Saya sedih. Sungguh. Bicara tentang Islam di Indonesia, sulit sekali untuk tidak berduka. Sulit sekali untuk tidak bingung.
Bukan kapabilitas saya untuk bicara tentang yang benar dan salah dalam Islam karena sekalipun saya menganutnya dari lahir, saya belum mempelajarinya dengan benar. Referring to my previous post about this, anyone can tell that Islam for me is a given. Karena itu, siapapun yang kebetulan telah lebih baik berkenalan dengan Islam kemudian kebetulan membaca tulisan saya ini bisa jadi akan mengerenyitkan dahi dan mencibir: "Kalau begitu, tidak usah bicara tentang Islam. Tulisan ini tidak akan valid. Tahu apa dia tentang yang dosa dan yang tidak?" Tidak apa, mungkin akan ada yang salah dalam tulisan saya.
Karena itu, saya akan bicara sebagai manusia saja. Sebagai manusia yang kebetulan lahir beragama Islam, dan yang kebetulan tempat lahir serta tumbuhnya di Indonesia. Di sekitaran Jakarta. Tentu saja, sebagai manusia yang penuh subjektivitas, tulisan dan pemikiran saya akan harus dimaklumi. Toh memiliki pemikiran yang berbeda merupakan sifat yang manusiawi, 'kan? Silakan, silakan katakan saya hanya berusahan menjustifikasi. Saya akan kembali pada argumen saya mengenai manusia.
Jadi, kenapa saya sebagai manusia berduka dan bingung saat bicara tentang Islam di Indonesia? Ah, ya, karena saya bernostalgia pada masa saya mengenal Pancasila. Kira-kira saat itu saya masih di sekolah dasar. Satu-satunya sila tentang Tuhan adalah "Berketuhanan yang maha esa." Kemudian, saya bernostalgia tentang masa saya mengenal undang-undang. Oh, ya, ada enam agama yang diakui. Salah satunya, ya, Islam itu. Lalu, karena saat itu saya bersekolah di sekolah Islam, pikiran saya turut bernostalgia tentang saat-saat indah saya belajar menghafal surat pendek. Surat Al-Kafirun. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Setelahnya, kenangan saya sepertinya dipercepat, dipercepat, dipercepat hingga yang saya ingat hanya bahwa saya berpegang pada tiga titik kejadian itu.
Kehidupan setelah itu sepertinya baik-baik saja. Karena bersekolah di sekolah menengah negeri, saya berkenalan dengan teman-teman yang menganut agama lain dari saya. Selama itu, tidak pernah sekalipun saya dengar orang tua saya berkomentar pedas, "Jangan berteman dengan orang beragama X, Y, Z, yang bukan Islam." Paling banter saya dilarang menjalin hubungan cinta dengan mereka karena toh pernikahan beda agama diharamkan di Islam. Tidak apa. Sungguh berbeda dari kenangan saya akan guru di sekolah dasar yang sempat berkata, "Jangan mendengarkan lagu barat. Haram! Soalnya mereka orang-orang Nasrani." Orang tua saya tertawa mendengar saya bercerita tentangnya. Jangan dengarkan dia, kata mereka. Tidak ada hubungannya antara lagu barat dan agama. Lagu ya lagu, agama ya agama. Ngomong-ngomong belakangan saya tahu bahwa ada juga kok orang Islam yang berbahasa barat. Ya mau bagaimana lagi? Islam pun asalnya bukan dari Indonesia.
Nah, mungkin sekarang kalian berpikir kenapa saya berputar-putar. Mungkin ada juga di antara kalian yang berpikir: "Argumen tentang lagu barat itu goblok. Ya jangan disamain dong lagu dan masalah kita sekarang!" Oh iya, sebelum kalian bertanya-tanya masalah apa yang sedang saya bahas sampai berduka begini sekarang, lebih baik saya bilang bahwa saya sedang menyinggung permasalahan atribut natal yang kebetulan saat ini lagi jadi topik panas. Padahal, mah, masalah toleransi Islam ada saja sepanjang tahun. Ya, jadi kalian bisa saja berpikir "Meski kami melarang atribut natal, kami tidak akan melarang berteman dengan orang beragama Kristen kok! Agama yang lain juga tidak!"
Begitulah. Sekarang kalian tahu kenapa saya berduka. Kurang jelas? Yah, karena sekarang tidak lagi terlihat bahwa pelarangan atribut natal itu memiliki wacana lain di baliknya. Terkadang kita lupa bahwa Islam pun memiliki hari raya besar. Idul Fitri. Lebaran. Saat itu, hiasan ketupat bergantungan di mana-mana. Lagu-lagu Islami diputar di pusat pertokoan. Tidak masalah. Baju Lebaran bertebaran; diskon, katanya. Pegawai pertokoan berkeliling lengkap dengan baju koko dan baju panjang. Bisa jadi sekarang akan ada yang berpikir, "Oh, ya iya lah! Kan Lebaranan." Ya, memang. Jadi, apa bedanya dong dengan diputarnya lagu natal saat menjelang natal? Hiasan natal dan pohon natal menyambut di lobi pertokoan saat bulan Desember? Pegawai pertokoan dengan topi sinterklas?
"Ya beda, mereka tidak memiliki toleransi terhadap yang beragama lain itu namanya!"
Saat begitu baru, deh, keluar pembicaraan tentang toleransi beragama. Padahal apalah bedanya dengan penganut Islam yang begitu hebohnya mau menandai Lebaran sudah dekat? Nah, kalau berani bicara begitu, akan dibilang anti-Islam. Double standard.
Bukan Islam yang salah, bukan Kristen yang salah. Bukan agamanya. Terkadang, dan saya harap hanya terkadang, penganutnya lupa. Merasa yang paling benar, merasa yang berhak didengar. Dan juga, terlalu fokus pada yang kasat mata. Akibatnya jadi tidak jauh berbeda dari argumen tentang lagu barat. Akhirnya, tidak ada bedanya dengan menyuruh kami-kami yang manusia ini jadi anti terhadap satu sama lain yang berbeda. Kemudian, saya merasa ada tendensi penganut-penganut tertentu lupa bahwa menjadi mayoritas bukan berarti suaranya mutlak. Tentu saja, toh disebut mayoritas karena ada minoritas, 'kan? Yah, namanya manusia perlu diingatkan. Saya yakin siapapun yang telah berkenalan dengan Islam lebih baik daripada saya akan tahu bahwa tidaklah dibenarkan mayoritas menggilas yang minoritas. Memaksa. Membenci. Karena bukankah Islam agama yang penuh kasih sayang?
Sekali lagi, di sini saya bicara sebagai manusia saja. Terlalu riskan kalau bicara atas nama Islam, bahkan hanya dengan membawa-bawa namanya. Karena itu, saya harap pembaca dapat menempatkan diri sebagai manusia juga. Mungkin bisa menjadi manusia yang lebih beragama daripada saya, tetapi tetap manusia. Satu. Subjektif. Mohon jangan dibaca dengan pemikiran kolektif, karena apa yang saya katakan belum tentu benar sifatnya secara kolektif; begitu juga dengan yang kalian pikir. Kembali lagi, kebenaran sifatnya pribadi, kan? "Salah, kebenaran mutlak adalah milik Islam!" Nah, ini kalau diteruskan akan jadi terlalu panjang. Jadi, saya akan berhenti. Sebelumnya, izinkan saya bilang bahwa bagi saya yakin kebenaran mutlak adalah milik Islam - bagi saya. Dapatkah - dan perlukah - saya memaksa teman-teman saya yang berbeda untuk setuju? Tidakkah akan sama jadinya dengan memaksakan bahwa tulisan saya ini benar adanya pada kalian yang menolak percaya?
No comments:
Post a Comment