Gue bisa melihat manfaat kereta khusus perempuan dengan sangat jelas.
- Kereta khusus perempuan melindungi perempuan dari pelecehan seksual yang dapat dilakukan oleh penumpang laki-laki. Banyak kasus sudah terjadi mengenai pelecehan seksual di kereta, bahkan seorang teman pernah mengalaminya sendiri. Jadi, saya melihat adanya kereta khusus perempuan sangat berguna.
- Dengan adanya kereta khusus perempuan, meski berdesak-desakkan di saat jam kerja adalah hal yang wajar, setidaknya kami bisa berdesak-desakkan dengan lebih nyaman karena tidak ada kontak fisik dengan laki-laki yang (kembali ke poin 1) dapat melakukan pelecehan seksual.
Awalnya, gue tidak mengerti kenapa teman gue bisa berpendapat seperti itu. Namun, kemarin adalah jawabannya.
Sekitar jam setengah lima sore, gue naik kereta menuju Bogor dari Stasiun Tanah Abang. Seperti biasanya kereta menuju Bogor di sore hari, kereta kali itu dibanjiri oleh manusia. Gue berdiri karena memang gue akan turun di Manggarai, dan karena tidak ada tempat duduk kosong.
Tidak lama setelah gue masuk, gue mendengar suara tangisan bayi. Seorang ibu sedang menggendong bayinya di tengah kerumunan orang di dalam gerbong. Gue tidak terlalu memusingkan itu karena, sejauh pengalaman gue di bis, akan ada orang yang memberikan tempat duduk.
Kemudian, kereta mulai berjalan.
Tangisan bayi masih belum berhenti, dan itu membuat gue kembali menoleh ke arah sang ibu. Dia masih berusaha mencari tempat yang paling nyaman untuk berdiri dan menenangkan bayinya. Pada waktu itu, si bayi sudah cukup lama menangis.
Bagian tempat ibu itu berdiri mulai riuh. Beberapa orang yang berdiri menyindir penumpang yang duduk tentang bagaimana mereka tidak mau memberikan tempat duduk untuk ibu itu. Beberapa yang lain menuding satpam tidak bekerja dengan baik dan mencarikan tempat untuk ibu itu. Gue bisa merasakan suasana menjadi agak sedikit tegang, apalagi ditambah suara tangisan bayi yang tidak kunjung berhenti.
Hal itu terjadi untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya seorang ibu yang berdiri di dekat gue menyuruh seorang penumpang di depannya untuk berdiri dan memberi tempat untuk ibu itu. Dia kemudian memanggil si ibu dan menunjukkan tempat duduknya.
Suasana mereda, tapi emosi gue sesaat jadi naik. Gue tidak habis pikir, bagaimana bisa kejadian seperti itu terjadi? Di bis, kejadian seperti itu tidak mungkin terjadi. Penumpang di bis punya sedikit moral dalam diri mereka.
Melihat kejadian seperti itu, gue jadi mempertanyakan moral penumpang kereta kemarin itu.
Hati nurani, sedikit pun, apa tidak punya?
Tidak adakah yang membayangkan berada dalam posisi si ibu? Atau si bayi?
Apa begitu merasa perlu diutamakan?
Gue jadi mengerti kenapa teman gue begitu menentang kereta khusus perempuan. Sudah tidak ada makna dari keberadaan kereta khusus perempuan jika semua penumpangnya merasa perlu diutamakan. Tidak ada lagi manfaatnya kalau tidak ada toleransi di antara mereka.
...dan orang bilang perempuan adalah makhluk yang penuh kasih sayang.
HUL. Coba lihat dulu kereta khusus perempuan saat jam kerja.
No comments:
Post a Comment