon binatang ini jauh lebih kecil ukurannya. Namun, menurut gue, tidak masalah selama pengunjung bisa melihat semuanya.

Keesokan harinya, kami pergi ke Candi Prambanan.


Tidak banyak yang bisa dilihat karena hampir setengah bagian area Candi Prambanan sedang direnovasi. Lalu, karena yang menemani bukanlah seseorang dengan ketertarikan pada situs-situs bersejarah, jadilah gue lebih banyak bengong mencoba menghayati syahdunya Prambanan. Salah juga, sih, karena saat itu di sana ramai dengan turis-turis yang hanya mencari spot-spot foto keren. Gue jadi inget saat-saat ke sana bareng murid-murid SMA yang tertarik dengan sejarah dan menceritakan pada gue sejarah masing-masing candi bak pemandu wisata handal.

Terkadang kangen murid juga ya, ternyata.

Selama di Yogya, kami pergi juga ke Taman Sari dan Kraton, tapi tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan. Meski Yogya masih belum memberikan kenangan yang luar biasa mengesankan, liburan kali ini sudah merupakan kemajuan besar dari kenangan buruk yang diberikan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Memang, dengan siapa kita pergi sangat berpengaruh pada kesan yang kita dapat.

Saat-saat paling membahagiakan bagi gue saat di Yogya adalah di malam terakhir ketika gue berkeliling Malioboro sendirian dan menemukan kedamaian dalam keramaian, kemudian menemukan kegembiraan dalam pertunjukkan seni angklung dan tari di jalanan Malioboro. Rasanya memang seperti itulah Yogyakarta yang seharusnya.

Semoga pada perjalanan ke Yogya selanjutnya, bisa lebih mengesankan!

Friday, July 3, 2015

My Happiness Project

I was unhappy just recently. A friend of mine shared the same unhappiness. My unhappiness was mostly caused by the blunder at work, and it dragged me to the point where other things in my life seemed as helpless and pointless. I felt like a failure. And of course the fact that I am still single in an environment where my friends are getting married or having the time of their life with their significant others adds another element of despair.

Thus, we, the unhappy people, decided to work on our happiness project. Basically, the idea is to open up more and to be grateful of little things in life, such as trying new things. In tonight's post, I would like to share how our happiness project going.

1) A jar of yearly happiness.
This project has actually been going on since last year, when I was working on my bachelor thesis. I was happy then, but I saw this brilliant idea on Instagram/Tumblr, and I was inspired to work on my own yearly happiness. So what you have to do is to write on a piece of small paper the things or moments that make you happy, or at least smile. The importance of this project is to appreciate the small happiness in your everyday life. It will go into effect when you look at your jar and see it filled with small rolls of paper, and when you open them all on the last day of the year. You will realize then how you are blessed with many happiness throughout the year. It reminds you to be thankful over and over again.

2) Quora
Quora is a website for open discussions about many things. My friend recommended it to me. We are both often take life too seriously and, man, are we thinkers. We contemplate about a lot of things: about finding love, about being judged by appearance, about not being beauty enough according to society's standards, about happiness, about religion and faith, about money, about the philosophy of life. In Quora, you meet many over-contemplating people alike, and you encounter many interesting questions and answers that just help channeling your inner thirst for discussion. Believe me, engaging yourself in Quora helps you (especially if you are as curious about the society with whom we live today as my friend and I). 
So far, the two things help me finding happiness. They free a little part of me who wants to fly away from the maze called reality. And they help me see that reality's not all bad.

3) Being a 'Yes' Man/Woman
Opening up and seeing life with new (better) perspective, more positive outlook, are easier said than done. However, being a 'Yes' woman can be one of the ways to start. My friend starts to use online community app to connect with new people, therefore creating new bonds and bringing fresh experience to her life. She also starts to accept blind dates arranged by her friends, therefore, again, creating new bonds and bringing fresh experience. Although it doesn't necessarily mean a lover is guaranteed for her, getting to know new people and expanding her world help her to see how small her problems are compared to the wide, wide universe surrounding her. As for me, I am not so lucky to have blind dates arranged for me (yet), but I try my best to believe my new connections are just around the corner.  

For those of you who happen to encounter similar problems and need to find happiness, I recommend the three for you. x