Yah, eniwei, paginya gue merasa jauh lebih fresh karena tidur tepat waktu. Ditambah lagi, udara dingin yang sangat berbeda dengan malamnya membuat dunia terasa lebih baik. Si biang ribut tidur menggigil di depan wisma, jadi agak kasian juga. Tadinya pengin bales berisik :3 tapi nggak jadi. Gue cuma bangunin dia dan Riki supaya pindah ke dalam. Habisnya, pagi itu memang beda banget suhunya dibanding malamnya.
Gue, Gevin, dan Ruth melihat pantai di depan wisma dari saat matahari belum muncul hingga ujung pantai bisa terlihat. Kami menemukan ranting yang agaknya cukup besar, jadi kami menulis-nulis di atas pantai. Sejujurnya, itu mimpi gue banget dari dulu pengin sok-sok romantis gitu nulis-nulis di atas pasir. :3
itu gue |
Kami berjalan ke arah dermaga lagi karena berharap bisa melihat matahari terbit dengan jelas (soalnya pagi itu agak mendung). Ujung-ujungnya matahari sudah terbit terlalu tinggi, jadi kami kelewatan momen melihatnya terbit. Tapi, kami disambut dengan ketenangan dan keindahan di dermaga :) Pantai dermaga begitu jernih sehingga kami bisa melihat dengan jelas biota bawah laut tanpa perlu snorkeling.
Gue merasa sangat damai karena bisa menjalani pagi dengan tenang, udara bersih, dan pemandangan bawah laut. Melihat air, ikan, dan benda-benda laut lainnya tidak akan pernah membosankan. Mungkin mengantuk sedikit, tapi gue rasa tidurpun gue akan merasa bahagia.
bersama Ruth |
bersama Gevin |
Kami harus pulang karena sudah waktunya sarapan. Yang lain, yang konon berencana juga untuk melihat matahari terbit, sudah menunggu kami untuk sarapan. ;) Gue berencana pamer apa-apa saja yang kami lihat, tapi Rendy yang sudah terbangun kembali mengomentari cara-cara gue bicara. Jadi, esensi pamernya gagal. :"
Lalu, kami snorkeling betulan! Kalau bisa ber"kyaa" dan "aaak" lagi ala ala konser, gue lakukan saat itu juga! Gue excited banget (lagi) sampai rasanya bahagia sampai ubun-ubun X3
Kali ini, kami dibawa sampai ke tengah laut, sampai bertemu spot di mana ikan-ikan cantik berenang. Di spot pertama, ikan-ikan cantik itu benar-benar ada! :D Good God! Gue membatin kepada Tuhan, "Tuhan, saya memang mencintai daratan dan mall-mall, tapi saya juga mencintai lautan dan kalau memang bisa jadi putri duyung, saya mau jadi putri duyung~" :3 Tuhan, saya cinta semua ciptaan-Mu.
Di spot kedua, gue lebih terkagum-kagum lagi karena di sana adalah sarangnya coral yang luar biasa mempesona. Ada coral yang sangat tipis dan melingkar seperti bunga mawar. Coral-coral itu membentuk semacam taman bunga super luas dan super cantik. :)
Ada kejadian yang cukup membuat jantung berhenti berdetak sepersekian detik di spot pertama, yaitu jatuhnya pipa snorkel gue ke dalam laut. Out of all things, why the pipe? :"( Pipa itu tidak bisa mengambang, dan telat sedikit saja Caca mengambilnya, mungkin gue akan harus mengganti satu set peralatan snorkel itu. Gue menyesali pemakaian pelampung, karena itu lagi-lagi membatasi pergerakan gue. Andai gue tidak menggunakan itu, gue bisa mengambil sendiri snorkel gue. Eniwei, terima kasih, Caca :)
Seorang teman, Fajar, awalnya tidak bisa berenang. Begitu juga Nilam dan Acit. Tapi, Fajar akhirnya bisa berenang setelah terbiasa di laut. Senangnyaaa :D
Setelah puas snorkeling (dan juga karena sudah mau hujan dan semakin banyak orang datang ke spot snorkeling kami), kami melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil yang setia menemani ke Pulau Semak Daun.
Pulau Semak Daun berukuran jauh lebih kecil dari Pulau Pramuka ataupun Pulau Tidung, tapi pantai pasirnya juga jauh lebih mengagumkan. Pasirnya bersih dari sampah maupun ranting, sehingga kami bisa menginjakkan kaki dengan bebas. Airnya pun sangat jernih dan berwarna kehijauan yang sangat cantik.
Gerimis kecil saat kami tiba di sana, jadi kami harus menunggu sebentar sebelum bisa main pasir. Gue merasa sedikit aneh, campuran antara senang dan sedih, mungkin terharu... yang jelas gue jadi merasa harus memisahkan diri. Gevin mengajak gue main pasir di bawah rintik hujan, jadi gue mengiyakan.
Karena hujan semakin deras, kami tetap harus berteduh. Namun, sementara yang lain menunggu redanya hujan di warung kecil di tengah pulau, gue dan Gevin menunggu hujan reda di bawah pepohonan di pantai. Ruth datang tidak lama kemudian, diikuti Rizky, kemudian kami membicarakan tentang hal-hal di malam sebelumnya.
Setelah hujan reda, kami menceburkan diri lagi ke pantai :)
ciwi-ciwi plus Komuk |
itu gue lagi |
Sekembalinya kami ke garis pantai, yang lain sedang mengubur Fajar yang berulang tahun pada tiga hari sebelumnya di dalam pasir. Gue tidak pernah mengubur orang dalam pasir, tapi selalu membayangkan bagaimana melakukannya. Ternyata sensasinya tidak seseru yang gue bayangkan, tapi tetap saja seru. Setelah Fajar, Kami mengubur Rizky yang akan berulang tahun keesokan harinya. :D
supposedly mermaid |
supposedly teddy bear |
Kami pulang setelah puas bersenang-senang di Pulau Semak Daun, juga karena semakin banyak orang datang. Pantai itu menjadi semakin mirip Ancol minus air kotornya.
Sebelum benar-benar pulang, kami mampir ke penangkaran hiu. Bagus sekali tempat itu untuk para hiu-hiu. Ikan-ikan yang ada di sana juga begitu besar sehingga membuat gue terkagum-kagum. Saat snorkeling, tidak ada ikan-ikan seukuran segitu. Gue tidak yakin harus bersyukur atau menyayangkan. Kalau ada ikan sebesar itu, mungkin gue akan takut juga terkagum-kagum. Yang jelas, gue penasaran.
hiu kecil |
Kak Macel dan Rendy |
kasihan si Bulu Babi |
Memang sih, bulu babi bisa dimakan... tapi menurut gue tidak seharusnya bulu babi itu disiksa di depan teman-temannya. Kumpulan bulu babi yang lain segera bersembunyi di bawah jembatan kayu, menjauh dari dua tongkat jahat yang membunuh temannya.
Dari semuanya, kejahatan yang paling tidak bisa gue terima adalah cowok-cowok itu membuang kembali cangkang bulu babi yang telah dipecahkan ke antara kumpulan bulu babi yang masih hidup. :(
Setelah adegan sadis itu, kami benar-benar pulang ke wisma.
Malam harinya, setelah makan malam, kami sedikit bosan karena tidak ada kegiatan apa-apa. Bahkan setelah main ramal-ramalan jodoh dengan Rizky, Ruth, Gevin, dan Acit, malam itu masih terasa panjang. Tapi, kemudian para cowok memutuskan untuk main kuda templok.
Kuda templok adalah semacam olahraga beresiko di mana cowok-cowok itu dibagi menjadi dua tim yang saling melompati satu sama lain. Seringkali disebut sebagai mainan SMA karena sebagian besar dari kami memainkannya saat SMA. Gue pun sebenarnya menikmati menonton permainan itu dari awal sampai akhir.
menonton kuda templok, berasa SMA |
1) Teriakan self-hypnosis Kak Macel: "Gue kuaaat!"
2) Seruan tidak bertenaga tapi efektif Komuk: "Mati lu, Cel~"
3) Lompatan-lompatan Rendy yang ala ala akrobatik
4) Ekspresi Fajar yang juara banget kayak udah lemes banget
5) Ucapan Dimas "Gue... Gue siap, gue." yang entah kenapa rasanya epik banget
Kemudian, setelah capek main kuda templok, kami keluar dan menyalakan kembang api. Sebenarnya kembang api itu (setahu gue) ditujukan untuk merayakan ulang tahun Rizky, tengah malam, saat pergantian ke hari terakhir. Hari itulah Rizky berulang tahun. Tapi entah bagaimana, jadinya kembang api dinyalakan sekitar pukul 21.00 WIB.
kembang api yang kami nyalakan sendiri! |
Sebuah berita yang mengkhawatirkan tentang gempa di Aceh datang dari Bonci yang bokapnya sedang bekerja di sana. Jadi, suasana agak sedikit kelam saat itu. Tapi, syukurlah bokap Bonci baik-baik saja :) Semoga situasi yang ada di Aceh akan segera membaik.
Semua tampaknya lelah malam itu, jadi tidurpun dilaksanakan lebih cepat. Paling tidak, gue, Gevin, dan Ruth memutuskan untuk mengabaikan semua bising di sekitar dan tidur duluan. Saat tengah malam gue terbangun, semua orang sudah terlelap dan lampu sudah dimatikan.
Sungguh hari yang sibuk dan malam yang menyenangkan!
[Disclaimer: semua foto adalah hasil jepretan Gevin]
No comments:
Post a Comment