It's irritating to get "whatever" as an answer. Especially when I no longer believe that the person answering is not interested at all in what I'm saying.
Kalau ada orang menjawab "terserah", atau "bebas" (sebagaimana sekarang kayaknya mulai banyak dipakai), rasanya orang tersebut tidak tertarik dengan pembicaraan. Dengan saya sebagai pembicaranya, dan dengan topik pembicaraan saya.
Saya dikenal sebagai orang yang ribet. Kenapa?
Karena saya, katanya, sangat suka menuruti peraturan. Dan mungkin terlalu banyak yang saya pertimbangkan. Dalam memutuskan berbagai macam perihal, saya terlalu banyak memperhitungkan aspek-aspek yang ada. Memang, bahkan saya sendiri sadar saya terlalu banyak berpikir.
Sedikit banyak hal itu membuat saya kesal sendiri dengan diri saya, tapi saya juga sangat kesal terhadap mereka yang menjawab begitu. Saya terbiasa memikirkan berbagai aspek karena saya, jeleknya, adalah perfeksionis. Mungkin alasan saya tidak bisa akur dengan mereka yang berulangkali menjawab "terserah" dan "bebas" adalah karena mereka orang-orang yang laidback, jauh lebih santai dari saya.
Rasanya tidak ada yang salah dari menjadi seorang perfeksionis maupun laidback. Yang salah adalah saat titik ekstrim dari keduanya dipertemukan. Mungkin saya perfeksionis yang terlalu ekstrim (dalam beberapa hal) dan ada orang-orang yang laidback-nya terlalu ekstrim juga. Hal itu menyebabkan bentrok terus-menerus.
Tapi jujur saja, jawaban "terserah" dan "bebas" itu menurut saya, menunjukkan ketidaktertarikan dan tidak adanya penghargaan. Duh, saya jadi ingin meninggalkan semua orang yang menjawab terserah.
Ini terakhir kalinya saya bekerja sama dengan orang yang terus-menerus menjawab begitu dan jelas-jelas menganggap saya menyebalkan. There would be no next time.
Haters gonna hate, pals!
No comments:
Post a Comment