"Oh, Sanders, aku menjadi Buddhis karena terjebak dari lahir. Tidak pernah aku mempertanyakan beda ini dan itu. Kenapa, misalnya, di tempat pemujaanku Buddha Shakyamuni bersanding dengan Dewi Kwan Im dan Khong Hoe Tjoe? Kenapa bukan dengan-- Khong Guan? Ampun, Tristan. Aku ini tidak tahu apa-apa." (Dee, 2002: 150)
Saya tahu. Judul yang saya pilih "Islamku", kenapa kutipannya berbunyi tentang Buddhisme? Ah, tetapi betapa kutipan ini menyuarakan isi hatiku!
Supernova: Akar. Bukan buku baru, tetapi saya adalah pembaca barunya. Sungguh senang saya menemukan perjalanan karakter Bodhi menggemakan dilema yang meresahkan saya. Salah satunya, ya, permasalahan agama ini.
Terlahir sebagai Islam. Menjalankan ritual sehari-hari juga berdasarkan ritual Islam, meski saya tidak bisa bilang ritual-ritual itu dilaksanakan dengan sempurna. Namun, seberapa Islam-kah Islamku? Apakah Islam yang Islami atau sebagai pelengkap kolom agama di KTP? Apa saya Islam karena orang tua saya Islam?
Seberapa tebal iman saya terhadap entitas yang disebut Allah, Nabi Muhammad SAW, Al-Qur'an, dan sisa daftar rukun iman?
Berimankah saya atau hanya sekadar menghafal rukun iman?
Terus seperti itu, hingga akhirnya berujung pada pertanyaan: seperti apa Islamku? Dulu pernah ada masanya saya menikmati Kisah 25 Nabi, meresapi setiap katanya, menganggapnya indah. Entah indahnya apa dan di mana, yang jelas hati saya tenang pada masa itu. Mungkin karena saya masih kecil, tidak banyak berpikir.
Lalu saya tumbuh. Sempat menganggap sholat merepotkan; mengganggu hiburan duniaku. Terlebih lagi, sholat menjadi kewajiban yang tidak ada bedanya dengan sekolah. Tidak ada yang suka hal yang wajib. Orang tua saya bawel menyuruh sholat. Saya juga sempat meninggalkan mengaji karena saya takut dengan ujian hafalan yang kalau gagal hukumannya adalah malu. Rasa malu terlalu berat untuk saya tanggung.
Tetapi kadang saya temukan juga Tuhan kalau hati saya sedang nyambung dengan sholatnya. Kemudian sholat menjadi hal yang sangat pribadi bagi saya. Koneksi telepon saya dengan Tuhan yang kalau ada orang lain tidak akan nyambung. Yang kalau tempatnya salah tidak akan terhubung. Yang kalau bukan karena keinginan sendiri tidaklah afdol. Salahkah? Hal yang sama terjadi dengan mengaji. Salahkah? Tentu salah, kalau berkiblat pada aturan ritual-ritual Islam. Sholat ya ada waktu-waktunya yang sudah ditentukan. Bukan suka-suka sendiri. Mengaji pun makin banyak makin baik. Lebih baik lagi rutin. Tidak apa-apa tidak mengerti artinya, yang penting mengaji saja dulu. Allah akan menghitung pahala kita.
Pahalakah yang saya kejar? Saya tidak tahu. Seperti halnya kehidupan, terkadang orang berpatok pada gaji. Pahala itu gaji ritual-ritual Islami. Tetapi seperti halnya saya menjalani hidup, saya lebih mengejar kepuasan spiritual. Kebahagiaan. Jadi saya lebih mengejar mengerjakan ritual-ritual itu untuk memuaskan batin saya, yang tidak selalu cocok waktunya dengan waktu-waktu yang sudah ditentukan. Salahkah saya? Saya tidak tahu. Mungkin demikian. Saya mungkin telah menuhankan batin saya sendiri.
Atau mungkin Tuhan menuntun saya dengan cara-Nya sendiri. Membisikkan pada saya letak diri-Nya agar dapat saya temui. Siapa yang tahu? Toh saya tidak merasa saya Islam KTP. Meski demikian jarangnya saya sholat dan mengaji, saya tidak merasa saya Islam KTP. Saya imani bahwa Islam dapat membawa saya ke masa-masa indah Kisah 25 Nabi. Ke masa-masa sarat kebaikan hati. Tetapi sekarang ini mungkin caranya untuk saya tidak dengan menggembar-gemborkan keislaman saya. Tidak juga dengan rutinitas ritual.
Karenanya, saya ingin sekali belajar. Berkenalan dengan Islam, dan bukan hanya tentang baik-buruk, pahala-dosa, hitam-putih Islam, melainkan juga tentang habluminallah-nya. Hubungan manusia dengan Allah. Lalu habluminannaas. Hubungan manusia dengan sesama manusia. Sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di Indonesia yang penuh dengan amarah Islam sebagai agama mayoritas.
Saya ingin belajar Islam layaknya seorang mualaf. Atau mungkin saya memang mualaf di hati?
Saya tidak tahu.
Daftar Pustaka:
Dee. 2002. Supernova: Akar. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
No comments:
Post a Comment