Dihadapkan dengan jalan yang terbentang di depan mata, saya takut. Bukan berarti saya punya pilihan lain. Waktu saya di tanah yang sedang saya jejak ini telah habis; saatnya berpindah tempat. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri, saya takut.
Takut apa sebenarnya? Mungkin saya takut berusaha kemudian gagal. Takut mencoba kemudian tidak cocok. Takut terjebak dalam ketidakberhasilan. Mungkin juga saya telah terlalu nyaman dengan tanah ini; yang sudah saya kenal baik tiap helai rumputnya, tiap hembusan anginnya, tekstur permukaannya. Saya mungkin takut akan menjejak di tanah baru yang mungkin akan menelan saya.
Padahal kalau dipikir-pikir, segala kemungkinan itu memiliki dua sisi. Bisa buruk, bisa juga baik. Dan selalu ada penyesuaian untuk yang pertama kalinya.
Jadi untuk apa saya gemetar, segan mengambil langkah menuju tanah baru? Buat apa saya tahankan kaki saya dari mencoba? Saya tidak akan mati karena mencoba. Sementara kalau saya tidak mencoba, selamanya saya akan hidup dalam tempurung. Pengecut yang tidak tahu-menahu selain gelapnya tempurung; berasumsi dunia sama gelapnya. Atau burung dalam sangkar yang dimanja; tidak paham enaknya terbang menantang angin karena keenakan diberi makan.
Saya tidak akan takut! Akan saya ambil langkah itu. Akan terluka jika harus terluka; terjatuh bila harus terjatuh, tetapi saya akan maju.
Tidak akan selamanya saya hidup begini saja!
No comments:
Post a Comment