Tuesday, June 19, 2012

Kelinci

Baru-baru ini di kosan saya, Wisma Andayani, ada yang memelihara kelinci. Kira-kira baru dua minggu yang lalu kelinci-kelinci itu tiba di kosan. Awalnya, kelinci-kelinci itu begitu lucu (meskipun saya jauh lebih menyukai kucing dibanding kelinci). Saya tidak protes karena saya pernah membaca artikel yang menyatakan bahwa orang yang memelihara binatang memiliki potensi stres yang jauh lebih rendah dibanding orang yang tidak memelihara binatang. Lagipula, saat itu saya berpikir mungkin tidak ada salahnya ada kelinci di lingkungan kosan.

Seiring berjalannya waktu, ternyata keberadaan kelinci di kosan hanya membuat saya terganggu dan kesal. Produksi kotoran kelinci ternyata luar biasa banyak dan sering. Ditambah lagi, posisi kandangnya ada di depan kamar saya. Bau yang menguar, baik dari kotoran kelinci maupun dari kelincinya sendiri, masuk dan berdiam di kamar saya. Jadi, kemarin pagi saya meminta teman saya untuk memindahkan kandangnya.

Namun. . .

Kelincinya mati satu. Di antara dua, sekarang tersisa satu.

Kasihan, tapi bukan hal yang aneh. Kenapa?  Karena lingkungan hidup yang tidak sehat:
  1. Kandang yang terlalu kecil. Untuk kelinci seukuran satu setengah bola baseball, kandang yang digunakan hanya cukup untuk tempat dua hamster kecil berlarian bebas. Ditambah lagi, kandang itu ditempati dua kelinci sekaligus. 
  2. Kelinci-kelinci itu hidup berdampingan dengan kotorannya. Entah teman saya yang tidak telaten membersihkan atau, seperti yang saya bilang, produksi kotoran kelinci sangat banyak. . .yang jelas kelinci-kelinci itu terlalu lama berkubang dalam kotorannya sendiri. Jelas tidak sehat untuk kelinci itu sendiri dan untuk manusia yang tinggal bersamanya.
  3. Kosan (ternyata) bukan tempat yang tepat untuk memelihara binatang. Bukan hanya kelinci, tapi untuk semua binatang yang terpaksa dikurung di kandang. Apalagi, sebagai mahasiswa, tentunya waktu akan terbagi untuk kegiatan di kampus dan akademis.
Pada saat kelincinya mati, saya merasa sedih. Tapi, rasa sedih itu lebih karena simpati daripada karena benar-benar merasa kehilangan. Mungkin karena saya tidak terikat secara emosional pada kelinci-kelinci itu. Di sisi lain, saya justru ingin menimpakan semua kesalahan pada teman saya sebagai sang pemilik. Banyak 'seharusnya' yang ingin saya lontarkan, tapi saya rasa dia sudah mengerti kesalahannya sendiri.

Paling tidak, saya berharap begitu.

Bagi kalian para pembaca, jadikanlah teman saya sebagai contoh. Bukan contoh untuk ditiru, tapi contoh untuk dihindari. Jika kalian ingin memelihara binatang, paling tidak pastikan lingkungannya sehat baik untuk kalian dan binatang itu sendiri, dan juga pastikan binatang itu menerima perhatian yang cukup dari kalian sebagai pemiliknya.

Don't let them suffer! 

No comments:

Post a Comment