Saya hanya harus lebih percaya bahwa ini cukup.
Monday, December 8, 2014
Friday, December 5, 2014
New Job!
I got a new job as an English teacher for Garuda Cendekia middle school. I just had to share!
I didn't think I would be this excited. :)
I didn't think I would be this excited. :)
Thursday, December 4, 2014
Review: "Reluctant Fundamentalist" by Mohsin Hamid
Last year, I have written an amateurish review of the Reluctant Fundamentalist movie. It mesmerized me so much that I had wanted to read the book that inspired it until recently, I was able to get my hands on the book.
As mesmerizing as the movie, the book was a strong voice of someone almost directly damaged by the 9/11 tragedy - that is, Changez's voice. The narration was so sophisticated - that of a well-educated man with high culture - and it made me rethink my first impression of the movie. For a moment, I almost thought the movie was a vulgar interpretation of the book. What I meant by vulgar was that the movie has failed to bring the rich and sophisticated voice Changez had. It turned him into another immigrant pursuing his American dream. The very culture Changez brought with him wasn't felt. But that's the thing with interpretation; it depends on each person. I just happen to have different interpretation with the director of the movie.
By mentioning that, I have shown you how I feel toward the book. It awed me. But then again, I'm a book-person, so you can tell I'm a bit biased (for someone who discussed adaptation theory in her thesis, I have to admit the sin of comparing the book and the movie to find the better one is unforgivable - but please do! This is, after all, my preference. I will not do such thing were I to compare them in analytical term).
On the other hand, I realized many interesting things in the book, such as the possibility that Erica was the symbol of America, and so Changez's relationship with Erica symbolized his relationship with America. When I watched the movie, I was quite confused to relate the two relationships. The book gave better illustrations. The simultaneous recollections of the relationship with Erica and America was clear when it was shown that Erica suffered from severe nostalgia regarding her relationship with Chris. What followed was an explanation of how America seemed to have gone back to its postwar condition with the patriotism and devotion after the 9/11. (Considering this, the way Erica used Changez as her model/art object in the movie might meant that that was how America treated the Pakistanis after the tragedy: as something distant, something observable, displayed in the name of preservation. Erica in the movie, after all, seemed to have wanted to preserve her relationship with Changez.)
Another thing I realized is the significance of beard (outer appearance) of a certain race. I have read an analysis on Reluctant Fundamentalist about how beard has something to do with forming your identity, not just a facial accessory. It's a blessing that the world today seemed to not consider outer appearance as a matter so huge. . . since things like prejudice and stereotyping are now our concern (or could it be that I'm naive? After all, I don't live in America.)
I will not go deeper into this; I'm sure someone has analyze it somewhere (or if no one has, I would explain it properly in my analysis later). All in all, the book is great and it affects me so much, both in the content and the writing style. As a person whose dream is to be a writer, Mohsin Hamid's writing style is one of those I wish to be able to use (another one is Hamka's). Who knows I might write a novel about Indonesia in such a sophisticated and rich tone?
Jalan
Dihadapkan dengan jalan yang terbentang di depan mata, saya takut. Bukan berarti saya punya pilihan lain. Waktu saya di tanah yang sedang saya jejak ini telah habis; saatnya berpindah tempat. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri, saya takut.
Takut apa sebenarnya? Mungkin saya takut berusaha kemudian gagal. Takut mencoba kemudian tidak cocok. Takut terjebak dalam ketidakberhasilan. Mungkin juga saya telah terlalu nyaman dengan tanah ini; yang sudah saya kenal baik tiap helai rumputnya, tiap hembusan anginnya, tekstur permukaannya. Saya mungkin takut akan menjejak di tanah baru yang mungkin akan menelan saya.
Padahal kalau dipikir-pikir, segala kemungkinan itu memiliki dua sisi. Bisa buruk, bisa juga baik. Dan selalu ada penyesuaian untuk yang pertama kalinya.
Jadi untuk apa saya gemetar, segan mengambil langkah menuju tanah baru? Buat apa saya tahankan kaki saya dari mencoba? Saya tidak akan mati karena mencoba. Sementara kalau saya tidak mencoba, selamanya saya akan hidup dalam tempurung. Pengecut yang tidak tahu-menahu selain gelapnya tempurung; berasumsi dunia sama gelapnya. Atau burung dalam sangkar yang dimanja; tidak paham enaknya terbang menantang angin karena keenakan diberi makan.
Saya tidak akan takut! Akan saya ambil langkah itu. Akan terluka jika harus terluka; terjatuh bila harus terjatuh, tetapi saya akan maju.
Tidak akan selamanya saya hidup begini saja!
Takut apa sebenarnya? Mungkin saya takut berusaha kemudian gagal. Takut mencoba kemudian tidak cocok. Takut terjebak dalam ketidakberhasilan. Mungkin juga saya telah terlalu nyaman dengan tanah ini; yang sudah saya kenal baik tiap helai rumputnya, tiap hembusan anginnya, tekstur permukaannya. Saya mungkin takut akan menjejak di tanah baru yang mungkin akan menelan saya.
Padahal kalau dipikir-pikir, segala kemungkinan itu memiliki dua sisi. Bisa buruk, bisa juga baik. Dan selalu ada penyesuaian untuk yang pertama kalinya.
Jadi untuk apa saya gemetar, segan mengambil langkah menuju tanah baru? Buat apa saya tahankan kaki saya dari mencoba? Saya tidak akan mati karena mencoba. Sementara kalau saya tidak mencoba, selamanya saya akan hidup dalam tempurung. Pengecut yang tidak tahu-menahu selain gelapnya tempurung; berasumsi dunia sama gelapnya. Atau burung dalam sangkar yang dimanja; tidak paham enaknya terbang menantang angin karena keenakan diberi makan.
Saya tidak akan takut! Akan saya ambil langkah itu. Akan terluka jika harus terluka; terjatuh bila harus terjatuh, tetapi saya akan maju.
Tidak akan selamanya saya hidup begini saja!
Tuesday, December 2, 2014
.
Mungkin saya terlalu lama menunduk. Memandang layar bercahaya yang berhiasi kata, tenggelam dalam semesta yang dibuatnya. Memandang kertas kekuningan yang sama berhiasi kata, tenggelam pula dalam semesta yang dibuatnya. Karenanya, saat saya tengadahkan kepala itu dan saya tatap semesta yang diberikan kepada saya lalu saya abaikan, saya terkejut. Terkejut oleh banyaknya kepala-kepala lain menunduk, telinga-telinga lain menuli, mata-mata lain membuta. Bibir-bibir turun membentuk busur atau lurus seperti penggaris. Kami hidup tetapi tidak dalam semesta yang sama. Yang tertinggal dalam semesta yang sama tersebut adalah cangkang-cangkang kosong menunggu waktu mengubah raga menjadi debu.
Wednesday, May 7, 2014
A Projected Image
I am a projected image
A best friend in need
An obsessed lover
A loud and vocal girl
Foul-mouthed maiden
Straight As student
Fragile damsel in distress
Independent lady
Liberal thinker
Years gone by and only now I see
What am I but a projected image?
When does the inside matter?
A best friend in need
An obsessed lover
A loud and vocal girl
Foul-mouthed maiden
Straight As student
Fragile damsel in distress
Independent lady
Liberal thinker
Years gone by and only now I see
What am I but a projected image?
When does the inside matter?
Monday, March 10, 2014
Ranjana/Tikta
Ranjana -- seperti itulah kamu terlihat
Tapi kamu itu Tikta
Orang tanya apa yang kulihat darimu
Perlukah kujelaskan?
Tak urung kujawab juga pertanyaan bodoh mereka
Kukatakan hatimu terbuat dari emas
Persahabatan denganmu saja nilainya berat seberat emas
Ranjana si penggoda yang selalu tertawa
Ranjana yang selalu disukai orang
Sedangkan Tikta--
Ah, siapa yang tahu Tikta
Buat apa kenal Tikta jika kau sudah kenal Ranjana
Padahal Ranjana adalah Tikta dan Tikta adalah Ranjana
Padahal Ranjana tidak ada kalau bukan untuk Tikta
Sedang aku--aku melihat Tikta
Nyaman dan aman bergelung di balik Ranjana
Rapi sekali tertutupi hingga mudah terlewatkan
Kutanya, kenapa, Tikta?
Kenapa tidak keluar ke hadapan orang?
Orang merasa, Tikta menjawab
Sudah cukup orang merasa, biar Ranjana jadi wajahku
Tapi kamu itu Tikta
Orang tanya apa yang kulihat darimu
Perlukah kujelaskan?
Tak urung kujawab juga pertanyaan bodoh mereka
Kukatakan hatimu terbuat dari emas
Persahabatan denganmu saja nilainya berat seberat emas
Ranjana si penggoda yang selalu tertawa
Ranjana yang selalu disukai orang
Sedangkan Tikta--
Ah, siapa yang tahu Tikta
Buat apa kenal Tikta jika kau sudah kenal Ranjana
Padahal Ranjana adalah Tikta dan Tikta adalah Ranjana
Padahal Ranjana tidak ada kalau bukan untuk Tikta
Sedang aku--aku melihat Tikta
Nyaman dan aman bergelung di balik Ranjana
Rapi sekali tertutupi hingga mudah terlewatkan
Kutanya, kenapa, Tikta?
Kenapa tidak keluar ke hadapan orang?
Orang merasa, Tikta menjawab
Sudah cukup orang merasa, biar Ranjana jadi wajahku
Subscribe to:
Posts (Atom)