Mengejar bayangmu. Yang seharusnya tak perlu kulakukan, mengingat aku diberi satu tahun mulai duluan meski usia kita tak jauh berbeda. Kamu yang cantik, populer, pintar, selalu lebih disukai... ah, aku jadi klise. Tetapi toh memang kamu cantik. Siapa tak kenal kamu? Siapa tak suka kamu? Kamu pun pintar. Dilihat dari ranking, daridulu papa mama kita saling memamerkan rapot, kamu selalu meduduki peringkat pertama. Tak peduli meski papaku menolak mengakui, aku sadar kamu memang lebih pintar di sekolah. Soal kamu lebih disukai pun benar, walau sudah lama kuabaikan penilaian sepupu-sepupu kita yang lain. Toh aku memang dari keluarga yang berbeda; keluarga yang bermasalah di sini, kaku di sana, kurang kaya, tidak sama miskin. Jarak, jarak, jarak. Tidak masalah. Kutemukan keluargaku di luar. Keluarga pilihanku.
Aku kesal kamu harus terjun ke dunia kerja di saat yang nyaris bersamaan denganku. Kenapa, sih? Kenapa harus di waktu yang berdekatan begini? Lalu kamu dengan mudahnya mendapat pekerjaan impianmu. Pekerjaan yang memang bukan minatku, tetapi bergengsi. 'Kan, kedengarannya jadi seolah kamu orangnya sophisticated sekali. Citramu sudah bak perempuan modern. Terbayang olehku, dan aku yakin oleh siapapun yang mendengar nama pekerjaanmu, kamu dengan setelan blazer licin dan rok sepan selutut. Sharp sekali. Perempuan modern.
Pekerjaan itu bukan impianku. Dulu kukira begitu, tetapi kurasa lagi - ah, tidak. Dan aku ini orang yang sangat mengikuti perasaan. Mengikuti intuisi. Dulu kubilang aku tak akan mau jadi guru. Nyatanya? Profesiku sekarang adalah guru. Mulai bekerja Januari nanti. Aku tidak menyesal menjadi guru. Profesi itupun kupilih bukan karena aku tidak punya kesempatan lain; ditolak di mana-mana. Karena nyatanya tidak begitu. Tetapi kalau kemudian kita datang ke arisan keluarga, ke lebaran, orang akan bilang "Wah, hebat dia kerja di media X." Bukan guru. Kalaupun akan membahasku, orang akan bilang "Kamu kerja di tempat Tante Y sekarang? Enak dong, bareng Tante Y." Aku curiga ayahku pun minder aku jadi guru meski dikatakannya guru pekerjaan mulia dan keluarga ini banyak yang jadi guru.
Kamu 'kan, bayangku. Aku mataharimu. Aku duluan yang jalan, baru ada kamu. Kenapa, dong, kamu lebih bersinar daripada aku? Jangan-jangan, tanpa sadar aku sudah ganti jadi bayangmu. Hitam, gelap, hanya ada kalau kamu ada tetapi hanya sebagai penguat eksistensimu. Jelek, semakin aku mendengarkan ocehan yang lain.
Aku bahagia dengan pilihanku menjadi guru. Aku tidak cocok di tempat lain. Aku senang dengan kurikulum yang ditawarkan. Aku tahu ini tempat baik. Aku bisa berkembang di dalamnya. Lagipula, tidak ada yang bilang pekerjaan ini rendahan. Tidak ada juga yang bilang pekerjaanmu lebih bagus. Tetapi kenapa aku merasa begini? Minder. Lagi-lagi minder. Tidak sempat barang sedetikpun aku merasa apapun yang kuraih berharga di hadapanmu. Karena apalah aku, berjarak dari keluarga besarku. Mau aku kentut berlian juga apalah artinya.
Lihat.
Pikiranku yang menjadikanku bayangmu. Aku toh tidak harus hidup dengan mereka selamanya. Keluargaku yang benar adalah mereka yang kupilih. Ayah-ibuku baik padaku, adikku baik padaku. Selamanya hidup terasing dari keluarga besarku pun rasanya tidak apa. Toh seperti agama, aku terlahir sudah memiliki mereka. Bukan aku yang minta. Kalaupun mereka tidak suka ya tidak apa, kubebaskan mereka dari keharusan hidup bersamaku.
Biarkan aku hari ini mencaci. Mulai besok, aku akan berhenti menjadi bayangmu.
Ini puisi? Atau cerita pendek kak? Bagus isinya. Tapi aku agak nggak ngerti hehe. Btw, ini Alyssa
ReplyDelete