Friday, December 26, 2014

Indonesians are built for drama. Or so I read. Nevertheless, it was proven when this morning I happened to watch a supposedly fun quiz show on TV stained by tears and 'sincere' prayer. I simply couldn't comprehend where the fun is anymore.

Thursday, December 25, 2014

.

So I don't listen to Arctic Monkeys or The Smiths or Joy Division. So I don't shop at Wakai or Argyle and Oxford. So I don't buy Jansport. So I don't have a tab. Any tab. So I don't listen to the radio a lot. So I don't hang out at coffee shops. So I don't watch many TV shows. So I've never been to some places. So I'm not thinking of marriage anytime soon. So I'm not in the place I had thought myself would be. So I'm not into fashion.

So my android sucks. So I live in Bekasi. So I cover my head. So I like Christmas. So I skip my daily prayers. So I still believe in my God. So I listen to mainstream pop songs. So I weigh more than most of my friends. So I work as a teacher in Indonesia. So I find people okay, even the poorest and the most countrified. So I question the superficiality of Indonesians' state of religiousness. So I still write in a diary. So I tell lame jokes. So I hate some people. 

SO?

I am my own person.

Ken, Irina dan Agama

Terkadang Ken merasa Irina ateis, dan pikiran itu membuatnya takut. Mereka tumbuh bersama dan meski telah banyak perbedaan yang menjauhkan mereka dari satu sama lain, Ken tetap takut membayangkan Irina tidak bertuhan.

Tidak, tidak tidak bertuhan, menurut Irina. Tetap bertuhan, tapi entah kenapa tidak beragama. Dan Ken takut. Dia pernah bertanya apakah Irina percaya dengan surga dan neraka. Irina tidak tahu. Irina ingin percaya, tapi Irina lebih percaya dengan hubungan spiritualnya dengan Tuhan. Teleponnya dengan Tuhan.

Ken pernah bertanya apakah Irina yakin Tuhan yang mereka sembah adalah satu-satunya Tuhan semesta, dan agama mereka adalah agama yang paling benar. Irina berkata kebenaran itu subjektif. Penganut agama manapun akan merasa agamanya yang paling benar.

Lihat? Hal-hal seperti itulah yang membuat Ken takut.

Takut Irina sudah terlalu jauh dari agama. Karena Ken sendiri tidak tahu batasan kafir. Ilmu agamanya masih kurang. Tapi Irina selalu percaya, selalu mengimani adanya Sang Pencipta. Hanya saja, keimanan itu tidak dibatasinya pada satu lingkup agama - tidak dibatasinya pada ritual-ritual ibadah.

Tuesday, December 23, 2014

The Whole of Two Haikus

#1
Grey winter sky hid
the sun and stars and glory
But now - it is spring!

#2
For the boy, the rain
fell; flowers bloomed; animals
sang; nature, too, smiled

Monday, December 22, 2014

A quick update!

I rent a new room at a kosan near my work place. It's so unexpectedly near, thank God. Rumah Ungu: that's how they named it. Oh, the possibility of living by myself thrills me. You know, almost four-and-a-half year ago, I freaked out at the thought of living away from my parents. It was a blessing that I shared the room with a high school friend, Zera - we faced the new world basically almost just the two of us before Fara came along. And then there was Efa. And Kak Imel. And Kak Ncha. And Kak Sylvi. And suddenly I grew accustomed to that world. And now here I am, faced with yet another chance of starting a new world - thrilled, not freaked out. It's a huge step-up.

Speaking of an accustomed world, I had another one from which some of us graduated last August. And after some period where it seemed our clock stopped ticking (interview rejections, ignored CVs, self-doubts, complaints, me-times, karaokes), Dimas got himself a new job at a public relation company. Then Jessica and her marketing training (from which she finally resigned). Then me with my English-teaching profession. And just today, Fajar received an official statement that he passed the entrance exam for his Master program. He'll be studying social psychology - a good major for him, I should say, because despite his intense interest in the feminism, psychoanalysis, pop culture and philosophy we learnt in English studies, it didn't seem he truly fit in. I'm sure this path leads everywhere he's meant to be. Meanwhile, Marco helps his mother out at school in their neighborhood and Ruth is working her way with her translation projects. Our clock is back on track.

You know what? I used to think there would be no pause in our clock. Life was so amazing back at college, and that was only a term ago! But eventually it paused. I guess that's just how life is. You think the ride will never end, but it's a given that it will.

I don't know, could the others also think this way? Could Rendy, Efa, Rizky and Nirma also feel this way, too? Or will they find their clock halt to a pause, too, afterwards? And will they also find that this boat called life take you to unplanned places? I did. I believed I have mentioned how I had never pictured myself as a teacher, not to mention educator. Whoa, the burden on that word alone.

But, well, after all... doesn't it mean I'm starting a new ride to another new world? I might as well prepare myself. Who knows I might enjoy it even better? ;)




Or if I should fall, at my age, this ride can still be restarted and restarted.




But then again, let's just not wish for a fall. It's wiser this way.
You don't know how much it kills me. Feels like my lifespan just shortened. And all that, while it's yours to worry; not mine.

Wednesday, December 17, 2014

Islamku (2)

Saya sedih. Sungguh. Bicara tentang Islam di Indonesia, sulit sekali untuk tidak berduka. Sulit sekali untuk tidak bingung.

Bukan kapabilitas saya untuk bicara tentang yang benar dan salah dalam Islam karena sekalipun saya menganutnya dari lahir, saya belum mempelajarinya dengan benar. Referring to my previous post about this, anyone can tell that Islam for me is a given. Karena itu, siapapun yang kebetulan telah lebih baik berkenalan dengan Islam kemudian kebetulan membaca tulisan saya ini bisa jadi akan mengerenyitkan dahi dan mencibir: "Kalau begitu, tidak usah bicara tentang Islam. Tulisan ini tidak akan valid. Tahu apa dia tentang yang dosa dan yang tidak?" Tidak apa, mungkin akan ada yang salah dalam tulisan saya.

Karena itu, saya akan bicara sebagai manusia saja. Sebagai manusia yang kebetulan lahir beragama Islam, dan yang kebetulan tempat lahir serta tumbuhnya di Indonesia. Di sekitaran Jakarta. Tentu saja, sebagai manusia yang penuh subjektivitas, tulisan dan pemikiran saya akan harus dimaklumi. Toh memiliki pemikiran yang berbeda merupakan sifat yang manusiawi, 'kan? Silakan, silakan katakan saya hanya berusahan menjustifikasi. Saya akan kembali pada argumen saya mengenai manusia.

Jadi, kenapa saya sebagai manusia berduka dan bingung saat bicara tentang Islam di Indonesia? Ah, ya, karena saya bernostalgia pada masa saya mengenal Pancasila. Kira-kira saat itu saya masih di sekolah dasar. Satu-satunya sila tentang Tuhan adalah "Berketuhanan yang maha esa." Kemudian, saya bernostalgia tentang masa saya mengenal undang-undang. Oh, ya, ada enam agama yang diakui. Salah satunya, ya, Islam itu. Lalu, karena saat itu saya bersekolah di sekolah Islam, pikiran saya turut bernostalgia tentang saat-saat indah saya belajar menghafal surat pendek. Surat Al-Kafirun. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Setelahnya, kenangan saya sepertinya dipercepat, dipercepat, dipercepat hingga yang saya ingat hanya bahwa saya berpegang pada tiga titik kejadian itu.

Kehidupan setelah itu sepertinya baik-baik saja. Karena bersekolah di sekolah menengah negeri, saya berkenalan dengan teman-teman yang menganut agama lain dari saya. Selama itu, tidak pernah sekalipun saya dengar orang tua saya berkomentar pedas, "Jangan berteman dengan orang beragama X, Y, Z, yang bukan Islam." Paling banter saya dilarang menjalin hubungan cinta dengan mereka karena toh pernikahan beda agama diharamkan di Islam. Tidak apa. Sungguh berbeda dari kenangan saya akan guru di sekolah dasar yang sempat berkata, "Jangan mendengarkan lagu barat. Haram! Soalnya mereka orang-orang Nasrani." Orang tua saya tertawa mendengar saya bercerita tentangnya. Jangan dengarkan dia, kata mereka. Tidak ada hubungannya antara lagu barat dan agama. Lagu ya lagu, agama ya agama. Ngomong-ngomong belakangan saya tahu bahwa ada juga kok orang Islam yang berbahasa barat. Ya mau bagaimana lagi? Islam pun asalnya bukan dari Indonesia.

Nah, mungkin sekarang kalian berpikir kenapa saya berputar-putar. Mungkin ada juga di antara kalian yang berpikir: "Argumen tentang lagu barat itu goblok. Ya jangan disamain dong lagu dan masalah kita sekarang!" Oh iya, sebelum kalian bertanya-tanya masalah apa yang sedang saya bahas sampai berduka begini sekarang, lebih baik saya bilang bahwa saya sedang menyinggung permasalahan atribut natal yang kebetulan saat ini lagi jadi topik panas. Padahal, mah, masalah toleransi Islam ada saja sepanjang tahun. Ya, jadi kalian bisa saja berpikir "Meski kami melarang atribut natal, kami tidak akan melarang berteman dengan orang beragama Kristen kok! Agama yang lain juga tidak!"

Begitulah. Sekarang kalian tahu kenapa saya berduka. Kurang jelas? Yah, karena sekarang tidak lagi terlihat bahwa pelarangan atribut natal itu memiliki wacana lain di baliknya. Terkadang kita lupa bahwa Islam pun memiliki hari raya besar. Idul Fitri. Lebaran. Saat itu, hiasan ketupat bergantungan di mana-mana. Lagu-lagu Islami diputar di pusat pertokoan. Tidak masalah. Baju Lebaran bertebaran; diskon, katanya. Pegawai pertokoan berkeliling lengkap dengan baju koko dan baju panjang. Bisa jadi sekarang akan ada yang berpikir, "Oh, ya iya lah! Kan Lebaranan." Ya, memang. Jadi, apa bedanya dong dengan diputarnya lagu natal saat menjelang natal? Hiasan natal dan pohon natal menyambut di lobi pertokoan saat bulan Desember? Pegawai pertokoan dengan topi sinterklas?

"Ya beda, mereka tidak memiliki toleransi terhadap yang beragama lain itu namanya!"

Saat begitu baru, deh, keluar pembicaraan tentang toleransi beragama. Padahal apalah bedanya dengan penganut Islam yang begitu hebohnya mau menandai Lebaran sudah dekat? Nah, kalau berani bicara begitu, akan dibilang anti-Islam. Double standard.

Bukan Islam yang salah, bukan Kristen yang salah. Bukan agamanya. Terkadang, dan saya harap hanya terkadang, penganutnya lupa. Merasa yang paling benar, merasa yang berhak didengar. Dan juga, terlalu fokus pada yang kasat mata. Akibatnya jadi tidak jauh berbeda dari argumen tentang lagu barat. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan menyuruh kami-kami yang manusia ini jadi anti terhadap satu sama lain yang berbeda. Kemudian, saya merasa ada tendensi penganut-penganut tertentu lupa bahwa menjadi mayoritas bukan berarti suaranya mutlak. Tentu saja, toh disebut mayoritas karena ada minoritas, 'kan? Yah, namanya manusia perlu diingatkan. Saya yakin siapapun yang telah berkenalan dengan Islam lebih baik daripada saya akan tahu bahwa tidaklah dibenarkan mayoritas menggilas yang minoritas. Memaksa. Membenci. Karena bukankah Islam agama yang penuh kasih sayang?

Sekali lagi, di sini saya bicara sebagai manusia saja. Terlalu riskan kalau bicara atas nama Islam, bahkan hanya dengan membawa-bawa namanya. Karena itu, saya harap pembaca dapat menempatkan diri sebagai manusia juga. Mungkin bisa menjadi manusia yang lebih beragama daripada saya, tetapi tetap manusia. Satu. Subjektif. Mohon jangan dibaca dengan pemikiran kolektif, karena apa yang saya katakan belum tentu benar sifatnya secara kolektif; begitu juga dengan yang kalian pikir. Kembali lagi, kebenaran sifatnya pribadi, kan? "Salah, kebenaran mutlak adalah milik Islam!" Nah, ini kalau diteruskan akan jadi terlalu panjang. Jadi, saya akan berhenti. Sebelumnya, izinkan saya bilang bahwa bagi saya yakin kebenaran mutlak adalah milik Islam - bagi saya. Dapatkah - dan perlukah - saya memaksa teman-teman saya yang berbeda untuk setuju? Tidakkah akan sama jadinya dengan memaksakan bahwa tulisan saya ini benar adanya pada kalian yang menolak percaya?