Tuesday, October 20, 2015

Thoughts in this particular hour before midnight

I cannot put my thoughts into proper sentences, and I had to rewrite this over and over again in my head. It's just... considering my background as a born Muslim and a humanities studies undergrad, I'm sometimes torn apart between looking at matters through Muslim's eyes or humanities'.

For example, about LGBT... I know how important it is to be free to make your own choices. I know how the coming out of the LGBT community marks an important era of the rise of a minority group. As a woman who studied American history, I see this as a good-meaningful moment because I know how women were considered the second sex once; we were seen as the lower class. We were the minority. And the moment women were started to be treated almost equally, and we got to demand our rights... it changed everything for us. Now, women are more respected. I see the same thing with racism. When black people are finally considered as human beings, as the same with the whites, it was a great thing. As a human, I can't help but see this coming out of LGBT community as the same great thing.

However, as a born Muslim, I am afraid even thinking this way means glorifying sins. 

That's why I'm torn. 

Thursday, August 13, 2015

Cerita Musim Panas #4: Singapura! DAY ONE

"The world is a book, and those who do not travel read only one page." (Augustine of Hippo)
Sebagai pecinta buku dan pecinta kutipan-kutipan mengenai buku, gue pernah merasa kesal membaca kutipan di atas karena belum pernah traveling. Saat itu gue berpikir tidak akan bisa traveling. Gue selalu sulit mendapat izin orang tua. Namun, seiring pertambahan usia, gue akhirnya mendapat izin untuk bepergian dan berangkatlah gue ke Singapura.

Gue tahu, Singapura bukan lagi tujuan asing bagi sebagian besar orang Indonesia (dan mungkin juga sebagian besar masyarakat dunia). Siapa yang tidak kenal Orchard Road dan Little India? Siapa tidak pernah mendengar tentang Patung Merlion? Sedikitnya, orang pasti pernah ke Singapura minimal satu kali. Bahkan bagi gue, perjalanan kemarin ini bukan yang pertama kalinya. Dulu, meski hanya setengah hari, gue sudah pernah merasakan makan di Little India dan mengunjungi Jurong Bird Park.

Meski begitu, perjalanan kemarin adalah kali pertama gue benar-benar berkeliling Singapura.

Hari 1: 2 Agustus 2015
Kami berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 11.20. Karena Singapura tidak terlalu jauh, perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Di pesawat, tempat duduk kami terpisah. Dua teman gue duduk bersama, sedangkan gue duduk di sebelah seorang nenek yang berasal dari Cibinong.

Seperti biasa kalau suasana hati gue sedang baik, gue bersedia bercakap-cakap (bahkan memulai percakapan) dengan orang asing. Begitu juga yang terjadi dengan si nenek ini. Beliau bercerita tentang tujuannya pergi ke Singapura, yaitu untuk mengunjungi besannya. Katanya, karena disibukkan dengan toko di Cibinong, mereka baru sempat pergi ke Singapura hari itu untuk halal bi halal. Awalnya gue pikir, langka sekali ada keluarga Muslim di Sngapura. Namun, ternyata memang begitu adanya (yang berarti pemikiran gue didasari oleh prasangka semata), dan justru (ini yang menarik) keluarga si nenek sebenarnya Katolik. Anak perempuannya menjadi mualaf setelah bertemu dengan suaminya. Kenapa menarik? Karena setahu gue, pemeluk agama Katolik sama taatnya dengan pemeluk agama Islam sehingga sulit dibayangkan bisa ada yang pindah agama. Tapi, begitulah adanya, dan itu membuktikan kepada saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. 

Sang nenek sangatlah baik. Beliau menawarkan gue makanan, yang jelas gue terima dengan senang hati karena gue memang lapar pada saat itu. Kemudian, saat gue kebingungan mengisi formulir imigrasi (karena itu adalah saat pertama bagi gue), beliau bahkan menawarkan formulir imigrasi anaknya untuk gue lihat sebagai contoh. Beliau bercerita bahwa dulu beliau pun sering bepergian bersama teman-teman ke luar negeri, tapi itu sudah lama sekali ketika masih muda. Sekarang, beliau sudah lupa cara mengisi formulir imigrasi. Gue menikmati perjalanan sambil mengobrol dengan beliau.

Sesampainya di Singapura, gue dan kedua teman langsung menuju tempat pembelian tourist pass agar kami bisa menggunakan transportasi umum Singapura seperti MRT. Kami membaca di blog seorang traveler bahwa tourist pass cukup memudahkan (dan memurahkan) turis untuk berkeliling Singapura. Untuk tiga hari, harganya dua puluh dolar Singapura. Untuk tiketnya sendiri seharga sepuluh dolar Singapura, menjadikannya total 30 SGD, tapi tiket itu bisa diuangkan kembali setelah tiga hari. Hal itu bagus karena bisa dijadikan uang pegangan. Kita akan masih punya 10 SGD saat pulang nanti.

Setelah membeli tourist pass, kami segera bergerak menuju halte MRT Lavender, karena penginapan kami berada di sekitar situ. Kami berencana untuk menaruh barang, lalu segera pergi. Karena kami hanya punya waktu tiga hari di Singapura, kami harus memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

Nama penginapan kami adalah Gusti Bed and Breakfast. Pemiliknya bisa berbahasa Indonesia (dan menurut salah satu teman, di daerah itu memang ada banyak orang Indonesia), dan konon suaminya orang Bali. Namun, gue tidak bertanya-tanya lebih lanjut mengenai ini.

Satu hal yang menarik dari penginapan itu adalah dia berfungsi sebagai shared room. Artinya, nanti kami akan berbagi kamar dengan turis-turis lain, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Laki-laki ataupun perempuan akan ditempatkan seadanya kamar kosong, yang berarti kami tidak bisa terlalu pilih-pilih. Awalnya, gue khawatir dengan keamanannya. Tapi, prospek bertemu traveler lain terlalu menyenangkan untuk diabaikan.

Saat kami tiba di sana, kamar kami kosong. Hanya ada sebuah koper dengan name tag yang menunjukkan nama yang sangat Indonesia. Kebetulan juga, kata si pemilik, hanya ada perempuan di kamar kami. Kami meletakkan barang-barang, kemudian segera pergi untuk petualangan pertama kami.

Makan di Little India
Menurut Google, ada Festival Makanan Singapura hari itu. Karena kami bingung mau makan apa dan festival makanan terdengar menarik, kami memutuskan akan mengunjungi festival itu terlebih dulu. Namun, di Google, tidak ada lokasi jelas mengenai keberadaan si festival. Kami bertanya pada pemilik penginapan, katanya terletak di seberang Bugis Junction. Itulah alasan Bugis Street jadi tempat pertama yang kami kunjungi.

Namun, saat kami tiba di Bugis Street, tidak terlihat adanya festival makanan. Kami memutuskan untuk bertanya pada salesperson yang sedang membagi-bagikan pamflet di depan Bugis Junction. Dia sangat baik; dia tidak tahu juga tentang lokasinya, tapi dia berusaha mencarikan di internet. Sayangnya, tidak ada petunjuk jelas mengenai si festival. Hingga hari ini, kami masih bingung festival itu ada di mana.

Karena lapar, kami akhirnya memutuskan makan yang paling aman kehalalannya, yaitu restoran vegetarian di Little India. Kami dipandu ke sana oleh seorang guru seni yang kami temui di jalan. Fara yang bertanya padanya. Dia merekomendasikan restoran Komala Villas. Jadilah, makanan pertama kami di Singapura adalah makanan India.

Chappati plate dan set nasi biryani



Meski kurang cocok di lidah gue, sehingga gue tidak bisa makan terlalu banyak, gue mau makan makanan India lagi dan lagi. Ini kedua kalinya gue makan set nasi biryani; yang pertama di restoran India vegetarian yang terletak tidak jauh dari Komala Villas, yaitu Ananda Bhavan. Rasanya kurang lebih sama.

Kesan gue saat berada di Little India adalah bahwa tempat itu sangat ramai. Gue tidak tahu seperti apa aslinya rupa kota di India, tapi Little India sendiri jelas berbeda dari tempat-tempat lain di Singapura yang nanti satu per satu akan gue ceritakan. Di Little India, pasar segar - atau kios-kios yang menjual buah, paling tidak - cukup banyak terlihat. Kemudian, banyak penjual gelang-gelang manik-manik. Lalu, ada wangi dupa atau semacamnya (?) yang cukup kentara di tiap toko yang kami kunjungi.

Laser Show @ Marina Bay Sands
Kami tidak menghabiskan banyak waktu di Little India karena konon ada pertunjukkan laser di Marina Bay Sands. Jadi, kami naik MRT ke sana. Kendaraan umum di Singapura, jika dibandingkan dengan di Indonesia, jauh sekali bedanya. Di sana, kendaraan umum memfasilitasi warga lokal maupun turis dengan  sangat baik. Petunjuknya jelas dan mudah dimengerti. Kita hanya perlu membaca. Ditambah lagi, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa dominan di sana sehingga untuk menanyakan arah bisa lebih mudah. Warga Singapura pun, mungkin karena Singapura adalah negara yang banyak dikunjungi, terbuka terhadap turis dan sangat membantu.

Pokoknya, malam itu, dengan mudah kami mencapai Marina Bay Sands. Dari stasiun MRT ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki. Menurut gue, jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan di sana rapi dan lebih kosong daripada jalanan Jakarta, jadi kondisi untuk jalan kaki pun lebih nyaman.

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh gemerlap lampu hias tersebar di seluruh area. Ada patung-patung angka yang menunjukkan pertumbuhan negara Singapura. Ada musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional China. Ada bangku-bangku santai tempat berbaring menikmati sungai (atau laut?) di malam hari yang dikelilingi lampu-lampu bangunan pencakar langit Singapura.






Suasana seperti itu saja sudah indah buat gue, meski terlalu romantis untuk dinikmati bersama teman-teman sesama jomblo, tapi pertunjukkan lasernya jauh lebih indah. Luar biasa!

Anyway, kami harus segera pulang karena takut ketinggalan MRT terakhir. Jadilah kami tidak menonton pertunjukkan lasernya hingga akhir. Sebelum pulang, kami sempatkan mengejar foto dengan bianglala dan Esplanade yang terlihat seperti durian raksasa dari kejauhan. Mungkin karena capek setelah seharian bergerak nonstop, gue sedikit sebal karena sedikit-sedikit harus foto. Gue yang tidak suka durian jadi semakin sebal dengan durian karena seseorang memastikan dirinya foto dengan Esplanade sebagai latar dari berbagai sisi. Tapi, ini baru setengah hari pertama. Buat apa bersungut-sungut karena itu?

Teman-teman seperjalanan gue mengeluh kaki mereka sakit karena alas kaki yang mereka gunakan kurang memadai dari segi kenyamanan. Tapi, apa daya, kami harus berjalan agar sampai ke penginapan. Meski pelan-pelan, akhirnya kami tiba di stasiun MRT dan kemudian naik MRT sampai di Stasiun Lavender yang berada di dekat penginapan. Dari sana, kami jalan lagi ke penginapan.

First Roommates
Kami bertanya-tanya siapa yang akan jadi teman sekamar kami. Jelas sekali orang Indonesia, tapi orang yang seperti apa? Saat kami tiba di kamar, ternyata mereka adalah cewek-cewek seusia kami. Awalnya, kami merasa senang karena teman seusia berarti teman. Namun, setelah mengamati, mereka ini ternyata semacam snob. Tanpa maksud mendiskreditkan anak-anak gaul, karena gaul itu boleh saja dan malah keren di saat-saat tertentu, di mata gue saat itu, mereka ini cuma tahu gaul. Sedikit bodoh dan jelas ignorant meski katanya mereka lulusan universitas ternama.

Bagi gue, shared room berarti kita harus berinteraksi dengan penghuni kamar selain kita. Buat apa pilih shared room kalau kita mau memperlakukan kamar seolah itu hanya dihuni oleh kita dan teman-teman kita? Shared room tidak seperti kendaraan umum di mana kita bisa duduk tanpa menyapa kanan-kiri. Kalau mau begitu, ada baiknya silakan saja menyewa kamar pribadi.

Tapi, karena memiliki pendapat berbeda itu sah-sah saja, jadi gue harus memaklumi mereka yang kelihatannya memiliki pendapat berbeda ini. Sebelumnya, dari mana gue tahu mereka punya pendapat berbeda? Alkisah, di kamar itu ada penghuni lain seperti mereka, yaitu seorang bapak yang tidak kelihatan rupanya karena konon pergi dari pagi hingga larut malam.  Sepertinya ada kesalahpahaman antara pemilik penginapan dengan si bapak, karena pemilik penginapan memberikan tempat tidur si bapak untuk gue. Jadilah gue bertanya-tanya pada cewek-cewek ini tentang teman sekamar mereka. Ternyata, cewek-cewek ini tidak tahu-menahu tentang si bapak.

Ada hal yang lucu tentang ini. Cewek-cewek itu bilang mereka suka menggosipkan si bapak yang konon mengorok dengan keras. Gue diam saja karena gue saat itu sedang dalam mode pengamatan; gue belum tahu kisah mereka. Lalu, karena gue perlu berinteraksi dengan si bapak mengenai masalah tempat tidur itu, gue mengajaknya ngobrol. Awalnya, dalam bahasa Inggris. Kemudian, dalam bahasa Indonesia. Ternyata si bapak adalah orang Indonesia! Gue berpikir, bagaimana perasaan cewek-cewek itu begitu tahu si bapak orang Indonesia.

Hal lucu kedua tentang gosip cewek-cewek itu adalah karena ternyata dua dari mereka mengorok dengan jauh lebih keras daripada si bapak. Mereka itu sekumpulan lelucon.

Kekesalan gue terhadap cewek-cewek itu didasari oleh kesan tidak sopan yang mereka tampilkan. Tanpa izin, mereka memakai extension colokan yang ada di kamar. Kami pikir itu punya mereka, mereka pikir itu punya kami. Ternyata itu punya si bapak. Kalau mereka sopan, tentu mereka akan meminta izin dulu kepada kami kalau mereka benar berpikir itu punya kami. Sekarang, itu ternyata punya si bapak, dan bahkan setelah mereka tahu, mereka bersikap seolah mereka tidak mendengar. Bicaranya, sih, mau belanja di Sephora, mau naik taksi ke sana dan ke sini, pamer ini-itu ke sosial media... tapi dengan sopan-santun minus seperti itu, kalau gue jadi mereka, gue akan malu.

Ditambah lagi, mereka sangat menyebalkan soal miskomunikasi tempat tidur itu. Tipikal orang yang hanya banyak bicara tanpa memberikan solusi. Tapi, sungguh, kekesalan gue menguap begitu gue mendengar cewek-cewek itu mengorok dengan keras. Bukan karena mengoroknya, karena semua orang bisa mengorok, gue pun begitu - tapi lebih karena mereka SANGAT termakan omongan sendiri. Sungguh, lain kali gue mungkin lebih baik ikut bergosip dengan mereka tentang mereka sendiri. Betapa lucunya.

Thursday, August 6, 2015

Cerita Musim Panas #3: Kedua Kalinya di Yogyakarta Tahun Ini!

Melanjutkan koleksi cerita musim panas yang sudah gue mulai dari musim panas dua tahun lalu, pada artikel ini gue akan menggunakan Bahasa Indonesia. Lagipula, gue memang agak merindukan bahasa negeri Ibu Pertiwi ini semenjak perjalanan yang akan gue ceritakan nanti pada bagian selanjutnya ;)

Musim panas sepertinya selalu tersenyum pada gue. Tidak hanya dua tahun lalu, pun 2014 musim panas gue dihiasi dengan kegembiraan. Jika pada tahun 2013 musim panas gue dihiasi dengan konser G-Dragon dan perjalanan bersama teman-teman Sastra Inggris ke Pulau Pramuka, pada tahun 2014 musim panas gue diisi oleh kelulusan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya - kelulusan yang diperindah juga karena terlaksana bersama sebagian teman-teman terdekat. Kemudian, tentu saja, ada ulang tahun yang selalu menjadi hari bahagia bagi gue. Mungkin bisa dibilang, bagi gue, ulang tahun tidak hanya di tanggal 22, melainkan satu bulan itu.

Tahun 2015 ini, musim panas kembali mengajak gue tersenyum dengan dua perjalanan besar. Yang pertama adalah perjalanan ke Yogya.

Yogyakarta, hingga perjalanan itu dilangsungkan, belum pernah memberikan kenangan yang begitu indah. Bukan karena tempat dan pemandangan yang tidak indah, melainkan karena dengan siapa gue pergi seringkali sangat mempengaruhi suasana hati gue. Sejujurnya, gue sedikit murung karena Yogya seharusnya adalah kota yang menenangkan. Jadi, meski sempat sedikit trauma dan tidak mau kembali ke Yogya untuk waktu lama, gue bertekad akan kembali ke Yogya untuk 'memperbaiki nama Yogya' di hati gue.

Jadilah tawaran Naya untuk menemaninya menemani Bela berlibur gue iyakan.

Kami menghabiskan waktu empat hari di sana, mulai tanggal 27 hingga 30 Juli. Hari pertama, begitu sampai, kami pergi ke hotel dan meletakkan barang. Salah satu dari keuntungan bepergian bersama Naya adalah karena fasilitasnya terjamin. Dulu ketika kami ke Bandung pun begitu.

Setelah bersih-bersih dan sholat, kami melanjutkan perjalanan ke luar. Kami tiba saat hari sudah menjelang malam, jadi waktu kami tidak banyak. Namun, kami memaksimalkan penggunaan waktu itu. Kami coba Gudeg Yu Djum cabang Malioboro yang ternyata kurang begitu terasa bumbunya. Lalu, kami pergi ke Alun-alun Kidul untuk naik becak hias/mobil hias yang terkenal itu.

Becak Hias

Dan yang di bawah ini kami di depan becak hias yang kami kendarai.


Seperti biasa, gue dengan kenafsuan gue segera berhasrat untuk mengitari Alkid sebanyak dua kali, tapi mas penjaga becak langsung menyarankan coba dulu saja sekali, baru nanti putuskan mau lanjut atau tidak. Ternyata gue memang perlu di-rem, karena setelah coba sekali, gue cepat capek.

Malam itu, kami juga ke Pasar Beringharjo karena Fajar titip beli apa saja yang aneh-aneh. Namun, memang, ya, ke Pasar Beringharjo di malam hari perlu pendamping laki-laki. Di sana, penjualnya mayoritas laki-laki, pembelinya juga mayoritas laki-laki. Gue memang jarang digodai karena mungkin mereka tidak berpikir gue terlihat cukup menarik, tapi Naya dan Bela rupanya lumayan dianggap menarik sehingga mereka sering dipanggil-panggil dan digoda-godai. Karena kasihan, akhirnya kami tidak menghabiskan waktu lama di sana.

*

Keesokan harinya, Bela jalan bersama pacarnya, sementara gue dan Naya memutuskan mencoba menaiki TransJogja yang meski menurut beberapa sumber jeleknya minta ampun, ternyata toh baik-baik saja dan enak digunakan. Cukup membantu bagi turis lokal seperti gue dan Naya.

Tujuan pertama kami dengan TransJogja itu adalah Kebon Binatang Gembira Loka. Gue dan Naya yang sebenarnya tidak punya tujuan konkrit akhirnya memutuskan melihat-lihat binatang. Untungnya, setiba kami di sana, Kebon Binatang Gembira Loka lebih memuaskan daripada ekspektasi gue.

Di sana, pengunjung bisa memberi makan burung dan berinteraksi langsung dengan merak yang dilepas begitu saja di taman burung.

Kemudian, mungkin karena kecil dan tidak terlalu banyak pengunjung (yang mungkin juga disebabkan itu hari sekolah), interaksi dengan binatag lebih mudah.


Begitulah hari kami di Gembira Loka. Tempatnya sendiri luas, tetapi masih bisa dikitari dengan jalan kaki saja. Tentu bila dibandingkan dengan Taman Safari, kebon binatang ini jauh lebih kecil ukurannya. Namun, menurut gue, tidak masalah selama pengunjung bisa melihat semuanya.

Keesokan harinya, kami pergi ke Candi Prambanan.


Tidak banyak yang bisa dilihat karena hampir setengah bagian area Candi Prambanan sedang direnovasi. Lalu, karena yang menemani bukanlah seseorang dengan ketertarikan pada situs-situs bersejarah, jadilah gue lebih banyak bengong mencoba menghayati syahdunya Prambanan. Salah juga, sih, karena saat itu di sana ramai dengan turis-turis yang hanya mencari spot-spot foto keren. Gue jadi inget saat-saat ke sana bareng murid-murid SMA yang tertarik dengan sejarah dan menceritakan pada gue sejarah masing-masing candi bak pemandu wisata handal.

Terkadang kangen murid juga ya, ternyata.

Selama di Yogya, kami pergi juga ke Taman Sari dan Kraton, tapi tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan. Meski Yogya masih belum memberikan kenangan yang luar biasa mengesankan, liburan kali ini sudah merupakan kemajuan besar dari kenangan buruk yang diberikan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Memang, dengan siapa kita pergi sangat berpengaruh pada kesan yang kita dapat.

Saat-saat paling membahagiakan bagi gue saat di Yogya adalah di malam terakhir ketika gue berkeliling Malioboro sendirian dan menemukan kedamaian dalam keramaian, kemudian menemukan kegembiraan dalam pertunjukkan seni angklung dan tari di jalanan Malioboro. Rasanya memang seperti itulah Yogyakarta yang seharusnya.

Semoga pada perjalanan ke Yogya selanjutnya, bisa lebih mengesankan!

Friday, July 3, 2015

My Happiness Project

I was unhappy just recently. A friend of mine shared the same unhappiness. My unhappiness was mostly caused by the blunder at work, and it dragged me to the point where other things in my life seemed as helpless and pointless. I felt like a failure. And of course the fact that I am still single in an environment where my friends are getting married or having the time of their life with their significant others adds another element of despair.

Thus, we, the unhappy people, decided to work on our happiness project. Basically, the idea is to open up more and to be grateful of little things in life, such as trying new things. In tonight's post, I would like to share how our happiness project going.

1) A jar of yearly happiness.
This project has actually been going on since last year, when I was working on my bachelor thesis. I was happy then, but I saw this brilliant idea on Instagram/Tumblr, and I was inspired to work on my own yearly happiness. So what you have to do is to write on a piece of small paper the things or moments that make you happy, or at least smile. The importance of this project is to appreciate the small happiness in your everyday life. It will go into effect when you look at your jar and see it filled with small rolls of paper, and when you open them all on the last day of the year. You will realize then how you are blessed with many happiness throughout the year. It reminds you to be thankful over and over again.

2) Quora
Quora is a website for open discussions about many things. My friend recommended it to me. We are both often take life too seriously and, man, are we thinkers. We contemplate about a lot of things: about finding love, about being judged by appearance, about not being beauty enough according to society's standards, about happiness, about religion and faith, about money, about the philosophy of life. In Quora, you meet many over-contemplating people alike, and you encounter many interesting questions and answers that just help channeling your inner thirst for discussion. Believe me, engaging yourself in Quora helps you (especially if you are as curious about the society with whom we live today as my friend and I). 
So far, the two things help me finding happiness. They free a little part of me who wants to fly away from the maze called reality. And they help me see that reality's not all bad.

3) Being a 'Yes' Man/Woman
Opening up and seeing life with new (better) perspective, more positive outlook, are easier said than done. However, being a 'Yes' woman can be one of the ways to start. My friend starts to use online community app to connect with new people, therefore creating new bonds and bringing fresh experience to her life. She also starts to accept blind dates arranged by her friends, therefore, again, creating new bonds and bringing fresh experience. Although it doesn't necessarily mean a lover is guaranteed for her, getting to know new people and expanding her world help her to see how small her problems are compared to the wide, wide universe surrounding her. As for me, I am not so lucky to have blind dates arranged for me (yet), but I try my best to believe my new connections are just around the corner.  

For those of you who happen to encounter similar problems and need to find happiness, I recommend the three for you. x

Wednesday, June 17, 2015

On Leaving School and Moving Forward

For those of you who don't know (and who might care enough to read this post - I know one of my students follow my blog, so this is for if you read it), I am leaving school. It'll probably be official on July 5. The reason of leaving is not important for you, but just know that IT IS NOT BECAUSE OF YOU GUYS. Students were never the reason.

Anyway, I think it is great to know that in that short period, I got new friends. I made new bonds. I know this because earlier someone sent me the quote about friends and she told me I am a good enough friend. It warmed my heart, truly. And some fellow teachers actually told me they will miss me when I'm gone. I don't know if this is the Leo part in me (I'm actually the Cusp of Exposure, so I'm part-Leo, part-Virgo), but those kinds of thing make me happy; you know, to be liked. It sounds pathetic, I know.

Some of my students also said that they will miss me, and - this was the surprising part - some of them declared that I was one of their favorite teachers. I have zero talent in teaching, and I am aware some students (if not all) see me as an Omega, so the declaration came off as a pleasant surprise for me. At least they consider me as a friend. I'd like to keep it that way if they would.

Unfortunately, this melancholy is not enough to keep me here. Overall, I still think my decision to leave work at school is the best for us all, although it had been completely unannounced until the very last second and I really am sorry for that. 

Hence, now is the time for another new chapter in 2015. I honestly don't want to look back at the unfortunate events that have happened if it is not necessary. I got my life back, why bother getting burnt by the past? Let's just hope this one lasts longer that the previous one.

Monday, June 8, 2015

Almost!

"You wanna fly, you got to give up the shit that weighs you down." - Toni Morrison, Song of Solomon
“I am free, no matter what rules surround me. If I find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.”  - Robert A. Heinlein
“Letting go gives us freedom, and freedom is the only condition for happiness. If, in our heart, we still cling to anything - anger, anxiety, or possessions - we cannot be free.” - Thich Nhat Hanh, The Heart of the Buddha's Teaching: Transforming Suffering into Peace, Joy, and Liberation
“And the turtles, of course...all the turtles are free, as turtles and, maybe, all creatures should be.” - Dr. Seuss, Yertle the Turtle and Other Stories
“If other people do not understand our behavior—so what? Their request that we must only do what they understand is an attempt to dictate to us. If this is being "asocial" or "irrational" in their eyes, so be it. Mostly they resent our freedom and our courage to be ourselves. We owe nobody an explanation or an accounting, as long as our acts do not hurt or infringe on them. How many lives have been ruined by this need to "explain," which usually implies that the explanation be "understood," i.e. approved. Let your deeds be judged, and from your deeds, your real intentions, but know that a free person owes an explanation only to himself—to his reason and his conscience—and to the few who may have a justified claim for explanation.” - Erich Fromm, The Art of Being 
 “She had not known the weight until she felt the freedom.” - Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter
 “Free at last, Free at last, Thank God almighty we are free at last.” - Martin Luther King Jr., I Have a Dream: Writings and Speeches That Changed the World

*

So, the reason behind these rows of quotes about freedom is the fact that I have submitted my resignation letter to the school. Well, technically, it was not a letter, but I have spoken to the human resource division and they warmly welcomed my resignation. 

I cannot explain how I thankful I was for being received so pleasantly although she said how hard it is to find new teachers, especially when I notified them in such short notice. In my defense, there is no rule in the legal contract that says I have to notify them at least three months before the end of the contract term. I was still in probation period, anyway. We would have to sit and talk about the continuation of my stay there, anyway. And I have planned to quit, anyway. 

The only problem now is my co-worker, my partner in class, the one who hired me. I haven't told her yet, but I think I will as soon as the term really ends. That means I probably will do it after the graduation. 

My attitude toward this whole thing is sorry not sorry. I am not too sorry about leaving the school in such difficult situation because I just am not. There are too many painful things there and I'd better save my ass before it stuck longer and I can't bail. I know I've made the right decision for now because I felt lighthearted almost as soon as I notified the school.

If you (or anyone) must know, the students were never the reason for me to leave. They could be difficult at times, they could be really disrespectful and think of me more as a peer than a teacher, but they were not so much a pain in the ass. As I am sure I have mentioned somewhere on my previous posts, they were teenagers. They were of age. And they were what teacher is about. I see them the way I see documents that need translating: they are not wrong. The fault is in the aspects surrounding them. 

I won't spoil your reading by giving further detail about the fault because it has been enough said in this post and in other posts regarding my soon-to-be ex-job. Just bear in mind that I am happy enough to have my life back.

Friday, May 29, 2015

I just talked to my mother about my longing heart. Everything in my life lately is about the longing to go, not toward someplace, but from here. About the longing to find God not in a place where God's name has been stained with prejudice and extremity and fanaticism. About the longing to escape from the suffocating reality of a "dry, yeastless factuality".

Sometimes I wonder if she regrets having let me study at the faculty of humanities. I wonder if she regrets having let me read all the books I've read. But my world has become so small; it's trapping me inside. It has become so limited. I am chained to my own life.

Hence, I live many lives. I acquaint myself with great books because
A great book should leave you with many experiences, and slightly exhausted at the end. You live several lives while reading. (William Styron)
 I am so at a point of no return.